Polsek Jombor: Saksi Perjuangan Orang Tua Mengantar Anaknya Kuliah di Yogyakarta

Tepat tanggal 28 Agustus 2024, satu tahun yang lalu, saya resmi meninggalkan Kota Purwokerto sementara untuk melanjutkan studi S2 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Hari itu menjadi momen bersejarah, di mana hari pertama saya menapaki perjalanan baru, sekaligus hari yang akan selalu saya kenang karena tingkah lucu saya dan orang tua selama perjalanan.

Pagi itu, setelah salat Subuh, kami bertiga bersiap. Saya naik motor sendirian, sedangkan ayah dan ibu berboncengan di belakang, mengikuti arah yang saya tunjukkan melalui Google Maps di ponsel.

Tepat pukul 05.30 WIB, kami berangkat dari rumah dengan semangat penuh. Saya merasa seperti pemimpin rombongan tur keluarga kecil, saya di depan sebagai penunjuk jalan, mereka di belakang sebagai pendukung setia.

Perjalanan Purwokerto–Yogyakarta memakan waktu sekitar lima jam. Kami sempat berhenti sebentar untuk sarapan dan istirahat, lalu kembali untuk melanjutkan perjalanan. Tepat pukul 10.30 WIB, Alhamdulillah kami sampai di wilayah Jogja. Seperti biasa, siang itu jalanan Jogja macet luar biasa. Lalu lintas padat, motor dan mobil saling berebut ruang di jalanan yang panasnya menyengat.

Saya tetap fokus menatap Maps, memberi tanda tangan ke belakang agar orang tua selalu mengikuti. Namun, ketika saya melirik ke spion, jantung saya langsung berdetak kencang, karena motor orang tua saya tidak kelihatan! Saya melambatkan motor, berhenti di pinggir jalan, dan menoleh ke segala arah. Lah kok tidak ada! Kosong!

“Waduh, ndi iki wong tuaku? Mosok wis ilang?” Dengan nada panik.

Saya coba menelpon nomor ayah, tetapi tidak ada jawaban. Saya juga menelpon nomor ibu, sama saja tidak aktif. Pikiran saya mulai ke mana-mana, dengan berbicara sendiri “Jangan-jangan mereka berhenti membeli sesuatu, atau salah jalan, atau malah terselip di kerumunan kendaraan? Entahlah….”

“Piye iki… mosok wong tuaku ilang neng Jogja?” rasa cemas makin menjadi.

Sekitar dua puluh menit saya menunggu dengan hati gelisah. Hingga akhirnya, ponsel saya berdering dari nomor tak dikenal. Dengan cepat saya angkat, ternyata seorang polisi.

“Selamat siang, dek. Apakah Anda bernama FF, anak dari ibu S…?” tanya pak polisi sambil menyebut nama lengkap ibu saya.

Saya langsung menghela napas lega, dan menjawab “Nggih, pak. Betul, saya anaknya.”

Polisi itu lalu menjelaskan bahwa orang tua saya sedang berada di Polsek Jombor, Sleman. Mereka berhenti di sana karena kehilangan jejak saya dan tidak bisa melanjutkan perjalanan. Mereka kebingungan menggunakan Maps, sehingga memilih jalan paling aman: mencari kantor polisi terdekat.

“Orang tua mungkin tidak tahu arah jalan di kota besar, tapi mereka selalu tahu arah terbaik untuk masa depan anaknya.”

Seketika hati saya campur aduk antara lega, kaget, dan malu. Lega karena mereka aman, kaget karena tiba-tiba polisi yang menelpon, dan malu karena sempat “meninggalkan” orang tua sendiri di kota besar.

“Mas, kok bisa orang tua ditinggal? Ingat, ini di Yogyakarta lho, kota besar. Kalau sampai benar-benar hilang, siapa yang repot?” nada polisi itu agak tegas, seperti sedang menegur anak kecil.

Saya hanya bisa nyengir bersalah di telepon, “Nggih, pak. Maaf, pak. Saya segera ke sana.”

Tanpa pikir panjang, saya putar balik motor menuju Polsek Jombor. Tidak butuh waktu lama, saya sudah sampai di halaman kantor polisi. Dan… di sanalah pemandangan yang membuat saya terharu, bahwa ayah dan ibu duduk di depan Polsek, wajahnya setengah lelah, setengah kesal, tapi juga lega ketika melihat saya datang dan bertemu kembali.

“Lah, bisa-bisanya mamake Ayahe nang Polsek?” saya pun langsung mendekati mereka sambil setengah tertawa.

Ibu langsung merespon saya, “Lah wong ditinggal awakmu. Nek ora pinter-pinter golek Polsek, mesthi saiki wis muter-muter ora karuan.” Ayah pun menambahkan dengan wajah setengah kesal, dan setengah tertawa, “Kowe kui, mosok ninggal wong tuamu neng kota sing gede ngene.”

Kami akhirnya tertawa bersama. Polisi yang tadi menelpon pun ikut keluar, memberi wejangan kepada saya. “Alhamdulillah ketemu lagi. Tapi lain kali jangan sampai orang tua ditinggal, ya, Mas. Ingat, tugas anak bukan hanya sekolah, tapi juga menjaga mereka.”

“Di balik setiap gelar anak, ada peluh dan langkah terseok orang tua yang tak pernah lelah untuk berjuang.”

Saya mengangguk dalam-dalam, sambil menjawab wejangan pak polisi “Nggih, Pak. Matur nuwun sanget.”

Setelah beristirahat sebentar, kami melanjutkan perjalanan menuju kost di Gatotkaca Krajan. Perjalanan dari Polsek ke kost hanya sekitar 30 menit, tetapi rasanya seperti perjalanan paling bermakna sepanjang hari itu. Saya berkendara pelan, memastikan orang tua tetap mengikuti di belakang tanpa hilang dari pandangan.

Sesampainya di kost, kami bertiga langsung tersenyum lega. Kurang lebih lima jam perjalanan penuh drama akhirnya terlewati dengan selamat. Saya bersyukur, meskipun ada kejadian kocak yang tak terduga, semua itu menjadi kenangan yang paling berharga.

Peristiwa berpisah di jalanan Jogja dan bertemu di Polsek Jombor itu mungkin terdengar lucu bagi orang lain. Namun bagi saya, ada pelajaran besar di baliknya, bahwa betapa besar perjuangan orang tua untuk anaknya. Mereka rela menempuh perjalanan jauh, panas-panasan di jalan, bahkan berurusan dengan polisi, demi memastikan saya bisa menuntut ilmu dengan tenang di kota orang.

Seorang anak bisa saja merasa sudah mandiri, merasa mampu berjalan sendiri. Tetapi, sejauh apapun kita melangkah, perjuangan orang tua selalu hadir, sering kali dalam bentuk yang sederhana namun penuh makna.

Malam itu, sebelum tidur di kamar kost yang masih asing, saya berjanji dalam hati: tidak akan pernah lagi “meninggalkan” orang tua, baik di jalan raya maupun dalam hidup. Karena tanpa mereka, mungkin saya akan benar-benar tersesat, bukan hanya di jalan Jogja, tapi juga dalam perjalanan hidup ini.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top