Bisik Serayu Festival 2026, Empat Pilar Kebangsaan, dan Dari Bibir Hingga Pipir

Jika Anda adalah pembaca serangkaian reportase Bisik Serayu Festival 2026, mungkin saja akan menyadari bahwa di setiap tulisannya ada istilah ‘pipir’. Paragraf pertamaku kali ini langsung membuka satu resep dapur khusus acara ini, yang ketika mendengar ide harus ada kata ‘pipir’ di setiap tulisan artikel sempat membuatku menganggapnya sebagai lelucon, ini serius, kah?

Mungkin sepekan sebelumnya, di WhatsApp group kami membahas foto dokumentasi yang menurut kawanku adalah hasil jepretanku dan aku tidak mengingatnya, lalu temanku itu meyakinkan, “Kiki yang (ketika prosesi pembukaan Bisik Serayu Festival) tahun lalu sampai ikut ke pipir.” Tapi responku justru menanyakan, apa itu ‘pipir’? Setelahnya yang lain menimpali soal ‘pipir’ yang baru pertama kali aku ketahui. Ternyata artinya: pinggir sungai.

Baru tahu satu kosakata baru, aku seperti remaja tanggung yang sok menggunakan kata tersebut, tapi tidak disangka justru jadi kosakata wajib artikel dapur kami di Bisik Serayu Festival tahun ini. Ya, wajar, kan, kalau aku pasang wajah masam dan menganggap ini lelucon? Sesederhana dari aku enggak tahu artinya ‘pipir’, berujung ‘pipir’ jadi syarat wajib para artikel event ini. Agak laen dapur redaksi ini, hm..

Tapi, mari rayakan pengetahuan baruku soal pipir tersebut. Jika di tahun lalu aku sampai ke pipir saat prosesi pembukaan Bisik Serayu Festival, di tahun ini aku sampai juga di pipir sembari menahan badanku di paling depan di antara para penonton yang ramai di belakangku. Tahun ini, aku penonton VIP di pipir Kali Serayu. Ceritaku hanya sepenggal dari siang hingga sore di hari pertama: menyapa warga penjual rujak sayur tempatku makan tahun lalu, mengobrol dengan Ibu Siti Mukaromah selaku perwakilan MPR dan DPR RI, dan tentunya menjadi penonton VIP prosesi pembukaan Bisik Serayu dengan segenap kekuatan kaki dan paha menahan tubuhku di pipir sungai yang agak miring menjorok ke air.

Bisik Serayu Festival 2026: Perayaan yang Tetap Milik Tuan Rumahnya

Agaknya tulisan ini akan ada unsur nostalgiaku setahun lalu untuk pertama kalinya hadir di Bisik Serayu Festival. Jika setahun lalu aku sangat mengandalkan Google Maps dan menyalakan fitur live location untuk dipantau teman terdekatku untuk sampai di lokasi acara, tahun ini aku hanya butuh satu kali membuka Google Maps ketika sampai di perempatan dekat Pasar Patikraja untuk memastikan apakah aku masih harus lurus atau sudah bisa belok ke arah kiri. Jika setahun lalu aku berhenti di masjid dekat lokasi acara untuk salat zuhur, tahun ini aku juga ke masjid yang sama untuk salat zuhur sebelum ke lokasi acara. Jika setahun lalu aku agak ngeri menuruni jalanan berbatu menuju lokasi acara, tahun ini aku memilih melewati turunan berbatu tersebut meskipun sudah jauh lebih santai.

Untuk yang terakhir di paragraf sebelumnya, dulu aku betul-betul kagum saat melihat festival di tengah perkampungan yang mengharuskanku melewati turunan berbatu tersebut, aku berpikir kerennya festival di perkampungan ini sampai membuat beberapa penonton dan pengisi dari luar negeri rela berusaha untuk sampai di sini. Tahun ini, meskipun tidak seheran setahun lalu, aku tetap mengagumi daya tarik festival di pipir Kali Serayu ini hingga mendatangkan penonton maupun pengisi acara dari luar kota bahkan luar negeri. Maka jika ada yang harus diprioritaskan kebahagiaannya dalam perhelatan ini, aku akan setuju jika jawabannya adalah warga Desa Kaliori, tuan rumah Bisik Serayu Festival 2026.

