Pulang/Pulih

Pulang/Pulih

i /

Memipik bengis kaki-kaki digantung le-langitan
Seribu tahun lagi masihkah sanggup berdiri
Rambut putih meranggas liar
Meski waktu melilit di debur kasar

Mimpi-mimpi berlayar lambat
Dan muram berlabuh tak pernah kekal
Menunggu jemputan kereta di ujung Stasiun Purwosari
Larik-larik tak ber-irama segera dinantikan

Kau telanjangkan luka berdarah
Membawa aroma busuk yang bernanah
Pulang pada rahim tak kurasa lelah
Tempat aku hilang biarpun kalah.

ii /

Perihal hari-hari yang tak sempat di penjara
Suka dan duka menjadi rumah belasungkawa
Di manahan jeritan-jeritan berkelekar bernyawa
Kugumamkan hanya sunyi yang mengimani
Mati kau, mati

Di antara tasbih yang digemakan pada rayuan-rayuan semata
Kuhidupkan fosil-fosil kata di atas hidup yang remuk tak bertahta
Bersanding melintas di kubang prahara
Pada setiap ingatan beriringan duhara
Terekam jelas bebatuan ber-jatuhan dirundung wasta.

iii /

Sudahkah kau selesai dengan lelap yang kaujual belikan di pasar
Di antara sumpah-sumpah yang tak terdengar
Perut dan akut bercengkrama samar
Meski pinta-pinta mengunjungi pudar

Terselip matamu yang berlapis-lapis tajam
Banyak sebentar sepi nan lenglang muram
Dari untaian kejar-mengejar yang mencekam
Kubawa seluruhnya yang tenggelam.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top