Bagaimana Seni(man) Bekerja?

JABFEST 2026 merah nan menyala koreonya. Ini tahun kedua saya menjadi warga “Istimewa”, setelah memantapkan diri hijrah dari “tanah dikuburnya Amangkurat II”—Kabupaten Tegal—ke Mataram Yogyakarta. Tahun kedua pula saya menjadi “saksi mata” bagaimana seni dan literasi bisa berfusi, lalu berfungsi. Tahun sebelumnya, JABFEST 2025 mempertemukan saya dengan Kuntowijoyo dan sejumlah percakapan yang membuat kepala tidak lekas pulang.

Dua hari sebelum acara dibuka, Mas Bangkit, Mas Dukuh Sawit yang progressi(p)ve, mengirimi saya foto selfie bersama Pak Dodo Hartoko, Direktur JABFEST. Saya lihat fotonya. Lalu muncul irādah untuk hadir. Begitulah kadang cara sebuah acara memanggil kita. Tidak melalui undangan resmi. Cukup lewat foto WhatsApp.

Kupamitkan kepada istri dan anak. “Ayah pamit dulu, mau ke Sewon. Ada acara literasi.” Begini saya sedang belajar menanamkan adab pamit kepada anak. Kelak kalau hendak bepergian, semoga ia tahu bahwa pergi bukan sekadar meninggalkan rumah. Ada orang yang perlu diberi tahu, ada doa yang perlu dimintakan, ada yang menunggu kita pulang.

Revo merah dinyalakan. Tas kanvas ala-ala usia 30-an skena sudah siap. Isinya buku catatan, pena, dan botol tumbler ijo yang diisi penuh air putih. Lengkap. Saya pun berangkat.

Selepas Ringroad Ketandan, dari KM 10 JAWON saya ambil arah ke selatan. Sampailah di The Ratan. Begitu turun dari kendaraan, mata langsung disambek sebuah tulisan besar dengan scaffolding tinggi dan capital alphabet berwarna merah menyala yang membuat orang sulit pura-pura tidak melihat: SENI BERUMUR PANJANG, REZIM HANYA SEMENTARA. Mbatin neng atiku. Merahhh jendralll. Sek-sek, aku golek parkiran sek iki, Revone. “Mas, dua ribunya. Nitip helm, yo.” “Siap, Mase.” Selesai nitipke. Saya masuk. Isi daftar hadir. Cari tempat duduk. Duduk tenang. Sesekali melihat panggung, sesekali memperhatikan orang-orang di sekitar. 

Saya datang sebagai penonton. Setidaknya begitu niat awalnya. Tetapi setelah beberapa saat, posisi “penonton” terasa kurang tepat. Ada sesuatu yang sedang dikerjakan di depan saya. Bukan sekadar orang yang sedang memamerkan karya. Bukan sekadar orang naik panggung. Bukan sekadar orang membicarakan buku. Ada sesuatu yang sedang dicoba untuk dipertahankan: ingatan, pertanyaan, kegelisahan, dan mungkin juga kewarasan. Barangkali inilah yang disebut bekerja.

Tema JABFEST 2026—“Saksi Mata: Ketika Pendangkalan Berkuasa, Pendalaman Harus Bekerja”—seperti sengaja dilemparkan kepada siapa saja yang datang. Festival ini mempertemukan buku, seni rupa, musik, sastra, dan percakapan publik di The Ratan, dari 30 September hingga 12 Oktober 2026. Saya kemudian bertanya kepada diri sendiri: Bagaimana seni bekerja? Bukan bagaimana seni dipajang. Bukan bagaimana seni dipuji. Bukan pula bagaimana orang berfoto di depannya. Tetapi bagaimana seni bekerja pada manusia?

Saya jadi teringat tulisan di depan tadi. SENI BERUMUR PANJANG, REZIM HANYA SEMENTARA. Kalimatnya pendek. Tetapi umur sebuah kalimat kadang lebih panjang daripada umur orang yang pertama kali mengucapkannya. Seni mungkin memang begitu. Ia mencatat sesuatu ketika kita sedang terlalu sibuk mengalaminya. Sebuah gambar bisa menyimpan zaman. Sebuah lagu bisa mengembalikan seseorang pada masa yang sudah lama ditinggalkan. Sebuah buku bisa membuat peristiwa yang telah lewat kembali mengetuk kepala. Sebuah pertunjukan bisa membuat kita bertanya tentang sesuatu yang selama ini kita anggap biasa.

