Buku, Bukan Sekadar Benda: Ketika Pemuda Pemudi Membaca Masa Depan

Di sebuah sudut waktu yang tak pernah masuk headline, sekelompok pemuda dan pemudi berkumpul. Bukan untuk mendeklarasikan ambisi politik, bukan pula merancang start-up dengan valuasi khayalan. Mereka hanya menyiapkan buku. Ya, buku. Benda yang tak lagi dianggap seksi di zaman scroll tanpa henti ini. Mereka adalah panitia Banyumas International Literacy Festival (BILFest). Usianya muda, pikirannya merdeka, dan semangatnya bukan berasal dari undangan kekuasaan, tapi dari panggilan kesadaran. Mereka tahu, membicarakan literasi hari ini terdengar seperti nostalgia. Tapi mereka memilih bertahan, bukan karena tren, tapi karena waras. Mereka tidak sedang memburu

Read More »

Membaca sebagai Perlawanan, Berkarya sebagai Kemerdekaan: Ketika BILFest Bertemu Rektor UMP

Di sebuah ruang yang tak hanya diisi meja dan kursi, tapi juga ide dan keberanian, panitia Banyumas International Literacy Festival (BILFest) duduk berhadapan dengan Rektor Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Tapi ini bukan pertemuan administratif. Ini adalah konfrontasi intelektual—dalam makna terbaiknya: membuka ruang kolaborasi demi satu perkara besar yang selama ini kerap dilupakan negara—literasi. Dalam suasana yang akrab tapi sarat gagasan, tak dibicarakan proyek, tak dirancang anggaran. Yang dibahas adalah kemungkinan. Tentang bagaimana sebuah universitas, sebagai benteng terakhir akal sehat, bisa bergandeng dengan sebuah festival, yang berangkat dari keresahan, bukan kekuasaan. BILFest

Read More »
Scroll to Top