
Air Mata Jalanan dan Puisi Lainnya
// Dia yang tak berakal kehilangan rumahnya. / Namun, mereka yang mengaku berakal duduk di kursi yang tetap tegak, / bak tiada kaki yang rusak. //

// Dia yang tak berakal kehilangan rumahnya. / Namun, mereka yang mengaku berakal duduk di kursi yang tetap tegak, / bak tiada kaki yang rusak. //

// Sesekali aku tersandung, / lidahku terpeleset kata / namun tak henti pula dadaku bergumam //

// Udara menyeruak di dalam dada / Mengapa rasanya sesak? //

// Di atas meja kayu yang mulai lusuh / tergeletak selembar kertas bertekstur halus, / tulisan tanganku mengalir pelan / bukan karena angin kemarau, / melainkan bayangmu / yang menetap dalam lipatan hari-hari diam. //

Kopi Ketenangan Di ufuk barat, sang surya telah pamit pergiMenggantungkan senyum terakhir di cakrawala sunyiGelap merangkak perlahan, membungkus bumiKerlip bintang menari menemani rembulan berseri Malam pun tiba, dengan sunyi yang dalamAlam yang rumit kini dalam keheninganDi sudut malam di bawah naungan temaramSeorang remaja duduk merenung dalam kesunyian Di tangannya secangkir kopi hitam mengepulkan uapAromanya semerbak memenuhi ruangan sepiBagaikan harum bunga di taman yang senyapMembawa damai membawa ketenangan hati Setiap tegukan adalah pelukan hangatMengusir resah, menjauhkan segala penatKopi itu layaknya tamu agung yang terhormatYang datang membawa kebahagiaan yang melekat Purbalingga, 03

// Rumah lanting berpintu kayu kesederhanaan / Atap berwarna-warni menyusun pelangi //

// Seandainya Tuhan berada di hadapanku / akan kubacakan puisi yang memuja seluruh / kesempurnaanmu. //

// Biarkan strip kecil itu memudar nanti, / asalkan kenangan kita tetap berani berdiri. //

// Rumah kini tertelan alam / tidak ada keluarga atau kampung halaman. //

// Kini waktu memulihkan kita; / retak menjadi bisu, bisu menjadi pelukan. //