
Lagu Cinta di Tepi Sarangan dan Puisi Lainnya
Dan ia menjawab lirih: / “Cinta bukan datang dari mata, / tetapi dari napas yang mengenal arah pulang.”

Dan ia menjawab lirih: / “Cinta bukan datang dari mata, / tetapi dari napas yang mengenal arah pulang.”

Langit mendung / Bintang sedang bingung. / Apalagi, penyair yang sedang butuh uang. / Pasti tambah bingung.

Bukan kerak telor ataupun sepucuk gulali / Nasib memaksa untuk sekadar gigit jari / Tapi banyak pula yang pikir keri / Toh perkara hati, katanya bisa nanti-nanti

Mimpi-mimpi berlayar lambat /
Dan muram berlabuh tak pernah kekal /
Menunggu jemputan kereta di ujung Stasiun Purwosari /
Larik-larik tak ber-irama segera dinantikan

desaku sore ini /
dipeluk dingin /
lengan-lengan kabut /
perlahan lembut /
dari punggung waktu

Bis-bis besar hanya mementingkan tujuan / bukan menkikmati proses / wisata kota menuju wisata pantai / warung-warung kecil / di jalur wisata dianggap tidak ada

Semalam kutabur benih dalam tamasyaku. / Di pemberhentian yang ke sekian ini / Aku masih berkuasa atas mimpiku sendiri / Kutitipkan ia dalam bingkai berwarna biru danau.

Cintaku ibaratkan hujan yang paling tabah / memilih untuk jatuh di atas batu karang itu. / Ia tahu, airnya tak akan pernah meresap / hanya akan mengalir lewat, lalu hilang ke laut.

Mungkin hatimu sedang dalam mode pesawat / atau sinyal simpatiku tak cukup kuat menembus dinding egomu. / Aku sudah mencoba mengirim pesan lewat jalur darat, laut, dan udara / tapi sepertinya semua kurirku dicegat di depan pintu hatimu.

Aku berdiri di atas debu / dirampas kegetiran / di atas tanah yang hilang / dihempas kesedihan