
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 12)
// Kau menyapu lantai / dengan gerak yang nyaris seperti ibadah, / dan aku menatap punggungmu / seperti membaca surah / yang tak ingin kuselesaikan. //

// Kau menyapu lantai / dengan gerak yang nyaris seperti ibadah, / dan aku menatap punggungmu / seperti membaca surah / yang tak ingin kuselesaikan. //

// Di mataku sudah kulihat fajar itu / Kabut pagi yang memeluk erat, bukan menusuk / Kubaca masa depan yang tertulis di lipatan kertas kusut / Bukan takdir, tapi peta yang kugores sendiri //

// Dan setiap kali aku sembuh, / bukan dari obat, / melainkan dari keyakinan / bahwa cintamu / tak pernah meminta upah / kecuali hidupku / yang kembali pelan-pelan / menyebut namamu / dalam sujud yang sunyi. //

Kicauan memecah sunyi
Merdu dari sana, kagum dari sini
kulihat hamparan karpet hijau maknawi
Luas terbentang gagah sang negeri.

// Aku lelah, / bukan karena beratnya dunia, / tapi karena cinta / yang tak sempat kutuliskan / di kening pagi. //

// Dia mendengarkan / gemuruh di dada / meredakannya penuh sayang; / mengobati yang meradang; / memberkahiku tenang //

// Sayang, / esok bukan hanya waktu, / ia adalah gaun baru / yang ingin kau kenakan / dengan hati yang wangi. //

// Tawamu itu sumbang, kawan. / Seperti lonceng retak yang dipukul pakai palu. / Semakin keras bunyinya, / semakin orang tahu ada yang pecah di dalam dadamu. //

// Pagi ini, aku duduk sendiri / dengan segelas teh tanpa gula, / seperti hatiku / yang kau tinggalkan / tanpa pelukan, / tanpa alasan. //

// Sebuah bunga / kurawat dengan catatan takdir / sebab kehidupannya kusiram / dari air mata. //