
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 7)
// Cermin itu bukan kaca, / melainkan halaman kitab / yang menampung jejak doa / yang tak sempat selesai / kubaca saat demam / memeluk tubuh seperti kekasih yang murka. //

// Cermin itu bukan kaca, / melainkan halaman kitab / yang menampung jejak doa / yang tak sempat selesai / kubaca saat demam / memeluk tubuh seperti kekasih yang murka. //

// Aku menyebut nama-Mu / dengan bibir yang masih basah / oleh sisa keluh dan luka. //

Mengapa seseorang menulis puisi? Pertanyaan ini kerap muncul dalam benak saya, baik sebagai penyair maupun sebagai pejalan ruhani yang menjadikan puisi bukan sekadar cara berkata-kata, melainkan jalan pulang bagi jiwa yang rindu pada sumbernya. Menulis puisi bagi saya adalah cara mendengar gema batin, ketika dunia luar terlalu gaduh dan kata-kata harian terlalu bising untuk menyampaikan apa yang sejatinya ingin dikatakan hati.

// Ruang tunggu ini seperti dada perempuan / yang memeluk luka / tanpa pernah bertanya / kenapa ia selalu datang. //

// Tubuhku dulu adalah janji, / setiap sendi berbisik lembut / pada malam yang tak pernah lelah / menunggu datangnya pagi. //

// Pagi menyapa / lewat garis cahaya yang retak di dinding, / tirai menunduk pelan / seperti istri yang khusyuk / menggulung rindu ke dalam sajadahnya. //

// Lalu ia menyiapkan / air hangat dan senyum, / seolah dunia / masih bisa dimulai ulang / dengan secangkir kesetiaan. //

// Tubuhku kini adalah kitab / yang perlahan kubuka dalam senyap: / halaman-halaman bertulis darah dan doa, //

// Aku telah menulis / surat-surat panjang / kepada langit yang diam. / Di setiap kalimatnya, / tertinggal jejak langkahmu / di beranda doa. //

// Setiap hembusan angin membawa / aroma tubuhmu, / dengan segala kepingan kenangan / yang sempat hilang dalam waktu. //