Jihad Menuntut Ilmu: Menepis Jarak, Memeluk Takdir

Kita hidup di dunia yang penuh dengan ujian, lantas apakah setiap ujian kita bisa menerimanya dengan ikhlas dan tulus? Jujur, awal–awal menghadapi ujian itu rasanya susah banget untuk mengikhlaskannya. Manusiawi kalau ingin semua kemauan kita berjalan sesuai harapan. Tapi dari pengalaman kemarin, aku sadar kalau bagian paling menantang dari ujian hidup bukan saat menghadapinya, melainkan saat kita dipaksa untuk belajar melepas sesuatu.

Pengalaman itu aku rasakan sendiri ketika mendaftar kuliah. Sejak lama, aku bercita–cita masuk ke kampus impianku, tempat di mana pamanku dulu berkuliah. Alasan utamanya karena di sana dekat dengan rumah om, jadi setidaknya ada keluarga yang bisa memantau dan membantuku. Namun, takdir berkata lain. Pihak sekolah, melalui guru BK dan Kepsek, mendaftarkanku ke jalur SPAN-PTKIN di sebuah UIN (Universitas Islam Negeri) pilihan mereka bersama salah satu temanku. Di luar dugaan, ketika pengumuman keluar, aku dan temanku dinyatakan lolos di UIN tersebut.

Jujur, rasanya sangat berat dan campur aduk. Kampus UIN ini letaknya sangat jauh dan aku tidak punya saudara sama sekali di sana. Di sisi lain, kondisi finansial keluargaku tergolong sederhana, sehingga sanak saudara pun mulai bertanya-tanya, “kenapa tidak mengambil kampus yang dekat saja?”  Pertanyaan-pertanyaan itu sempat membuat hatiku goyah dan sedih. Di satu sisi, aku terjebak dalam dilema yang besar. Pilihan ini bukan lagi sekadar tentang egoku, melainkan ada tanggung jawab moral terhadap sekolah. Aku tahu, jika kesempatan emas dari jalur SPAN-PTKIN ini aku lepas begitu saja ada resiko besar nama sekolahku akan di blacklist oleh pihak kampus, sehingga aku tidak ingin menutup jalan bagi adik-adik kelasku di masa depan hanya karena keraguanku. 

Namun, di tengah kebingungan itu, aku melihat wajah kedua orang tuaku. Aku memutuskan untuk menguatkan hati mereka dan meyakinkan bahwa Allah pasti akan menjamin rezeki bagi hamba-Nya yang sedang berjihad menuntut ilmu. Aku meyakinkan beliau bahwa keputusanku untuk melangkah ke kampus ini bukanlah karena FOMO (takut ketinggalan tren) dengan teman-teman lain. Aku mengingatkan ibu tentang impian lama yang pernah aku bisikkan padanya dulu; bahwa sejak kecil, cita-citaku setelah lulus ingin sekali mencicipi bangku kuliah demi mengubah nasib.

Percakapan malam itu menjadi saksi bagaimana sebuah impian masa kecil harus beradaptasi dengan realitas yang ada. Aku tahu kampus UIN pilihan sekolah ini memiliki biaya kuliah yang lebih terjangkau, dan menolaknya hanya akan membuat orang tuaku cemas menghadapi ujian masuk kampus lain yang belum pasti. Dengan menerima jalur ini, setidaknya aku bisa meringankan beban pikiran mereka dan langsung fokus berjuang mencari beasiswa di sana karena aku sadar, ridho Allah terletak pada ridha orang tua.

Kini, setelah menjalani perkuliahan hingga semester dua, aku menyadari bahwa keputusan melepas impian masa lalu itu justru membawa keberkahan luar biasa. Allah langsung menjawab keyakinanku secara tunai. Di kampus pilihan sekolah ini, aku ternyata diterima di jurusan Tadris Matematika, sebagian besar pasti bertanya “kenapa mengambil jurusan matematika?” karena matematika adalah jurusan yang sangat aku impikan sejak SMP selain itu, aku sangat menyukai dunia angka. Tidak hanya itu, pada semester satu kemarin, jalanku kembali dimudahkan ketika aku dinyatakan lolos mendapat beasiswa KIP-Kuliah. 

Beasiswa ini sangat membantuku untuk perjalanan menuntut ilmu. Tentu saja, awal mula menginjakkan kaki di tanah rantau tidak langsung berjalan mulus. Sebagai anak daerah Jawa Barat yang pertama kali keluar dari zona nyaman, aku dihadapkan pada benturan realitas yang cukup mengejutkan. Perbedaan budaya yang sangat kental, logat bahasa sehari-hari yang asing di telinga, hingga kebiasaan masyarakat sekitar yang berbeda membuatku merasa asing.

Ada masa-masa rindu rumah terasa begitu mencekam di tengah ketidakpastian adaptasi ini. Namun, perlahan-lahan aku memilih untuk membuka mata dan hati. Alih-alih menarik diri untuk mulai memahami, mengamati, dan menghargai sikap perbedaan tersebut. Proses ini menjadi petualangan baru yang sangat mendewasakan, di mana setiap sudut perantauan memberikan perjalanan hidup yang tidak akan pernah aku dapatkan jika aku tetap memilih tinggal di rumah.

Pada akhirnya, aku belajar untuk melepas impian S1-ku dengan sebuah doa yang tak pernah berujung sia-sia. Aku tidak pergi dengan rasa dendam atau kecewa kepada keadaan, melainkan dengan rasa syukur yang penuh. Menepis jarak dan memeluk takdir dengan doa membuat langkah kakiku terasa jauh lebih ringan, karena rencana Allah lebih baik dari rencana hamba-Nya. Di atas sajadah, aku titipkan impian yang tertunda itu kepada Tuhan. Aku berdoa, jika memang jalanku di UIN ini membawa keberkahan dan jika aku masih diberikan umur yang panjang, kelak aku akan mengejar gelar S2 di kampus impianku yang dekat dengan saudara itu, sembari fokus memberikan yang terbaik di jurusan matematika di kampus pilihan Tuhan saat ini.

Hal ini menunjukkan bahwa apa yang kita harapkan pasti tidak selalu sejalan dengan ketetapan Allah. Namun di balik setiap skenario-Nya, selalu tersimpan hikmah yang mendalam bagi kehidupan kita. ketika kenyataan tak lagi selaras dengan ekspektasi, keikhlasan adalah jalan terbaik untuk menepis jarak antara keinginan dan kenyataan. Melepaskan impian tersebut lewat untaian doa menjadi bentuk penyerahan dari yang utuh, sebab Allah pasti membukakan jalan terbaik bagi hamba-Nya yang berjiwa ikhlas, rendah hati dalam memeluk takdir-Nya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top