
Aku Tidak Punya Kopi dan Puisi Lainnya
// Aku hanya ingin duduk… / Dirayu seorang teh manis yang memeluk dari belakang //

// Aku hanya ingin duduk… / Dirayu seorang teh manis yang memeluk dari belakang //

// selamatkan aku dari tajamnya luka / biarlah mekarku tak sempurna, / asal Kauberi aku kesempatan tetap hidup //

// Deret angka rapi mengelilingi / Elok menanti detik demi detik bergulir / Nan tak sabar untuk menghinggapi //

// Malumu kaututup rapat / saat jendela itu kubuka / di pagi buta. //

// Aku terjerat dalam jera angan-anganku hingga tercekik. / Aku hampir mati melawan hasratku //

// kureguk kopi espresso / tujuh sendok berdering sendu / serumit isi dimensi //

// Kota menyambut dengan gemerlap diri, namun cahayanya tersimpan sunyi, / Tanpa sadar jalan asing kususuri, walau hanya terlihat tawa asing tanpa henti, / Dan aku, masih menyimpan rindu yang tak pernah terbagi. //

// Membuka mata— / seolah menatap jurang tanpa tepi. / Menutup mata— / lebih mengerikan dari kegelapan itu sendiri. //

// kembang kukuh tak henti tumbuh / dari atas pusara seorang jenderal / merebak tegas PDL-nya di atas kejujuran / dari kampung utara tanah jawa //

// Aku rindu orkestra kecil di atap seng itu, / gesekan daun kering dan retak tanah sebagai nadanya, / saat butir air pertama turun mengeja namamu / yang telah lama berkarat di dasar jiwa. //