
Rintik Hujan di atas Buku Harian (Bagian 5)
// Langit bukan sekadar biru, / ia adalah tabir / yang menyimpan isyarat. //

// Langit bukan sekadar biru, / ia adalah tabir / yang menyimpan isyarat. //

// Umat terhuyung di senja zaman akhir, / Langkah iman rawan tergelincir, / Mungkir berserak, zalim menjulur tak berpikir, / Kebenaran diuji, kesabaran pun ditakdir. //

// Hidup bagai gerbong yang terus melaju / Di atas rel yang sama, menuju hari yang kelabu / Setiap pagi adalah peron yang serupa / Dengan jadwal yang sudah rutin dibaca //

// Izinkan aku memberimu nama / Nama yang nyaman dan tentram / Ketika gelisah bersandar padaku yang lelah / Lalu engkau menjelma sajadah / Tempat segala resah tumpah //

// Hujan jatuh / pelan / di atas buku harian / seperti suara yang lupa / jalan pulang //

// Sinar bulan membelah malam / Dua insan beradu kata, memecah kesunyian / Lengkingannya memantul pada tembok yang membisu //

// Barangkali pesonaku nyasar, / salah alamat, / atau masuk folder spam //

// Dulu kita orang kota yang tersedak asap / dipagut dan dikejar waktu berdegap //

// Jalan itu seperti doa / yang pelan-pelan kutinggalkan / tanpa sempat mengucapkan “amin.” //

// Dia yang tak berakal kehilangan rumahnya. / Namun, mereka yang mengaku berakal duduk di kursi yang tetap tegak, / bak tiada kaki yang rusak. //