
Daster Hijau Bermotif Bunga
Hari itu nenek kembali memaksaku mencoba pakaian yang entah dari mana datangnya, sebuah daster hijau bermotif bunga yang kulihat terlalu jadul untuk tubuh elok ini.

Hari itu nenek kembali memaksaku mencoba pakaian yang entah dari mana datangnya, sebuah daster hijau bermotif bunga yang kulihat terlalu jadul untuk tubuh elok ini.

Di rumah itu, kami selalu merasa hangat. Cerah warnanya sinar lembayung, semakin kuat ketika baru pulang dari tempat rantau.

Namun, di balik kilauan kaca namanya, tersembunyi beban seberat langit. Ia tak pernah luput dari tatapan yang menuntut kesempurnaan, sebuah bayang-bayang abadi yang mengintai di setiap sudut sanubari.

Katanya, keluargaku cemara. Begitulah kata orang-orang yang memandang. Rumah bercat putih dengan pagar besi yang selalu mengkilap, taman mungil penuh dengan bunga, dan dua buah mobil tertata dengan rapi.

Di antara rerumputan tinggi yang membatasi wilayah RW 18 dan RW 19, berdiri sebatang pohon beringin tua yang diam-diam menjadi saksi bisu setiap ketegangan terjadi.

“Kita harus melakukan sesuatu! Tak bisa kita biarkan Kakanda Kalagemet terus menerus seperti ini. Lihat apa yang baru saja ia perbuat kepadaku! Hampir saja aku kehilangan kehormatan!”

Rombongan itu anti lampu lalu lintas. Para polisi hanya buang muka saat mereka ini lewat. Karena para polisi tahu. Elang hijau ini sedang marah tapi tetap tenang. Jangan sampai menyenggol mereka. Mereka adalah Elang yang sudah tua. Fokus pada buruan dan tenang menguasai keadaan.

Kalimat itu berjalan, berlari kecil, bahkan melompat-lompat di pikiranmu. Lagi-lagi kamu menyalahkan dirimu sendiri mengapa tidak bertanya sama-sama dalam hal apa kepadanya, padahal kalau saja kamu bertanya mungkin kamu sudah mendengar jawabannya. Tidak menebak-nebak angka dalam lotre.

Cak Jon juga tidak mematok harga tinggi. Cukup sepuluh ribu saja untuk dewasa dan delapan ribu rupiah untuk anak-anak. Warga desa menyukai Cak Jon, memang potongannya tidak bisa dibilang sangat baik. Hanya saja cara Cak Jon memperlakukan pelanggan sungguh istimewa. Ia pandai bercerita, apapun topik yang dihembuskan oleh pelanggan pasti ia sambut. Masalah-masalah sepele hingga masalah rumah tangga terungkap dengan renyah dan ringan. Terkadang Cak Jon

Kucing itu bernama Owly. Entah siapa yang menamainya pertama kali, tapi orang-orang bersepakat kucing betina itu bernama Owly. Bisa jadi karena matanya besar mirip burung hantu, atau warna bulunya yang seperti burung hantu. Mungkin juga karena kucing itu bisa melihat hantu.