Saat Teknologi Menguras Jiwa, Islam Menawarkan Jalan Pulang

Hari ini, manusia tidak kekurangan teknologi. Dalam hitungan detik, informasi dapat diakses, pekerjaan diselesaikan dengan mudah, dan komunikasi dilakukan tanpa batas ruang. Namun, di balik segala kemudahan itu, perhatian kita justru dapat terpusat pada teknologi. Notifikasi yang terus muncul hingga kebiasaan scrolling tanpa tujuan, akhirnya kita sulit berhenti meskipun sadar, bahkan ketika menyadari bahwa penggunaan waktu belajar terganggu. Akibatnya waktu terbuang sia-sia dan fokus menjadi terganggu. 

Ironisnya, teknologi yang diciptakan untuk memudahkan dan menghemat waktu justru membuat manusia semakin sulit menikmati waktu istirahatnya. Banyak orang tidak sedang kelelahan karena pekerjaan fisik yang berat, melainkan karena pikirannya tidak pernah benar-benar berhenti. Tanpa sadar kita setiap hari sering melakukan aktivitas tersebut, mulai dari bangun tidur diawali dengan memeriksa notifikasi, waktu luang diisi dengan men-scroll media sosial, dan sebelum tidurpun layar menjadi teman terakhir yang dilihat. Tubuh mungkin berhenti beraktivitas, tetapi pikiran tetap bekerja menerima rangsangan baru setiap saat. Di mana otak manusia tidak diciptakan untuk menerima rangsangan tanpa jeda. 

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan masyarakat modern bukan hanya persoalan penggunaan teknologi, tetapi juga pada hilangnya kemampuan  mengendalikan diri dalam menggunakanya. Penggunaan teknologi yang berlangsung terus-menerus dapat berkembang menjadi kondisi yang dikenal sebagai digital burnout. Dalam psikologi, keadaan ini dikenal sebagai digital burnout. Digital burnout merujuk pada kondisi kelelahan mental dan emosional yang muncul akibat paparan berlebih terhadap tuntutan teknologi digital dalam konteks kerja jarak jauh, seperti keharusan untuk terus online, multitasking digital, dan minimnya jeda dari media online. Jika dibiarkan, kondisi ini tidak hanya menurunkan produktivitas, tetapi juga berdampak pada kesehatan mental, kualitas hubungan sosial, bahkan kualitas kehidupan spiritual seseorang.

Lalu, mengapa manusia dapat mengalami kelelahan di tengah teknologi yang justru diciptakan untuk memudahkan kehidupan?

Kehilangan kendali pada penggunaanya 

Mengakses informasi melalui media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari mahasiswa yang pada akhirnya menimbulkan fenomena information overload. Information overload atau kelebihan informasi adalah kondisi ketika jumlah informasi yang diterima seseorang melampaui kapasitas kognitifnya untuk memprosesnya. Menurut Gross (dalam Nurmauliddiana et al., 2019) menjelaskan bahwa “Information overload occurs when the amount of input to a system exceeds its processing capacity”, yang berarti kelebihan informasi terjadi ketika jumlah informasi yang masuk melebihi kapasitas pemrosesan suatu sistem atau individu.

Tanpa kita sadari, kita sering menerima dan mencari informasi dari berbagai platform digital. Salah satu platform yang hadir dalam kemajuan teknologi adalah media sosial yang memungkinkan penggunanya berkomunikasi hampir tanpa batas. Hal ini, juga menimbulkan adanya kecenderungan kebebasan yang tinggi dalam penggunaan media sosial, baik dalam komunikasi dengan orang lain maupun berbagi informasi (Rasidin et al., 2020).

Berdasarkan laporan dari We Are Social, terdapat 212,9 juta pengguna internet di Indonesia pada tahun 2023. Sekitar 77% dari 276,4 juta penduduk Indonesia menggunakan internet, sebanyak 83,2% menggunakan internet untuk menemukan informasi. Jumlah penduduk Indonesia yang memiliki telepon seluler mencapai 353,8 juta orang, di mana setengah lebih penduduk Indonesia (167 juta) di antaranya aktif menggunakan media sosial dengan berbagai platform digital. 

