
Rintik Hujan di atas Buku Harian
// Ia terbuka sejak anak sulung pergi / membawa separuh rahim ibunya, / sejak bapak menatap kalender / tanpa bisa mencoret tanggal kepulangan. //

// Ia terbuka sejak anak sulung pergi / membawa separuh rahim ibunya, / sejak bapak menatap kalender / tanpa bisa mencoret tanggal kepulangan. //

// anjing menggonggong / hidup dan mati, apakah kosong? //

Banjir tiba, hewan mati perlahan tanpa sisa,
mrendam rumah, dan manusia tertawa

// Awal yang sederhana, tak kusangka sulit melupakannya / Nantikanmu di halte selanjutnya //

// Pagi berdiam di balik jendela, / heningnya menyapu sisa gelisah semalam. //

// Katanya, negeri ini memiliki demokrasi / Kenapa suara rakyat tak didengar sama sekali //

// Cairan kental merah itu berbondong-bondong keluar / Mungkinkah selama ini mereka terperangkap di dalam sana //

// Bukan gadis muda pemain sampur / Tapi lelaki kekar kumis tipis yang berpoles dan bersanggul //

// Siang hari, evaporasi tak terelakkan, / Air dari danau, daun, dan jalanan aspal. //

// Kita seamin namun tak seiman, / berbeda tapi berujar pada kata akhir yang sama. //