
Malam Jumat yang syahdu membawa saya pada pertemuan yang bukan horor, bukan pula misterius. Melainkan malam yang asyik, menarik, dan hangat. Sehangat senyum masing-masing kita sesaat setelah mendapati klunting notifikasi brimo atau semacamnya. Meski suara kluntingnya yang samar, tapi membawa kehangatan yang berpendar.
Lebih-lebih malam Jumat tersebut (Kamis, 15 Oktober 2026), topik yang mempertemukan dan menyatukan kami dalam naungan Eperlawas, Gemeksekti-Kebumen adalah topik mengenai “Tobong”. Ora kur anget kan? Panas sekalian. Setidaknya panas untuk diri saya pribadi. Apa sebab? Kepanasan saya disebabkan oleh ketidaktahuan saya mengenai tobong dan pergentengan. Padahal tobong yang melahirkan genteng-genteng itu merupakan salah satu perwajahan Kebumen (selain destinasi pantainya). Saya yang orang Kebumen tulen, barulah kali ini melihat tobong tak sekadar tempat membakar genteng.
Sebenarnya istilah tobong tidak hanya berarti tungku pembakaran gerabah, gamping, batu bata, arang kayu, dan sebagainya. Istilah ini juga dipakai dalam dunia seni pertunjukkan yang diartikan sebagai tempat (pertunjukan) yang sifatnya darurat, biasanya dibuat dari bambu. Istilah tobong yang diambil dari Bahasa Jawa merupakan singkatan dari toto bongkar, yang artinya mudah ditoto (ditata, di-set up) dan dibongkar. Karena itu dalam dunia seni pertunjukkan, tobong biasanya terbuat dari bambu supaya mudah untuk ditoto (ditata, dirangkai) dan mudah pula dibongkar.
Acara dengan tajuk Jagongan Rasa: Ngomong Tobong (Screening film, ngobrol buku Tobong dan sekitarnya) berlangsung dengan lancar. Ditemani teman ngobrol atau yang kali ini dipakaikan baju “kanca jagongan” Ahmad Miftakhul Nisyam (seniman dan fasilitator Eperlawas), Karen Hardini (pemilik Rupakar Studio, penulis sekaligus produser film TOBONG), Andika Wahyu P (pengarsip sekaligus sutradara film TOBONG), Ladhijah Triana, Dessy Rachma, Idez Adhi Aksara, Dyan Uki, dan Oktaviani. Acara ini kurang lebih diramaikan oleh 30-40 pengunjung dari anak-anak, remaja, dewasa, hingga orang tua sekalipun. Hanya saja anak-anak pulang lebih dahulu setelah penayangan film selesai, karena esok pagi harus ke sekolahnya masing-masing.