Information overload membuat seseorang merasa bahwa selalu ada informasi baru yang harus diketahui. Kondisi tersebut mendorong munculnya perilaku doom scrolling, yaitu kebiasaan menggulir media sosial atau membaca berita secara terus-menerus, terutama informasi yang bernada negatif, tanpa disadari dan sulit dihentikan. Doom scrolling didefinisikan sebagai perilaku konsumsi berulang dan berkelanjutan terhadap konten berita atau informasi bernada negatif, seperti konflik, bencana alam, krisis sosial, serta isu-isu mengkhawatirkan lainnya, yang berpotensi memicu respons emosional negatif berupa kecemasan, ketakutan, kesedihan, dan stres psikologis (Shabahang dkk., 2023).

Fenomena doom scrolling terjadi karena adanya dorongan individu untuk terus mengikuti perkembangan informasi dari berbagai isu, terutama terkait isu krisis, konflik, dan berita mengkhawatirkan lainnya. Akan tetapi, paparan informasi negatif yang berlangsung terus-menerus menyebabkan individu mengalami tekanan psikologis. Alih-alih dengan menggulir memperoleh ketenangan, malah bertimbang kebalik, perilaku ini justru membuat individu terus menerima rangsangan baru sehingga otak tidak memiliki kesempatan untuk beristirahat. Seiring berjalanya waktu, kapasitas kognitif menjadi semakin terbebani, fokus menurun, dan kelelahan mental mulai muncul.

Menurut Oktaviani (dalam Kenny, 2022) kondisi tersebut terjadi ketika kemampuan individu dalam memproses informasi telah melampaui batas optimalnya. Akibatnya, individu mengalami kesulitan berkonsentrasi, kelelahan emosional, serta penurunan kemampuan dalam mengambil keputusan. Dampak dari doom scrolling tidak dirasakan secara sama oleh setiap kelompok masyarakat. Salah satu kelompok yang paling rentan mengalami kondisi tersebut adalah generasi Z, karena apa? Karena mereka merupakan generasi yang sejak kecil tumbuh bersama internet, media sosial, dan berbagai platform digital.

Kemudian, muncul pertanyaan, mengapa seseorang tetap terus menggulir media social meskipun sadar bahwa aktivitas tersebut membuatnya lelah? Karena individunya sendiri yang sudah kebiasaan, bisa juga karena sudah kecanduan dalam menggulir platform digital, tapi lebih tepatnya platform digital memang dirancang untuk mempertahankan perhatian penggunanya selama mungkin pada platform.

Bayangkan ketika kamu sedang belajar dan mengerjakan tugas d irumah, perpustakaan atau di manapun itu, lalu handphone kamu ada notifikasi masuk, kamu tahu itu notifikasi biasa dan tanpa sadar kamu membukanya. Apa yang kamu pikirkan? Kenapa kamu membukanya? dan perasaan apa yang muncul? Dari situ timbulah perkataan “cuma sebentar” lalu enam puluh detik berlalu, satu jam berlalu, hingga hal yang sedang dikerjakanpun lupa. Kenapa sih gak bisa lepas dari hal tersebut? Karena takut ketinggalan tren masa kini, informasi, dan sebagainya. Dari ilustrasi di atas muncul pertanyaan “mengapa orang tetap melakukan doom scrolling? Karena platform digital dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna supaya terus mengulir konten sehingga muncul rasa takut ketertinggalan (FOMO) yang mengakibatkan sulit berhenti.

FOMO (fear of missing out) merupakan perasaan cemas yang muncul ketika seseorang takut kehilangan informasi, pengalaman, atau kesempatan yang terlihat melalui media sosial maupun interaksi digital (Venus et al., 2023). Fenomena ini semakin relevan pada kalangan yang hidup dalam arus informasi dan tren digital yang terus berubah. Dorongan untuk mengetahui apa yang sedang terjadi dan mengikuti apa yang dilakukan orang lain dapat memunculkan perbandingan sosial serta kecemasan ketika merasa tertinggal. Akibatnya, media sosial tidak lagi sekadar digunakan untuk memperoleh informasi, tetapi juga menjadi ruang untuk mencari hiburan, rasa terhubung, dan validasi sosial. 

Lalu, apa yang sebenarnya dicari ketika seseorang terus membuka media sosial? Informasi, hiburan, pengalihan perhatian, atau rasa aman karena tidak ingin tertinggal? Semua kebutuhan tersebut dapat bercampur ketika seseorang terus menggulir berbagai konten dalam satu ruang digital. Ketika sedang lelah, cemas, atau merasa kesepian, media sosial dapat digunakan sebagai tempat mencari kenyamanan atau pengalihan. Namun, ketika kebutuhan tersebut tidak benar-benar terpenuhi, seseorang justru kembali menggulir tanpa sadar. Dari sinilah terbentuk kebiasaan yang sulit dihentikan dan membuat seseorang semakin lama berada dalam arus digital. 

