
Perjalanan Zainal Mencari Cinta Ilahi
Di lembah hijau yang diselimuti kabut pagi, di mana angin berbisik rahsia kepada daun-daun, hiduplah seorang sufi bernama Zainal. Hatinya bagai cawan kosong yang mendamba air kehidupan.

Di lembah hijau yang diselimuti kabut pagi, di mana angin berbisik rahsia kepada daun-daun, hiduplah seorang sufi bernama Zainal. Hatinya bagai cawan kosong yang mendamba air kehidupan.

“Apa anakmu mendadak bisu hingga bibirnya terasa berat untuk mengucap, Dewati?”

‘Byurr’. Warsa yang kerap disapa Si Keriting itu membuang bungkusan di sungai. Dengan air keringat yang bercucuran, dia dilema dalam pikiran.

Sementara perjalananku masih jauh dengan berharap langit bisa berkompromi.

Hari itu nenek kembali memaksaku mencoba pakaian yang entah dari mana datangnya, sebuah daster hijau bermotif bunga yang kulihat terlalu jadul untuk tubuh elok ini.

Di rumah itu, kami selalu merasa hangat. Cerah warnanya sinar lembayung, semakin kuat ketika baru pulang dari tempat rantau.

Namun, di balik kilauan kaca namanya, tersembunyi beban seberat langit. Ia tak pernah luput dari tatapan yang menuntut kesempurnaan, sebuah bayang-bayang abadi yang mengintai di setiap sudut sanubari.

Katanya, keluargaku cemara. Begitulah kata orang-orang yang memandang. Rumah bercat putih dengan pagar besi yang selalu mengkilap, taman mungil penuh dengan bunga, dan dua buah mobil tertata dengan rapi.

Di antara rerumputan tinggi yang membatasi wilayah RW 18 dan RW 19, berdiri sebatang pohon beringin tua yang diam-diam menjadi saksi bisu setiap ketegangan terjadi.

“Kita harus melakukan sesuatu! Tak bisa kita biarkan Kakanda Kalagemet terus menerus seperti ini. Lihat apa yang baru saja ia perbuat kepadaku! Hampir saja aku kehilangan kehormatan!”