Aku mendengar sambutan Mas Rianto dari toilet di hari pertama. Dalam sambutannya, Mas Rianto mengucapkan terima kasih kepada warga Desa Kaliori sebagai ucapan terima kasih yang pertama. Aku setuju jika ucapan tersebut untuk yang pertama ditujukan kepada warga desa, sebab festival tersebut harus tetap dimiliki warganya, yang sudah sangat hangat menyambut kedatangan kami para penonton yang memadati halaman rumah mereka sebagai tempat parkir. Beberapa rumah menyambut kami yang butuh ke toilet atau menumpang salat. Pemandangan yang mungkin jarang aku temui di masa kini jika tidak di Bisik Serayu Festival 2026.

Aku perhatikan warga setempat tidak bersikap inferior dengan kehadiran banyak tamu ‘orang kota’ atau ‘orang luar negeri’, mereka tetap menjadi diri sendiri selama berinteraksi dengan para tamunya, hal yang genuine yang dibutuhkan penonton dari kota maupun daerah lain untuk mendapatkan atmosfer utuh festival yang digelar di perkampungan. Intim, mungkin itu kata yang tepat untuk mendeskripsikannya. Bukan warga desa yang gumunan melihat penonton festival dari kota atau luar negeri, namun sebaliknya: penontonlah yang dibuat gumunan ketika sampai di perkampungan ini, penonton yang harus menyesuaikan diri.

Jika panggung festival masih kosong atau belum ada sesi pun, masih ada warung-warung warga yang bisa disinggahi. Membeli es atau jajan di sana dengan harga yang murah sambil berinteraksi dengan penjualnya. Bukan hal aneh juga jika kita dipersilakan duduk dan terlibat dalam obrolan ngalor-ngidul dengan penjualnya. Tidak usah khawatir akan planga-plongo di sana sebab selalu ada warga yang supel dan menerima kehadiran penonton festival yang membutuhkan tempat bersantai atau sekadar menumpang salat. Tanpa kebesaran hati warganya, Bisik Serayu Festival akan kehilangan salah satu daya tarik terbesarnya: kehangatan dan perasaan intim festival kesenian berskala internasional yang menolak adanya stratifikasi sosial. Seperti yang aku singgung di tulisanku setahun lalu: tanpa perlu berisik pun festival ini akan tetap dilirik.

Menjadi Jamaah ‘Workshop’ Empat Pilar Kebangsaan 

Sebetulnya aku kurang nyaman dengan penyebutan sesi ini sebagai ‘workshop’, sepertinya lebih tepat disebut sebagai sosialisasi, dan setelah mengikuti sesi ini sepertinya lebih cocok lagi jika disebut sebagai renungan bersama. Ya, kalau tidak untuk bersama, setidaknya minimal untuk aku.

Sejak pertama membaca rundown acara dan menemukan adanya sesi ini, aku langsung memikirkan dua hal. Pertama, akan seperti apa sesi terkait Empat Pilar Kebangsaan ini jika dilaksanakan di siang bolong dalam festival pertunjukkan yang didominasi tari? Kedua, jika sesi ini terjadi dalam kurun waktu yang cukup lama, bukankah audiensnya akan bosan? Jika pengisi sesi tersebut tidak membaur atau menyesuaikan, rasanya sesi tersebut akan monoton dan sangat membosankan.

Meskipun waktu pelaksanaannya bergeser menjadi sore hari setelah beberapa penampilan tarian dari penari usia belia dalam rangkaian pra acara, namun menurutku itu jauh lebih baik dari perkiraanku soal sesi siang terik membahas Empat Pilar Kebangsaan. Bukan tak cinta tanah air, namun manusiawi saja jika di tengah terik siang hari pasti akan melelahkan jika harus membahas Empat Pilar Kebangsaan.