Hubungan tersebut diperkuat oleh temuan bahwa FOMO dapat berkontribusi terhadap kelelahan media sosial dan mendorong penggunaan media sosial secara berlebihan. Venus dalam (Bright & Logan, 2018) menunjukkan bahwa FOMO memiliki pengaruh besar terhadap kelelahan media sosial, sementara Fontes-Perryman dan Spina (2022) menemukan bahwa gejala FOMO yang lebih tinggi berkaitan dengan penggunaan media sosial yang kompulsif dan kelelahan.

Jabeen et al. (2023) juga menunjukkan hubungan FOMO dengan kecemasan, perbandingan sosial, dan kelelahan. Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa FOMO bukan sekadar rasa ingin tahu terhadap informasi terbaru, tetapi dapat menjadi dorongan psikologis yang membuat seseorang terus terhubung dengan media sosial meskipun aktivitas tersebut mulai melelahkan. Dengan demikian, FOMO menjadi salah satu faktor yang memperkuat siklus doom scrolling dan meningkatkan risiko terjadinya digital fatigue.

Digital fatigue merupakan kondisi di mana seseorang mengalami kelelahan mental/fisik karena terpapar perangkat digital seperti komputer, tablet, dan ponsel yang terjadi secara berulang dan terus menerus (Sulistiono dalam Kembaren, 2024; Febreza & Junaidi, 2022; Aulia & Asbari, 2023). Kondisi tersebut perlahan menguras perhatian, memenuhi pikiran, memengaruhi emosi, hingga akhirnya tubuh ikut merasakan kelelahan. Digital fatigue ini dapat berkaitan dengan kelelahan mata, sakit kepala, sulit konsentrasi, gangguan tidur, stres dan kecemasan (Ramadhani & Khaliyah, 2025). 

Dalam aktivitas belajar, digital fatigue dapat membuat seseorang sulit berkonsentrasi karena pikirannya terasa penuh dan perhatian terus tertarik pada perangkat digital. Akibatnya, waktu yang seharusnya digunakan untuk belajar dapat terbuang karena fokus mudah teralihkan. Jika kondisi tersebut berlangsung terus-menerus, kelelahan tidak hanya dirasakan dalam proses belajar, tetapi juga dapat muncul dalam bentuk stres, sakit kepala, kecemasan, hingga gangguan tidur. Kondisi tersebut menjadi semakin serius ketika seseorang menyadari bahwa dirinya sudah lelah, tetapi tetap tidak mampu mengendalikan penggunaan teknologi.

Ketika seseorang menyadari bahwa dirinya sudah mengalami kelelahan, tetapi tetap sulit mengurangi penggunaan teknologi, persoalannya mulai menyentuh kemampuan dalam mengendalikan penggunaan teknologi. Jika kondisi tersebut berlangsung terus-menerus tanpa jeda dan pengelolaan yang baik, kelelahan dapat mengarah pada kondisi yang lebih serius, yaitu digital burnout.

Digital burnout merupakan kondisi kelelahan mental dan emosional yang muncul akibat penggunaan teknologi digital secara intensif dan tidak terkontrol, yang dapat ditandai dengan kelelahan kognitif, gangguan tidur, serta tekanan untuk selalu terhubung (Wafiq et al., 2025). A. Nurayati et al. (2025) juga menjelaskan digital burnout sebagai kondisi kelelahan mental dan emosional yang muncul akibat paparan berlebih terhadap tuntutan teknologi digital, seperti keharusan untuk terus terhubung, multitasking digital, dan minimnya jeda.

Mengapa digital burnout penting dibahas dalam pendidikan? 

Karena digital burnout merupakan kondisi kelelahan yang sudah berada pada tahap yang lebih serius dan dapat mengganggu kemampuan seseorang dalam menjalankan aktivitasnya. Oleh karena itu, pendidikan perlu turut membahas persoalan ini agar peserta didik tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga memahami cara mengendalikan dan memanfaatkannya secara bijak sehingga risiko terjadinya digital burnout dapat diminimalkan. Karena itu, yang diperlukan bukan semata-mata meninggalkan teknologi, tetapi berhenti sejenak untuk bermuhasabah, melihat kembali apa yang sedang dilakukan, kemudian mengatur batas penggunaan dan menentukan kembali prioritas. Dengan cara tersebut, seseorang dapat menilai mana yang benar-benar layak mendapatkan waktu dan perhatian, mana yang sekadar hiburan, serta mana yang justru berpotensi membawa kemudaratan.

