55 cm dari Kunci Surga

Seduhan kopi yang menguar memenuhi ruang tengah buatan ibuku secara ajaib melepaskan kelelahanku, kau tau? inilah kopi favoritku jangan kau hina! setiap manusia punya selera dan seleraku adalah kopi dengan gula merah, sungguh perpaduan manis, pahit dan asin! Aku suka!

Di meja warisan Mbah kakungku yang menghadap ke arah barat dengan dua kursi, ditaruhnya secangkir cinta untuk mengawali setoran mengadu nasib pada diary-ku, di sampingnya kudapati beberapa buku yang bertumpuk tak beraturan. Mungkinkah harus aku selesaikan malam ini?

Tergeletak buku sejarah Sunan Gunung Jati, dan juga Walisongo. Mungkin dari kalian sudah tak asing lagi dengannya? satu lagi buku karya Tere Liye yang kupinjam di perpus kampus satu minggu yang lalu.

Kuedarkan pandangan menyisir tiga tumpukan itu, melihatnya iba seolah buku itu butuh belaian dariku, karena aku belum punya cukup waktu untuk menenggelamkan diri ini di dalamnya. Jujur saja, buku itu sudah kutimang-timang layaknya kekasih yang manja, ingin sekali menelanjanginya, sebab dadaku sudah berderu menggebu, menebak-nebak seperti apa isinya? tapi, bagiku kalau membacanya di sela-sela kesibukanku itu tak enak, kaya nunggu series yang on going. Tak enak! yang ada nanti kepalaku isinya tebak-tebakan buntu.

Sembari kusesap secangkir cinta itu, kuhirup aroma manis dari gula yang sudah larut menyatu padu bersama kopi, ingatanku melambung di suatu pagi yang sibuk, ada jadwal kuliah pagi pukul 06.45, gawaiku yang sedari subuh bergetar tanda ada pesan masuk kuabaikan, sibuk bersiap-siap ternyata setelah kuperiksa, mata kuliah pagi itu dipindah jadwal menjadi jam 13.00.

Menurut kalian aku di sini bersungut-sungut atau bergembira sambil menjatuhkan diri di kasur?! Jawabannya tidak lain dan tak bukan, jelas aku langsung lari ke pelukan pulau kapuk yang nyaman, untuk apa bersungut-sungut tak penting! Namun sebelum kakiku melangkah, mataku melirik notif masuk, di sana tertera “Guys jam 07.45 harus udah standby di depan rektorat, titik kumpul kita di sana, see u soon yah. Oh ya,,, Don’t to milk guys, liver-liver on the road all” setelah selesai sampai kalimat akhir, aku sedikit terkikik maknanya itu ‘Ojo kesusu guys, hati-hati di jalan semuanya’

Temanku mengirim pesan pengingat untuk berangkat mengajar di SLB. Kutepuk jidatku, “Ya Tuhan, selalu ada saja yang mengganggu mesraku dengan sang kapuk”, dengan berat hati, aku hanya duduk sambil menggulir modul ajar yang akan dibawakan ketika pembelajaran. Tidak jadi rebahan, takut kusut!

Di depan gedung hijau itu pembelajaran di mulai, ada temanku yang menyiapkan tripod untuk merekam dan aku bergelut dengan posisi bidikan kamera gawaiku yang usang. Hatiku berdesir melihat murid-murid yang antusias untuk belajar, meskipun ada beberapa yang berhalangan hadir.

Satu anak bernama Jibran kudekati, mengamatinya lebih dekat, seperti anak pada umumnya ketika sekilas dilihat, nyatanya ia pengidap tuna grahita ringan dan tuna rungu. Terpatri senyum indah di wajahnya, tak terlewatkan sedetikpun saat mata kami bertemu ia selalu tersenyum.

Membawa ingatanku melambung jauh ketika aku membaca novel yang kala itu masih belum diterbitkan, menghabiskan sekotak tisu, lalu pagi harinya mataku seperti dientup tawon, ibuku tertawa melihatku. Lihatlah hasil karyaku, semalaman menamatkan novel 483 halaman, rekor! Mungkin sekarang novelnya sudah puluhan kali dicetak, karena di dalamnya mengisahkan lelaki tuli dengan segala kerumitan hidupnya, intinya di dalam novel tersebut menceritakan perlakuan kejam yang didapatkan dari penyandang disabilitas tuna rungu.

Melihat wajah Jibran hatiku berdesir, ia membaca gerak bibirku yang mengajaknya mengobrol hal-hal sederhana yang bisa dipahami, ia sesekali kebingungan menangkap maksud perkataanku, nanti diperlambat dan diperjelas gerakan bibirku sambil mengayunkan tangan mengenai topik yang sedang kami obrolkan, ia pandai mewarnai bahkan menggambar! kukatakan padanya bahwa Jibran sangat hebat! bagaimana tidak, gambar yang tertempel di dinding kelas membuat sisanya semakin hidup, sebagian besar tertera nama Jibran di pojoknya, sudah kuduga anak ini memiliki bakat seni yang tak tertandingi.

