
Berpamitan
Para tetua pernah berbisik:
jalan kecil samping kebun teh
yang dijanjikan beraspal itu,
susurilah saat malam terang.
Di sana kelak kau temui,
para pemusik berdendang riang,
dug tak dug tak rebana mereka.
Hanya kisah usang orang tua
yang hidup dalam semilir angin,
tak tercetak di surat mana pun,
apalagi terpahat di batu.
Namun kakek tetangga bersumpah,
ia percaya betul dongeng itu.
Ingin sekali ia pergi ke sana,
bertemu pemusik dan ikut bernyanyi.
Sayangnya hingga musim berganti,
kakek tak kunjung memenuhi impian.
Ia bawa mimpi itu ke tidur panjang,
sambil memeluk foto pernikahannya.
Malam datang saat purnama penuh,
kebun teh kini panggung bertirai emas.
Sinarnya menari di helai-helai daun,
menuntunku sendirian di jalan tanah merah.
Aku jatuh, terbawa lamunan.
Kebun berubah labirin tanpa ujung.
Gelisah mencengkeram, dada jadi sesak.
Pandangku perlahan gelap.
Saat mata hampir terpejam rapat,
samar kudengar dari kejauhan:
dug tak dug tak…dang dung ting tang…
semakin dekat, dan semakin dekat.
Kuikuti alunan lembut itu
dan lorong kesesatan pun terbuka.
Mataku terbelalak menyaksikan
para pemusik melantunkan kidung suci.
Merdunya suara mereka, icik-icik dan seruling
bergandengan dengan gendang malam.
Belum lama aku larut dalam puji-pujian itu,
jantungku nyaris berhenti…
ketika kulihat wajah salah seorang di antara mereka,
senyum yang sama seperti di foto pernikahan lama.
Suaraku hilang, tak mampu keluar.
Mereka terus berjalan, memutar rebana.
Wajah bahagia memancar begitu terang.
Lalu satu per satu
tubuh mereka lenyap,
ditelan cahaya bulan.
***
Sebuah Renungan
Saat dunia terlelap dan suara meredup,
kurapatkan pintu menuju sunyi.
Tak ada yang lebih jujur dari kamar sempit ini.
Saksiku berlutut, terkulai pada suatu malam.
Ingin kusampaikan bahwa sungguh aku tak keberatan.
Biarlah jalan curam dengan lubang-lubang yang dalam
mengantarku jauh ke tempat tujuan.
Tempat kutemukan jawaban dari teduhku tiap pagi.
Namun di tengah langkah, mulailah kusadari.
Sendi-sendi tubuhku terkikis perjalanan.
Badai datang menghalau seutas rencana.
Menyisakan diri tergeletak, tertipu megahnya harap.
Maka kurangkai puji-pujian sepanjang sungai.
Kulontar kata dari ribuan bahasa agar langit terbuka.
Hanya tuk dapati Ia tak menakar panjangnya suara.
Ia paham lebih dulu saat doa masih di jurang hati.
Kini aku kembali menemui sepi.
Di kamar sempit kubiarkan detak yang berbicara.
Di balik pintu rapat kujumpai langit tak terlihat.
Di ruang tersembunyi ini Ia menjawab,
waktu-Nya selalu tepat,
kadang tak terjangkau akal.
***
Gadis di Balik Pagar
Pikiranku melayang jauh, menembus lapis awan.
Buku di pangkuanku tak lagi berdesir lembut.
Jariku tertahan di celah lembaran yang kaku.
Cakrawala keemasan menahan napas jiwaku.
Teringat kembali ke masa lugu yang rapuh.
Sosokku berdiri membatu, terbalut seragam putih abu.
Bersembunyi di balik pagar yang menjulang tinggi.
Hanya ada angin yang diam-diam mengawasi isi hati.
Menyusuri kenangan dua puluh tahun lalu.
Segala rindu dan tanya hanya sampai di bibir.
Ingin kuucap “hati-hati di jalan” dengan nada lirih.
Namun suaraku lenyap ditelan dingin besi pagar.
Diriku kini hanya mampu tersenyum malu.
Mengulang memori lama yang begitu naif.
Bus melaju membawaku ke tempat nostalgia itu,
dan waktu seakan ikut turun bersamaku.
Aku datang dengan dada penuh haru.
Tak ada yang berubah dari tempat masa kecilku.
Angin yang sama seolah masih mengingat namaku.
Jalan kecil ini memutar rekaman langkah raguku.
Tibalah aku di sudut penuh kebimbangan itu.
Kilat-kilat cahaya sejenak mengguncang akalku.
Seketika dadaku terjerat rasa tanpa ampun,
saat kulihat pagar yang menjulang tinggi itu.
Seorang gadis berdiri di sana…
Bersembunyi di balik celah-celah pagar…
Diam membatu dalam seragam putih abunya…
Semakin lama aku menatapnya, semakin tak bergerak dirinya.
Detik-detik berlalu, detakku nyaris berhenti,
ketika angin kembali menyebut namaku
dari balik pagar itu.
***
Diburu Waktu
Ke mana lagi harus kutimbun duka ini
bila bukan pada keheningan panjang
yang siap menelan tanpa bertanya.
Ke mana lagi harus kulepaskan lelah ini
jika bukan pada tubuh-tubuh beton
yang tegak tanpa peduli,
menyaksikan retakku perlahan.
Aku tak lagi mencari jawaban
atas pertanyaan yang kian membiak.
Dunia menuntut adaptasi,
mendesiskan semangat yang hampa
kepada wajah-wajah yang terperangkap
di balik dinding yang terlalu tinggi
untuk sekadar disentuh,
kepada mereka yang mungkin tak kenal
hangatnya cahaya pagi.
Waktu selalu mengejarku,
dan aku menjalani hari,
tanpa benar-benar hidup.
***
Bonniela lahir di Palembang, 1997. Sejak kecil menyukai puisi, cerpen, kliping, dan kolase. Instagram: @archiveoftheundone.