Jika teknologi yang awalnya diciptakan untuk memudahkan manusia justru membuat manusia kehilangan ketenangan dan kendali atas dirinya, maka persoalannya tidak cukup dilihat dari teknologi itu sendiri, tetapi juga dari bagaimana manusia menggunakannya. Islam tidak mengajarkan manusia untuk menjauhi teknologi, melainkan mengajarkan manusia untuk mampu mengendalikan dirinya dalam memanfaatkannya. Pengendalian tersebut dimulai dari kesadaran bahwa penggunaan teknologi telah melewati batas dan mulai mengganggu perhatian, waktu, serta ketenangan diri.

Muhasabah dan zikir sebagai jalan pulang

Kesadaran inilah yang kemudian mendorong seseorang untuk kembali melihat niat dan tujuan dalam menggunakan teknologi: kesadaran inilah yang kemudian mendorong seseorang untuk kembali melihat niat dan tujuan dalam menggunakan teknologi: apakah teknologi benar-benar digunakan karena kebutuhan dan manfaat, atau justru sebaliknya, digunakan tanpa tujuan yang jelas dan dikendalikan oleh dorongan untuk terus terhubung. Dalam islam, proses menyadari dan mengevaluasi diri tersebut dapat dilakukan melalui muhasabah.

Muhasabah tidak berhenti pada menyadari bahwa diri sedang lelah, tetapi menjadi proses untuk melihat kembali bagaimana teknologi telah digunakan. Seseorang dapat bertanya kepada dirinya: apakah saya sudah menggunakan teknologi dengan benar? Apakah penggunaan tersebut masih sesuai dengan niat dan tujuan awal? Atau justru saya mulai menggunakan teknologi tanpa tujuan hingga perlahan dikendalikan olehnya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu seseorang mengenali batas antara menggunakan teknologi dan dikendalikan oleh teknologi. Dari kesadaran itu, seseorang dapat menentukan kembali apa yang perlu dibatasi, apa yang perlu dipertahankan, dan apa yang sebenarnya tidak perlu mendapatkan perhatian.

Jika muhasabah membantu manusia menyadari bagaimana teknologi telah digunakan, maka kesadaran tersebut perlu dijaga melalui praktik yang menghadirkan jeda dan mengembalikan orientasi diri kepada Allah. Salat dapat menjadi ruang jeda bagi seorang muslim untuk melepaskan sejenak perhatian dari arus aktivitas digital dan mengarahkannya kembali kepada Allah. Sementara itu, zikir menjadi pengingat agar orientasi batin manusia tidak hanya dipenuhi oleh apa yang muncul di layar, tetapi tetap terhubung dengan Allah.

Zikir dapat dipahami sebagai bentuk pemenuhan kebutuhan batin manusia. Sebagaimana tubuh membutuhkan makanan, jiwa juga membutuhkan asupan yang menjaga ketentramannya. Dalam konteks ini, mengingat Allah melalui zikir menjadi salah satu cara menjaga orientasi batin agar tidak sepenuhnya dipenuhi oleh arus informasi dan stimulasi dari layar. Tercantum juga dalam salah satu ayat dalam Al-Qur’an Q.S  Surat Ar-rad ayat 28. Yang berbunyi “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah”. Islam menawarkan konsep ketenangan batin yang tidak bergantung pada derasnya stimulasi digital, melainkan pada keterhubungan manusia dengan Allah. Dengan demikian, salat dan zikir tidak hanya ditempatkan sebagai aktivitas setelah seseorang mengalami kelelahan digital, tetapi sebagai bagian dari upaya menjaga perhatian, kesadaran, dan keseimbangan diri dalam menggunakan teknologi.

Jadi, “jalan pulang” bukan berarti manusia harus menjauhi teknologi. Justru kembali menempatkan teknologi pada fungsi yang semestinya: sebagai alat untuk membantu belajar, bukan sumber distraksi yang terus-menerus mengambil perhatian. Teknologi kembali menjadi alat yang dikendalikan manusia, bukan manusia yang dikendalikan oleh teknologi. 