Acara ini dimulai dengan pembacaan doa, penampilan puisi dari anak-anak, penayangan film dokumenter “TOBONG”, dan dilanjutkan dengan ngobrol santai mengenai film tersebut dan buku “TOBONG”. Buah dari penelitian yang dilakukan oleh Rupakar Studio dan teman-teman, melahirkan karya berupa film dokumenter dan buku. Ini merupakan acara yang kedua, setelah launching perdananya yang digelar di komplek tobong yang dijadikan penelitian.
Bermodal motor Vario bapak, dingin malam musim kemarau, saya terjang. Sebelum mengikuti acara ini, saya beranggapan tobong ya hanyalah suatu tempat berbentuk semacam kubus yang menjulang tinggi ke atas yang digunakan untuk membakar genteng maupun batu bata yang sudah dicetak dan sudah dijemur-keringkan. Saat melangsungkan pembakaran, tampak – dari pintu tobong (meski tak berpintu) – api yang menyala dengan kayu bakarnya yang bertumpuk-tumpuk.
Selain itu, yang saya tahu dari tobong adalah bahwa para pekerja atau buruh yang berada di sana ya hanyalah laki-laki saja. Karena pernah suatu waktu di saat duduk di bangku sekolah dasar, pernah sekali main (karena tugas sekolah) ke salah satu tobong untuk mencari tanah liat sisa produksi untuk dijadikan bahan membuat topeng mainan. Sedang buruh-buruh yang saya jumpa-temui di sana (saat itu), ya laki-laki berbadan kekar seumpama binaragawan. Tak kutemu perempuan atau ibu-ibu (saat itu).
Sebelum menginjak ke penayangan film dokumenter TOBONG, Ahmad Miftakhul Nisyam (sebagai fasilitator Eperlawas) memperkenalkan kepada para pengunjung mengenai Eperlawas itu sendiri. “Ini (Eperlawas) merupakan ruang kreatif untuk siapapun yang ingin bermain dan belajar. Untuk berkarya tidak harus kita melahirkan sesuatu yang besar. Cukup diawali dengan yang kecil kecil yang syukur-syukur bisa terus menerus.” Tukas Nisyam.
Selepas mengikuti acara ini, barulah saya dapati bahwa tobong bukanlah sekadar tempat pembakaran genteng. Melainkan tempat yang lebih dari itu. Tempat menopang denyut kehidupan masyarakat. Tempat berlangsungnya kesenian mengolah tanah liat. Hingga tempat pelestarian kebudayaan yang perlu dicatat, direkam, dan diarsipkan.
“Aku melihat genteng tidak hanya produk industri, melainkan sebuah kebudayaan.” Ungkap Karen Hardini selaku produser film TOBONG, penulis bukunya, dan pemilik Rupakar Studio. Karena alasan itu (salah satunya) yang kemudian memberangkatkan Karen ke gersang, berdebu, dan panasnya tobong.
Dia juga menjelaskan bahwa buku TOBONG yang juga merupakan luaran penelitiannya (selain dalam bentuk film), memuat beberapa hal yang tidak tercantum dalam film dokumenter tersebut. Karen juga menjelaskan bahwasanya apa yang sudah mereka kerjakan ini bukanlah akhir, melainkan Langkah awal untuk nantinya di kemudian hari terlahir karya-karya yang lain yang memperbincangkan tobong.

Selepas melihat film dokumenter TOBONG, kemudian menyimak perbincangan soal tobong, saya dapati bahwa ternyata dalam dinamika tobong, tak hanya laki-laki yang berperan di dalamnya. Perempuan-perempuan yang mereka juga seorang ibu, yang punya anak, yang mengurus rumah, juga terlibat dalam riuh redam kehidupan di lingkungan tobong. Dalam film tersebut, terpampang perempuan yang juga ikutan mencetak genteng, nyurung grobag, menjemur genteng, menata genteng ke dalam rak, melansir genteng keluar masuk tobong, dan kegiatan-kegiatan lainnya.
Baik disadari ataupun tidak. Kedua karya ini, baik filmnya maupun bukunya tampak jelas sedang mengkampanyekan ketangguhan perempuan, etos kerjanya, kebaikannya, kehebatannya, dan keberaniannya. TOBONG garapan Rupakar Studio dan teman-teman tak lain adalah bentuk perlawanan terhadap stigma-stigma negatif atau rendahan yang disematkan kepada perempuan.
Jika masih ada yang beranggapan bahwa perempuan itu lemah, sudah sepantasnya kita menyarankan ia untuk melihat film TOBONG dan membaca bukunya. Alih-alih langsung menggandengnya masuk ke barisan genteng-genteng yang siap masuk ke dalam pelukan Tobong.

Saya pribadi merasa senang dengan lahirnya TOBONG baik film maupun bukunya. Meski dalam film maupun bukunya masih ada detail detail yang belum tersentuh, seumpama tak menampilkan proses wawancara langsung atau menayangkan informannya; dari segi bukunya, sebagaimana yang disinggung oleh salah satu pengunjung juga, belum secara detail menarasikannya; akan tetapi hadirnya TOBONG baik yang bertubuh film maupun buku sudah cukup membawa kabar gembira terutama dalam bidang literasi dan dokumentasi atau pengarsipan, khususnya di Kebumen.
Selain itu kelahiran TOBONG baik film maupun buku, setidaknya sudah membuat tobong-tobong kecil dalam hati dan akal budi pengunjung, penonton, maupun pembacanya menjadi menyala kembali atau senantiasa terjaga nyalanya.
Fajrul Alam. Penyair muda dan aktif di dunia literasi Purwokerto, ia juga telah menerbitkan sejumlah karya puisi yang tersebar di berbagai media cetak dan digital. Buku antologi puisi pribadinya berjudul “Resep Bahagia” (JP: 2025). Bisa disapa via IG: fajrulalam_




