
Gadai Suara dan Puisi Lainnya
“Kami memilihnya, maka kami benar,” katanya. / Biar pun masak harus mengantre / Ayah tak punya pekerjaan lagi / Asal di sekolah / Adik bisa makan bergizi

“Kami memilihnya, maka kami benar,” katanya. / Biar pun masak harus mengantre / Ayah tak punya pekerjaan lagi / Asal di sekolah / Adik bisa makan bergizi

// Mengapa kau pilih aku / masuk dalam perangkap godaanmu, / sementara imanku / gemetar menahan pintu? //

// Ia bisa terbang, / tampak menjulang tinggi, / tetapi ada yang menjadi bagian dari hidupnya, / dan tidak henti mendukungnya. //

// Aku telah menulis / surat-surat panjang / kepada langit yang diam. / Di setiap kalimatnya, / tertinggal jejak langkahmu / di beranda doa. //

// Kadang ia berharap / Yang tiada diadakan / Yang ada tak terasa //

// kaya kiye dongane / “Ya Alloh, tulung / adohna nyong karo wong kae lah” //

// Setiap hembusan angin membawa / aroma tubuhmu, / dengan segala kepingan kenangan / yang sempat hilang dalam waktu. //

// Hanya lili yang memeluk rengkuh tangisan / Tanpa membuat goresan luka sedikitpun / Dengan kelembutannya / Ia memeluk erat kesetian //

// Saat kau datang menebus rindu / Ada keajaiban di setiap tatapan mata / Ada debaran yang selalu hadir tanpa diminta //

// hingga harus kujalani hari-hariku yang sisa sepi / dalam penjara, tanpamu yang sibuk menari bersama / para menteri, sedang aku, di sini, tenggelam / dalam ingatan mimpi kita yang bergairah //