Festival Literasi Jawa Tengah 2025 Panggung Kata-Kata

Sudah dengar tentang Festival Literasi Jawa Tengah 2025? Kalau belum, tenang saja—saya akan kasih bocoran menarik soal gelaran ini. Tertulis tanggal 19 Juni 2025 surat dikirimkan dari Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah, kepada dinas terkait untuk mengadakan Festival Literasi Jawa Tengah berkolaborasi dengan komunitas yuk menulis. Persiapan yang saya rasa cukup dan tidak mepet, tapi kejadian di lapangan malah mepet banget, dikira seperti tuku mendoan selesai pesan langsung jadi. Bukti paling nyata terlihat di Banyumas hingga 30 Juli 2025, belum ada satu pun unggahan soal festival ini dari

Read More »

Poster Nobar Timnas Out Of Touch

Sebuah postingan nonton bareng (nobar) pertandingan Indonesia vs Filipina pada 18 Juli 2025 di Alun-Alun Purwokerto tidak sengaja terlihat di Instagram. Postingan tersebut menampilkan para pemain timnas, informasi acara, serta sosok Bupati Banyumas, Drs. H. Sadewo Tri Lastiono, MM, lengkap dengan gaya khas mengajak semangat nasionalisme. Namun, tak berselang lama saat gulir kebawah, akun Instagram @pwt.undercover mengunggah postingan yang mengkritisi desain poster pak Sadewo sepertinya (ini hanya perkiraan saya ya). Begini isinya “Masa poster nobar timnas di tahun 2025 masih aja yang dihiasi foto para pejabat daerah. Inget, ini tahun

Read More »

Makna Pembukaan BIL Fest 2025: Bukan untuk Dipuji Tetapi Menghidupkan

Pukul sepuluh pagi itu, langit Purwokerto begitu jernih. Hetero Space, yang biasanya dipenuhi seminar, kelas-kelas kreatif, pagi itu berubah menjadi ruang akustik terbuka. Tanpa panggung tinggi. Tanpa pengeras suara megah. Tapi justru dari kesederhanaan itulah muncul sesuatu yang mendalam: gitar-gitar yang dipetik bersama, oleh puluhan tangan yang tak semuanya profesional, tapi seluruhnya otentik. Di hari Kamis, 12 Juni 2025, di tengah gelaran Banyumas International Literacy Festival (BIL Fest), Dannar selaku bintang tamu tak banyak berbicara. Ia hanya menyandang gitar, lalu mulai memainkan satu nada dasar. Yang lain menyusul. Dan tiba-tiba,

Read More »

BIL Fest: Kenapa Muhidin?

Kita hidup di republik yang bangga pada buku, tapi alergi pada pembaca. Negara mengangkat literasi sebagai jargon seolah-olah negara benar-benar hadir, tapi cobalah bertanya pada penggerak literasi di Banyumas, apa jawaban mereka. Di tengah republik yang gamang terhadap pemikiran, yang sedang sibuk mengubah sejarah sesuai permintaan penguasa saat ini, berdirilah satu nama yang konsisten menjadi kutu buku subversif dan masih hidup di negeri Indonesia ialah Muhidin M. Dahlan. Ia tidak menulis untuk menyenangkan dan mengenyangkan. Ia menulis untuk menggugat ingatan. Di tangannya, sejarah bukan catatan nostalgia tapi arena perlawanan intelektual.