Setelah menumpang salat asar di sebuah musala milik warga, aku menuju panggung utama dengan memilih tangga sebagai tempat duduk, sore itu aku menjadi jamaah sesi yang membahas Empat Pilar Kebangsaan. Pengisi acaranya adalah seorang perempuan paruh baya yang sering aku lihat dulu di baliho dalam perjalanan dari rumahku menuju sekolah. Sejak berstatus sebagai siswa yang belum memiliki hak suara hingga sudah memiliki hak suara, aku tak asing dengan nama beliau yang dulu aku baca ketika memasuki masa kampanye pemilihan anggota DPR (walaupun aku sudah lupa, sebagai kandidat calon anggota DPR atau DPRD). 

Ibu Siti Mukaromah, perwakilan dari DPR RI sekaligus MPR RI. Hal pertama yang aku hormati dari beliau adalah kehadirannya sejak sesi pra acara, di siang hari yang agak terik, duduk di kursi paling depan yang sama sekali tidak teduh karena tak berpayung dahan pohon. Beliau ikut menonton seluruh sesi pra acara yang diisi penari berusia belia, usia TK hingga (mungkin) SMP, yang bisa dikatakan adalah pemula. Aku tahu panggung itu sangat istimewa bagi mereka, sebagai panggung yang mengasah mental dan memberikan kesempatan untuk menari sebagai calon seniman mendatang, kehadiran penonton tentu akan membahagiakan kerja keras anak-anak tersebut, pasti akan menjadi cerita berharga bagi mereka kalau memiliki pengalaman menari semasa kecil dan disaksikan langsung oleh seorang perwakilan MPR RI/ DPR RI.

Setahuku tak ada pejabat lainnya siang itu, jadi aku agak kaget ketika MC menyapa beliau yang rupanya sudah hadir sejak awal. Mungkin karena tak bersama pejabat lainnya, aku tak menyadari kalau perempuan berjilbab hitam yang duduk di depan itu adalah Ibu Siti Mukaromah.

Selama sesi yang disebut sebagai workshop tersebut, kekhawatiranku akan sesi yang membosankan itu tidak terjadi, agaknya Ibu Siti Mukaromah ini tipikal pejabat yang cukup bijak menyesuaikan situasi dengan penyampaian yang cukup singkat dan padat. Di awal, beliau menyampaikan dukungannya terhadap pelaksanaan Bisik Serayu Festival 2026 sebagai bagian dari upaya melestarikan budaya, sekaligus bagian dari upaya pemersatu bangsa Indonesia melalui konsep kesenian, serta bentuk kepedulian terhadap lingkungan. Beliau menyampaikannya tanpa teks sehingga menurutku beliau memahami betul nilai-nilai yang ingin disampaikan oleh konseptor festival ini. Beliau juga mengajak kami bersyukur atas nikmat Yang Maha Kuasa menjadikan kami sebagai masyarakat Banyumas. Menurutnya, Gunung Slamet dan Sungai Serayu sudah mengajarkan filosofi hidup yang tak biasa, yaitu Gunung Slamet sebagai gunung tertinggi di Jawa Tengah yang berdiri kokoh tanpa pucuk, yang artinya tidak sombong merasa paling tinggi sendiri, yang justru memberikan perlindungan dan kehidupan bagi makhluk hidup yang ada di sekitarnya. Lalu Sungai Serayu yang mengalir jauh hingga ke kabupaten-kabupaten lainnya dengan airnya yang berwarna cokelat, yang berarti menghidupi banyak makhluk hidup yang notabene membutuhkan air, yang meskipun berwarna cokelat tidak menghilangkan kemurnian warna air yaitu jernih.

Beliau sempat sedikit bercanda bahwa sesinya sore itu sebetulnya sudah disiapkan banner, namun karena angin sore di tepian Sungai Serayu hari itu cukup kencang dan panitia yang sempat memegangi banner tersebut tidak sanggup menahannya sehingga banner yang sudah disiapkan tidak dibentangkan. Candaan tersebut mencairkan suasana, menurutku itu juga menenangkan para panitia yang sangat mungkin sedang tegang atau kebingungan karena persoalan teknis tersebut, setidaknya hal tersebut bukan menjadi suatu masalah tersendiri.