Kembali lagi kupandangi hasil karyanya, aku memujinya lagi, kali ini senyumnya semakin lebar sampai nampak deretan giginya yang rapi dan lesung pipinya di sebelah kanan, ia berterimakasih dengan gerakan tangannya, aku sedikit mengerti dulu sempat aku belajar bahasa isyarat basic seperti ejaan nama, ucapan terimakasih, dan kalimat pujian dasar, namun sekarang sudah hilang termakan waktu.

Bel istirahat berbunyi memenuhi penjuru sekolah, kini semua murid sudah mendapatkan jatah MBG, kuedarkan pandangan semuanya makan dengan lahap sampai netraku menangkap sosok anak laki-laki bernama Gilang yang duduk di kursi roda, ia terdiam kaku mata indahnya berkilau mengerling kesana kemari, sampai mata kami bertemu, tatapannya layu, dia pasti lapar! Aku ingin mendekatinya namun ku urungkan karena terlalu banyak pertanyaan di kepalaku, bagaimana kalau ternyata ia sudah dibuatkan bekal khusus oleh ibunya seperti makanan yang mudah ditelan tanpa dikunyah, bagaimana kalau dia ada alergi dengan lauk kali ini, terlalu banyak bagaimana di otaku.

Lalu sosok ibu-ibu muncul dari belakangku, mendekatinya, mendulanginya dengan sabar makanan bergizi program baru dari presiden kami, aku tak bisa berkomunikasi baik dengan Gilang, ada beberapa makna yang belum bisa ku artikan, intinya kalau dia tersenyum berarti ia setuju.

Terlepas dari itu kulihat matanya kembali mengerjap-ngerjap, bibirnya membentuk bulan sabit dia bahagia rasa laparnya mulai memudar, setiap mengunyah ia terbatuk-batuk dan tersedak. Oh Tuhan! Kuat sekali orang tua mereka,,, berapa lama ia menengadah menahan rasa perih, pedih, remuk ajur tak bisa kubayangkan rasanya, buah hatinya harus menerima takdir sedemikian rupa untuk waktu seumur hidup.

Salah satu doa yang dilangitkan oleh para orang tua yang berada di posisi ini, mungkin beliau ingin diberi umur panjang untuk selalu mendekap cintanya, kasihnya, darah dagingnya, kunci surganya. Mataku memanas, sambil kulirik anak ibu tersebut, sendok demi sendok ia suapi anaknya, sesekali tersedak, minum lalu batuk batuk. Tak terbendung lagi, mataku seperti terkena rendaman air bunga Kitolod, perih!

Ingatan itu kembali kepermukaan kulirik cangkir cintaku mulai tandas, ampas kopinya mulai terlihat mengantarkan ku ke malam yang semakin larut namun suara takbir mengudara di penjuru bumi, di surga sekalipun? ya malam ini adalah malam Idul Adha yang dinantikan seluruh umat baik yang sedang menunaikan panggilan haji juga yang menyiapkan kendaraannya di akhirat kelak, menenangkan sekali suara takbir yang saling sahut menyahut, sungguh hatiku damai namun ada yang mengganjal, seperti menelan obat tambah darah yang nyangkut ditenggorokan.

Pikiranku carut marut seperti diparut habis-habisan, mungkin kalau bisa diperas akan menjadikannya santan yang kental kemudian tinggal dicampurkan dengan daging kurban besok pagi maka jadilah rendang yang rasanya nendang. Bagaimana bisa aku mengabaikan tugas-tugas kampusku yang beranak pinak, sungguh subur reproduksinya.

Kuraih gawai di atas buku karya Tere Liye, berselancar di sana, mataku terpaku dengan jepretanku di SLB C-C1 itu, sekolah yang dikhususkan untuk ABK dengan kekurangan tuna grahita, namun setelah ku selami lebih dalam ternyata ada tuna daksa, tuna laras, adapun tuna rungu, juga down syndrome.

Setelah lamat lamat kupandangi hasil jepretan dari gawaiku, akhirnya kuputuskan untuk meng-uploadnya di akun media sosialku, sebagai bentuk rasa hormatku kepada mereka yang telah memberikan pengalaman tak ternilai. Sampai tidak bisa terbendung lagi perasaanku untuk menuntaskan pengalaman seperti ini, senang bercengkrama dengan mereka, aku senang melihat gurat bahagianya, lengkungan di dimatanya.

Yang tadinya hanya berada di imajinasiku saat membaca novel, sekarang berada persis 55 cm di depan wajahku si pemilik kunci surga. Untuk semua muridku yang sudah kuanggap kalian seperti anakku!? bangga pada kalian, yang selalu mengusahakan untuk belajar mengamalkan mahfudzot “Utlubul ‘ilma minal mahdi ilal lahdi”.

Terima kasih sudah menemaniku berkelana dan menerimaku mampir di kehidupan kalian, meskipun hanya dengan waktu yang sangat singkat. Kepada anakku semuanya di sana, kuhaturkan rasa hormatku dan keharuanku atas semua kehebatan kalian yang di sela-selanya kudapati sosok yang dirindukan surga.

Bagiku tidak ada kekurangan yang akan menghalangi perjalanan hidup, semua yang ada adalah takdir yang dirancang sebaik-baiknya oleh Tuhan, sebagai pilihan Tuhan tentunya, kau akan hidup bahagia, selamanya bahagia.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top