Pada akhirnya pendidikan digital yang berkualitas tidak hanya melahirkan pelajar yang mampu menggunakan teknologi, tetapi juga pelajar yang selektif dalam menerima informasi dan cerdas dalam memanfaatkannya untuk kebutuhan belajar. Sebab, kecakapan digital bukan hanya tentang seberapa mampu seseorang menggunakan teknologi, tetapi juga seberapa mampu ia mengendalikan diri, memilih informasi yang bermanfaat, dan menggunakan teknologi sesuai dengan kebutuhannya. Akhirnya memperkuat upaya mewujudkan pendidikan yang berkualitas.

Dengan demikian, persoalan digital burnout tidak semata-mata terletak pada kecanggihan teknologi, tetapi pada bagaimana manusia mengendalikan dan memanfaatkannya. Teknologi yang seharusnya menjadi sarana untuk memudahkan kehidupan dan mendukung proses pendidikan dapat berubah menjadi sumber distraksi ketika digunakan tanpa kesadaran, batas, dan tujuan yang jelas. Dalam kondisi tersebut, islam menawarkan “jalan pulang” bukan dengan menjauhkan manusia dari teknologi, melainkan dengan mengembalikan kendali kepada manusia melalui kesadaran diri, muhasabah, serta menjaga hubungan dengan Allah melalui salat dan zikir.

Jalan pulang tersebut pada akhirnya membawa manusia untuk kembali menempatkan teknologi sebagai alat, bukan sebagai sesuatu yang mengendalikan perhatian dan kehidupannya. Dengan kemampuan mengendalikan diri, menyaring informasi, dan menggunakan teknologi berdasarkan kebutuhan, pelajar tidak hanya menjadi pengguna teknologi yang cakap, tetapi juga lebih selektif, sadar, dan terarah dalam belajar. Oleh karena itu, transformasi pendidikan digital yang berkualitas tidak cukup hanya ditandai oleh semakin banyaknya teknologi yang digunakan, tetapi juga oleh kemampuan manusia dalam mengendalikan, memahami, dan memanfaatkannya secara bijak. Dengan keseimbangan antara kecakapan digital dan pengendalian diri serta spiritualitas, teknologi dapat benar-benar kembali pada tujuan awalnya: membantu manusia belajar, berkembang, dan mewujudkan pendidikan yang berkualitas.

Daftar Bacaan:
– Syahfitri, A., Janna, R., Pane, Y. A., Traigan, G. O. U., & Marpaung, R. Z. (2026). Information Overload dan Tantangan Literasi Digital Pada Generasi Z. Jurnal Kolaboratif Sains, 9(6), 3619-3629.
– Nuralmi, A. A., Abdurrazaq, M. N., & Maulana, I. (2024). Kondisi Information Overload pada Mahasiswa IAI AL-AZIS Akibat Penggunaan Media Sosial yang Tidak Sehat. Jurnal Syntax Admiration, 5(12), 5580-5596.
– Wijaya, F. V., Gobai, F. A., Suciawan, A. G., Biondy, M., & Ardyan, E. (2025). Kelelahan Digital Di Era Media Sosial: Studi Tentang Kelebihan Informasi, Kecemasan, Dan Fear Of Missing Out (FOMO). Jurnal Online Manajemen ELPEI, 5(1), 1271-1285.
– Oktaviani, J., & Zatrahadi, M. F. (2026). Doomscrolling dan Information Overload pada Generasi Z: Studi Pustaka Tentang Dampaknya terhadap Kesehatan Mental. Arus Jurnal Psikologi dan Pendidikan, 5(2), 649-655.
– Suud, F. M. (2018). Pendidikan Kedamaian di Era Digital (Telaah Model Forgiveness dalam Psikologi Islam). Fikrotuna, 7(1), 694-716.
– Nurhayati, A., Zamzami, S., & Jannah, L. N. (2025). The Impact of Digital Burnout on Organizational Citizenship Behavior (OCB) among Remote Workers. Jurnal Ilmiah Manajemen, Ekonomi dan Bisnis, 4(2), 115-12
– Munawaroh, M. (2021). Digital fatigue bagi kesehatan fisik dan mental (Studi fenomenologi pada guru di Kabupaten Lamongan). Dar El-Ilmi: Jurnal Studi Keagamaan, Pendidikan dan Humaniora, 8 (2), 79–95.
– Wafiq, A., Syawal, A., Ikrar, & Ahmad, Z. A. (2025). Burnout Akademik di Era Digital dan Persepsi Mahasiswa terhadap Peluang Pemanfaatan Artificial Intelligence untuk Deteksi Dini. Jurnal Sains dan Teknologi (JSIT), 5(3), 426–434.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top