
Petang di Batas Desa dan Puisi Lainnya
// ketika kau pergi, langit makin kering. / angin tak datang, yang biasa / lewati pucuk pohon randu / di simpang jalan, menuju rumahku. //

// ketika kau pergi, langit makin kering. / angin tak datang, yang biasa / lewati pucuk pohon randu / di simpang jalan, menuju rumahku. //

// Aku menyebut nama-Mu / dengan bibir yang masih basah / oleh sisa keluh dan luka. //

// Sepotong doa / yang belum sempat di-aminkan / meringkuk / kikuk / dalam ceruk //

// Tubuh lunglai terbaring / Kepala telah melepas pening / Semak pahala telah menguning / Sumur rezeki telah mengering //

// Ruang tunggu ini seperti dada perempuan / yang memeluk luka / tanpa pernah bertanya / kenapa ia selalu datang. //

// Tubuhku dulu adalah janji, / setiap sendi berbisik lembut / pada malam yang tak pernah lelah / menunggu datangnya pagi. //

// Pagi menyapa / lewat garis cahaya yang retak di dinding, / tirai menunduk pelan / seperti istri yang khusyuk / menggulung rindu ke dalam sajadahnya. //

// Lalu ia menyiapkan / air hangat dan senyum, / seolah dunia / masih bisa dimulai ulang / dengan secangkir kesetiaan. //

// Tubuhku kini adalah kitab / yang perlahan kubuka dalam senyap: / halaman-halaman bertulis darah dan doa, //

kesetiaan pohon-pohon asam sepanjang jalan / keringkan dirinya, daun-daunnya menguning, / ranting juga dahannya melapuk menadah perubahan