
Payung-Tidak untuk Hujan
Di bawah payung, aku menari-nari kecil, seperti anak-anak yang menemukan kesenangan dalam hal sederhana. Kupandangi langit gelap yang sesekali menyala oleh kilat, lalu menatap jalan setapak menuju mushola.

Di bawah payung, aku menari-nari kecil, seperti anak-anak yang menemukan kesenangan dalam hal sederhana. Kupandangi langit gelap yang sesekali menyala oleh kilat, lalu menatap jalan setapak menuju mushola.

“Kamu tahu, rumah ini dibangun bukan dari uang. Tapi dari cerita. Dari tangisan Ibumu waktu pertama kali kita masuk rumah ini tanpa kursi satu pun. Dari tawamu waktu kamu jatuh dari sepeda dan kaki berdarah di halaman itu.”

Kering dan gersang. Sayu nan kerontang. Hutan ini bak kehilangan nyawa seiring hijaunya lenyap dicuri masa. Tiada lagi cuitan burung pipit saat senja merangkul semesta. Di ujung, asap mengepul, membumbung tinggi membawa berita kematian ke penjuru angkasa, melahap habis satu persatu nyawa yang tersisa. “Terbanglah, Nak,” pesan burung tua—di sisi batang pohon yang mati dibunuh manusia, “terbanglah dengan sayapmu yang telah lusuh dan robek itu, sebelum mereka memotong habis bulu indahmu dan menjadikannya hiasan dalam kemegahan istana mereka. Terbanglah dengan sisa-sisa tenagamu yang telah lemah itu menuju negeri tempatmu menaruh

“Kalau buat sesuatu itu jangan pernah ragu. Jangan sampai otakmu kesulitan untuk berpikir karena keraguanmu kawan.” Ron meyakinkan Gian. Ron merasa menjadi manusia paling beruntung hari itu, bagaimana tidak, kemenangannya berjudi membawanya jumawa. Ron merasa orang paling kaya. “Hari ini aku JP tujuh juta.” Ron memamerkan lembaran kertas merah, setelah menariknya dari mesin ATM. Gian tersenyum, walaupun sebenarnya sama sekali tidak menyiratkan isi hatinya. Ia cemburu akan keberuntungan tamannya itu. “Orang bilang ketika berjudi ia akan mendapatkan beginner’s luck. Sementara saya! Sudah habis banyak.” “Itulah dia. Tidak ada keyakinan di

Satu, dua, lima. Bahkan aku sampai lupa, berapa kali aku menjejakkan kaki di Terminal Bulu Pitu tiap tahunnya. Seolah menjadi rutinitas yang sudah kujalani selama tujuh tahun terakhir. Bahkan jika tiap sudut terminal bisa berbicara, mungkin akan ada yang menitikkan air mata saat tidak mendapatiku hadir di tempat ini pada waktu tertentu. Sebuah tempat dengan suara bisingnya yang khas, aroma kecut bercampur asap knalpot, dipadukan asap rokok yang semakin memperjelas betapa khasnya tempat ini. Untuk yang ketiga kalinya aku menghela napas, menatap sudut kiri atas ponselku. Memastikan bahwa angka yang