
Simpang Karangbawang dan Puisi Lainnya
Ada setetes keringat yang berkerak / di kulit mereka, / para penarik becak / dan kemakmuran: / terasa jauh untuk bisa ditanak.

Ada setetes keringat yang berkerak / di kulit mereka, / para penarik becak / dan kemakmuran: / terasa jauh untuk bisa ditanak.

ada yang perlahan mereka tinggalkan / ketika waktu berjalan cepat ke masa tua / aku merasa kesedihan datang terlalu dini / ketika warisan moyang belum mendarah daging pada nurani

Aku bersembunyi di pupilnya / di celah redup yang tak sempat ia pahami, / menjadi bisik paling lirih / yang tak pernah ia dengar.

Sudah delapan puluh tahun / Katanya, ini merdeka / Dari penjajah negara / Yang mengusik kehidupan rakyatnya

Jeritan pingiran kota
Menampakkan derita rakyat negara
Ulah tikus kantor yang bengis
Meninggalkan jejak penuh tangis

Tiap bulan slip gajiku seperti surat cinta
penuh dengan daftar potongan mesra.


Sehelai Panorama Aku telah terpana,Pada sebuah keindahan panoramaAlam yang telah membuatku jatuh,Pada keelokan yang menyentuh. Aku telah tercengang,Pada mata yang berbinar terang.Senyum manis tak pernah menepis,Siapapun tertegun pada keindahan yang tak habis. Harmoninya tak pernah pudar,Kesejukan yang selalu membuatku sadarEmbun pagi pun tak mau ragu,Menampakkan diri dan menyapa semangat baru. Aku selalu ingin untuk kembali,Helai desa yang membuat rindu siapapun yang pergiAngin yang berhembus seraya menyapu kesepian,Mari, pulang dan nikmati kedamaian. Purwokerto, Mei 2025 *** Menemui Sepi Aku kembali,Menemui sepi yang melewatiAlunan harmoni,Yang tak pernah berhenti menuaikan melodi. Aku kembali,

Kepada setelah kutemukan kesejatiankau tersesat di belantara yang belum kuberi namadan orang-orang menyebutnya, kekejaman Kaliurang, 2025 Di Kafe Basabasi Sorowajan perpisahan telah menjawab segalanya.pada kursi paling belakang kafe iniseperti ada yang perlu ditertawakanbarangkali juga dikenang, secukupnya aku menatap matamulayaknya memandang tumpukan mawardengan gamang kupegang tanganmupenuh kehati-hatianseperti memegang putik-putik melati kita akan tua dan perlahan cinta berubah, katamukupasang selingkar cincin tanpa batu bulan di jarimu:ini membikin cinta kita untuh selamanya. kau tersenyumkemudian kucium tanganmu. kau mencium tanganku. di kafe ini malam tak hanya enam jamkita merasa kebahagiaan tak punya batasanmencatat rencana-rencana

BIYUNGBen ndina weweh katresnanIkhlas ora pamrih babar pisanYen bocah ana penjalukanUrusane dewek mburianNomer siji bocahGone njaluk kedurusan NGISOR TUDUNG SAJIAnak : Yung, nyong ngelih yung. Rika masak apa dina kie, Yung?Biyung : Ya kue bukak bae tudung sajine.Anak : “Kreekk”. Lah sega karo sambel terasi.Biyung : Ya mengko, ngenteni ramane bali. RAMARela ora mangan babar pisanAsal anak bojo kebagianMergo kue wis dadi kewajibanArane rama yakue prajangan WAYAH SORENjagong nang teras umahNyawang wong pada balik kang sawahMerga awak,Wes labuh krasa sayahManuk juga mabur kocar-kacirMerga dioyok,Bapak-bapak berkucirTampange si sangar, gede duwurNing sayang,Masa