
Simfoni Kebodohan
Di antara rerumputan tinggi yang membatasi wilayah RW 18 dan RW 19, berdiri sebatang pohon beringin tua yang diam-diam menjadi saksi bisu setiap ketegangan terjadi.

Di antara rerumputan tinggi yang membatasi wilayah RW 18 dan RW 19, berdiri sebatang pohon beringin tua yang diam-diam menjadi saksi bisu setiap ketegangan terjadi.

“Kita harus melakukan sesuatu! Tak bisa kita biarkan Kakanda Kalagemet terus menerus seperti ini. Lihat apa yang baru saja ia perbuat kepadaku! Hampir saja aku kehilangan kehormatan!”

Rombongan itu anti lampu lalu lintas. Para polisi hanya buang muka saat mereka ini lewat. Karena para polisi tahu. Elang hijau ini sedang marah tapi tetap tenang. Jangan sampai menyenggol mereka. Mereka adalah Elang yang sudah tua. Fokus pada buruan dan tenang menguasai keadaan.

Kalimat itu berjalan, berlari kecil, bahkan melompat-lompat di pikiranmu. Lagi-lagi kamu menyalahkan dirimu sendiri mengapa tidak bertanya sama-sama dalam hal apa kepadanya, padahal kalau saja kamu bertanya mungkin kamu sudah mendengar jawabannya. Tidak menebak-nebak angka dalam lotre.

Cak Jon juga tidak mematok harga tinggi. Cukup sepuluh ribu saja untuk dewasa dan delapan ribu rupiah untuk anak-anak. Warga desa menyukai Cak Jon, memang potongannya tidak bisa dibilang sangat baik. Hanya saja cara Cak Jon memperlakukan pelanggan sungguh istimewa. Ia pandai bercerita, apapun topik yang dihembuskan oleh pelanggan pasti ia sambut. Masalah-masalah sepele hingga masalah rumah tangga terungkap dengan renyah dan ringan. Terkadang Cak Jon

Kucing itu bernama Owly. Entah siapa yang menamainya pertama kali, tapi orang-orang bersepakat kucing betina itu bernama Owly. Bisa jadi karena matanya besar mirip burung hantu, atau warna bulunya yang seperti burung hantu. Mungkin juga karena kucing itu bisa melihat hantu.

Di bawah payung, aku menari-nari kecil, seperti anak-anak yang menemukan kesenangan dalam hal sederhana. Kupandangi langit gelap yang sesekali menyala oleh kilat, lalu menatap jalan setapak menuju mushola.

“Kamu tahu, rumah ini dibangun bukan dari uang. Tapi dari cerita. Dari tangisan Ibumu waktu pertama kali kita masuk rumah ini tanpa kursi satu pun. Dari tawamu waktu kamu jatuh dari sepeda dan kaki berdarah di halaman itu.”

Kering dan gersang. Sayu nan kerontang. Hutan ini bak kehilangan nyawa seiring hijaunya lenyap dicuri masa. Tiada lagi cuitan burung pipit saat senja merangkul semesta. Di ujung, asap mengepul, membumbung tinggi membawa berita kematian ke penjuru angkasa, melahap habis satu persatu nyawa yang tersisa. “Terbanglah, Nak,” pesan burung tua—di sisi batang pohon yang mati dibunuh manusia, “terbanglah dengan sayapmu yang telah lusuh dan robek itu, sebelum mereka memotong habis bulu indahmu dan menjadikannya hiasan dalam kemegahan istana mereka. Terbanglah dengan sisa-sisa tenagamu yang telah lemah itu menuju negeri tempatmu menaruh

“Kalau buat sesuatu itu jangan pernah ragu. Jangan sampai otakmu kesulitan untuk berpikir karena keraguanmu kawan.” Ron meyakinkan Gian. Ron merasa menjadi manusia paling beruntung hari itu, bagaimana tidak, kemenangannya berjudi membawanya jumawa. Ron merasa orang paling kaya. “Hari ini aku JP tujuh juta.” Ron memamerkan lembaran kertas merah, setelah menariknya dari mesin ATM. Gian tersenyum, walaupun sebenarnya sama sekali tidak menyiratkan isi hatinya. Ia cemburu akan keberuntungan tamannya itu. “Orang bilang ketika berjudi ia akan mendapatkan beginner’s luck. Sementara saya! Sudah habis banyak.” “Itulah dia. Tidak ada keyakinan di