Read More »

TBTC: Membaca BIL Fest Bersama Rahmi Wijaya

Malam minggu 31 mei 2025 di Unsoed Café berubah menjadi ruang Tukar Baca Tukar Cerita (TBTC), kali ini bukan sekadar kopi dan cerita. Hadir sebagai narasumber tunggal, Rahmi Wijaya selaku Project Director dari Banyumas International Literacy Festival (BIL Fest). Rahmi membuka diskusi dengan memaknai literasi menurut dia, salah satu kalimat yang menghantam dinding kesadaran ialah: “Literasi, membuat saya waktu kecil tidak merasa miskin padahal secara ekonomi saya miskin“ Kalimat itu bukan puisi. Itu kritik. Kritik terhadap sistem ekonomi yang membungkam martabat melalui angka. Rahmi kecil menjadikan literasi sebagai perlawanan diam

Read More »

Ingatan, Identitas, dan Ironi dalam Buku Nada Tjerita

Tiba-tiba mas Manunggal K Wardaya mengirim pesan “PDF Nada Tjerita kl mau dibagi di web BIL Fest silahkan mas“. Wahh keberuntungan apalagi ini untuk BIL Fest karena PDF Nada Tjerita sebenarnya sudah dicetak menjadi buku, sudah di layout rapi, ya kalo ada modal tinggal di cetak ulang. Setelah mendapat pesan tersebut saya memiliki setidaknya tanggung jawab untuk menguliknya secara komperhensif, walaupun sebelumnya sudah saya baca, yang kadang bikin tertawa sendiri padahal bahasanya naratif dan bukan bahasa bercanda, mungkin inilah yang disebut naskah yang mampu memanggil kenangan dan membuat teater benak

Read More »

Literasi Itu Tidak Seksi: Catatan dari Festival Literasi yang Sepi Sponsor

Sponsor adalah kata lain dari harapan. Tapi dalam dunia literasi, harapan itu sering dibalas dengan diam yang elegan atau bahkan penolakan yang dibungkus senyum korporat. Mengapa? Karena literasi bukanlah acara yang seksi. Ia tidak menjanjikan panggung megah, gemerlap lampu, atau barisan selebritas. Ia hanya menjanjikan sesuatu yang paling menakutkan bagi kekuasaan dan pasar yaitu pikiran yang kritis. Di kota satelit seperti Purwokerto, di mana ruang publik sering diisi oleh konser dadakan dan konten receh, sebuah festival literasi seperti berteriak dalam ruang hampa. Sponsor tak datang bukan karena mereka jahat, tapi

Read More »

Tim BIL Fest Tidak Dibayar: Ketika Akal Sehat Bertemu Kesadaran Literasi

Pertanyaan “bagaimana membangun sebuah tim yang tidak dibayar?” adalah pertanyaan yang keliru. Karena sejak awal, ia memakai paradigma transaksional dalam membangun relasi. Itu seperti bertanya, “apa untungnya mencintai?”—seolah segala sesuatu harus ditimbang dengan neraca keuntungan. Padahal, kalau kita masih bertanya “apa untungnya?”, kita belum layak bicara tentang pengabdian, gagasan, dan literasi. Kita masih berkutat dalam logika pasar, bukan dalam logika peradaban. Di Banyumas International Literacy Festival (BIL Fest), tidak ada yang “tidak dibayar”. Justru sebaliknya: semua dibayar dengan sesuatu yang tak ternilai. Apa itu? Kesadaran. Kesadaran bahwa bergerak bersama untuk

Read More »

Halte Secang dan Tragedi Manusia Kecil: Sebuah Refleksi dari Tulisan Manunggal K Wardaya

Cerita perjalanan BIL Fest kali ini tidak sengaja dipertemukan dengan nama Manunggal K Wardaya, seorang dosen dan pengarsip, terpantau jelas dari tulisannya di buku Nada Tjerita maupun ruang tamu tempat kami mengobrol. Kami mengobrol panjang lebar, hingga tak sengaja sampai pada cerita tentang halte kereta secang. Singkat cerita setelah pulang, beliau mengirimkan tautan tulisan. Pada kesempatan kali ini saya ingin merespon tulisan tersebut yang berjudul Perihal Halte Secang dan Kisah Tentang Seorang Tukang Roti Yang Malang. Mari kita mulai, ketika kita membaca kisah Halte Secang dan tukang roti malang yang mati

Read More »
Scroll to Top