Ia seperti syahādah—kesaksian. Bedanya, kesaksian seni kadang tidak hadir dalam bentuk berita acara. Ia bisa berupa warna, bunyi, kata, gerak, atau benda yang tampaknya sepele. Karena itu seni tidak selalu bekerja dengan suara keras. Kadang ia hanya membuat seseorang berhenti. Berhenti melihat. Berhenti membaca secara tergesa-gesa. Berhenti menelan informasi bulat-bulat. Lalu bertanya. Apa? Mengapa? Bagaimana? Lah kok iso? Opo koyo ngono? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu sekarang terasa makin mahal.

Jempol kita sudah terlatih untuk bergerak lebih cepat daripada kepala. Judul berita dibaca sekilas. Video belum selesai sudah scroll lagi. Belum memahami persoalan, sudah ikut berkomentar. Belum tahu duduk perkaranya, sudah punya kesimpulan. Kadang manusia berhasil menjadi “saksi mata” tanpa benar-benar melihat. Di sinilah saya kira seni dan literasi bertemu. Keduanya mengajak kita ngalap kaweruh—mencari tahu—sebelum merasa sudah tahu. Dan JABFEST tidak berhenti pada pameran. Ada Ngobrolin Buku, Berbincang, Pidato Kebudayaan, Kuliah (Ora) Umum, Seniman Bicara, Seni + Literasi, dan bazar buku. Rasanya seperti sebuah pasar. Bedanya, yang disajikan bukan hanya buku. Ada ruang dan pertemuan gagasan. Ada ingatan. Ada kegelisahan. Ada percakapan. Dan tentu saja ada manusia-manusia yang membawa isi kepalanya masing-masing. Saya kira di situlah menariknya sebuah festival.

Kita datang dengan kepala sendiri, bertemu kepala orang lain, lalu pulang membawa sedikit gangguan. Gangguan yang baik, mudah-mudahan. Sebab membaca memang tidak selalu membuat orang tenang. Kadang justru membuat gelisah. Begitu juga seni. Karya yang bekerja tidak selalu membuat kita berkata, “Wah, bagus!” Kadang ia membuat kita diam. Kadang membuat kita tidak nyaman. Kadang malah membuat kita pulang sambil berpikir, “Lho, kok saya jadi kepikiran ini?” Dan mungkin di situlah pendalaman bekerja.

Pendalaman tidak selalu berarti membuat sesuatu menjadi rumit. Kadang justru sebaliknya yaitu melihat sesuatu lebih lama, membaca lebih pelan, mendengar lebih utuh, tidak lekas percaya, tidak buru-buru membenci, tidak buru-buru memuji. Sesederhana itu. Tetapi pada zaman yang segala sesuatu ingin segera diberi judul, segera diberi komentar, segera diberi kesimpulan, pekerjaan sederhana semacam itu ternyata cukup melelahkan.

Saya kembali melihat tulisan di depan. SENI BERUMUR PANJANG, REZIM HANYA SEMENTARA. Dari adagium ini, Saya tidak terlalu memikirkan soal rezim —yang fasis itu. Yang membuat saya berpikir justru kata pertama: seni. Apa yang membuat seni bisa panjang umur? Mungkin karena seni tidak hanya menyimpan apa yang sudah terjadi. Ia juga menyimpan cara manusia merasakan apa yang terjadi. Dan perasaan manusia kadang lebih keras kepala daripada waktu. Rezim berganti. Orang-orang bergant. Tetapi sesuatu yang sudah masuk ke dalam ingatan manusia belum tentu ikut dibongkar.

Mungkin itu pekerjaan seni. Ia menanam. Lalu menunggu. Tidak buru-buru. Tidak banyak bicara. Sampai suatu hari, entah kapan, seseorang datang membawa pengalaman hidupnya sendiri dan menemukan bahwa sesuatu yang pernah dilihat, dibaca, atau didengarnya bertahun-tahun lalu ternyata masih bekerja di dalam dirinya.

Saya kira saya datang ke JABFEST untuk melihat acara. Ternyata saya pulang membawa pertanyaan. Dan pertanyaan itu tidak ada di dalam tas. Tidak masuk ke buku catatan. Tidak tertulis di tiket. Ia ikut duduk di atas Revo merah. 

Di perjalanan pulang, saya menyalakan Revo merah. Botol Tumbler ijo sudah habis isinya. Buku catatan masih belum banyak terisi. Tapi kepala sudah penuh. Yo wis. Besok mungkin saya kembali bekerja seperti biasa. Namun malam itu, seni telah lebih dulu bekerja pada saya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top