
Rintik Hujan di atas Buku Harian (Bagian 4)
// Hujan jatuh / pelan / di atas buku harian / seperti suara yang lupa / jalan pulang //

// Hujan jatuh / pelan / di atas buku harian / seperti suara yang lupa / jalan pulang //

// Jalan itu seperti doa / yang pelan-pelan kutinggalkan / tanpa sempat mengucapkan “amin.” //

// Di atas meja kayu yang mulai lusuh / tergeletak selembar kertas bertekstur halus, / tulisan tanganku mengalir pelan / bukan karena angin kemarau, / melainkan bayangmu / yang menetap dalam lipatan hari-hari diam. //

// Ia terbuka sejak anak sulung pergi / membawa separuh rahim ibunya, / sejak bapak menatap kalender / tanpa bisa mencoret tanggal kepulangan. //

Dan ia menjawab lirih: / “Cinta bukan datang dari mata, / tetapi dari napas yang mengenal arah pulang.”