Di awal sub ini, aku menyampaikan kalau aku lebih nyaman menyebut sesi ini sebagai renungan bersama. Itu karena sesi ini bukan menggurui atau memberi informasi, namun mengajak untuk mengingat kembali Empat Pilar Kebangsaan yang sebetulnya sudah kita pelajari di bangku sekolah dasar. Ibu Siti Mukaromah mengawalinya dengan memberi kuis bagi audiens untuk menyebutkan Empat Pilar Kebangsaan. Seorang audiens yang merupakan mahasiswa maju meskipun diiringi guyonan kalau mahasiswa tersebut baru membuka contekan di Google. Tapi Ibu Siti Mukaromah tidak menghakimi mahasiswa tersebut, kritiknya sebatas menanggapi guyonan soal contekan saja. Lalu beliau mengajukan kuis selanjutnya bagi audiens, yaitu menyebutkan lima sila Pancasila, kali ini selain dia orang mahasiswa ada juga seorang ibu dan seorang anak kecil yang sebelumnya adalah penampil yang nembang sekaligus menari. Dari kuis yang kedua ini, justru yang menyebutkan sila-sila Pancasila secara tepat tanpa typo kata sedikit pun adalah anak kecil yang juga merupakan penampil.

Di situ renungannya. Aku melihat semuanya dari tempat dudukku sambil memangku buku dan pulpenku. Yang dulu wajib dihafalkan saja belum tentu diingat, terlepas dari pro kontra soal pendidikan di Indonesia yang lebih sering mengajak siswa untuk menghafal, seandainya tidak diwajibkan untuk menghafalnya lalu bagaimana memahaminya? Pendidikan karakter memang bukan soal hafalan, tapi aku ingat kalau pengalamanku memahami Pancasila sangat terbantu oleh ingatan masa kecilku yang menghafal lima sila tersebut. Sewaktu aku kecil, kalimat-kalimat dari kelima sila tersebut sepertinya ‘terlalu dewasa’ untuk pemahaman bocahku, namun saat dewasa kalimat-kalimat tersebut akhirnya dapat kupahami arti dan maknanya. Maka bagaimana jika lima kalimat yang maknanya menjadi hal pokok dalam kehidupan bernegara ini tidak dihafal? Padahal mungkin saja hafalan itu yang membantu penghafalnya merasa memiliki negeri ini sebelum akhirnya saat memahami dapat mengkritisi praktik kehidupan yang terjadi. 

Sesi ini tak bertele-tele. Bahkan sesi ini tak membuang banyak waktu untuk bagi-bagi hadiah atau foto-foto. Tapi selesainya sesi ini, aku merenungi bagaimana Empat Pilar Kebangsaan seharusnya dipahami, dan bagaimana Pancasila seharusnya dimengerti.

Prosesi Manten Gethek: Antara Doa dan Pertanyaan 

Buatku prosesi Manten Gethek adalah salah satu sesi yang paling aku nantikan. Sesi ini tidak semarak dengan rancak bunyi atau tarian yang ceria, namun cukup berkesan dengan segala nilai filosofis dan spiritual di dalamnya. Kirab yang sebetulnya dari Daharan Nusantara itu baru aku lihat ketika sudah memasuki pendopo yang ditandai dengan menarinya dua sejoli berpakaian pengantin warna hijau. Tak hanya dua sejoli tersebut, ada sepasang pengantin berpakaian adat warna hitam, Mas Rianto selaku maestro Lengger Lanang, dan beberapa seniman dan tokoh adat. Kirab tersebut berjalan menuju panggung utama yang difungsikan sebagai tempat ritual, sebelum kemudian menuju pipir Sungai Serayu dan menaiki gethek.

Secara filosofis dan spiritual, prosesi ini berarti pernikahan suci antara manusia dengan Sungai Serayu. Selayaknya suatu pernikahan yang diikat oleh janji untuk saling mencintai, menghormati, menjaga, dan saling menunaikan hak serta kewajiban, prosesi ini mengingatkan pentingnya menjaga dan merawat alam dan lingkungan yang sudah memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Pelarungan sesaji dalam prosesi ini bermakna pelarungan segala ego dan sifat serakah pada diri manusia yang cenderung tidak pernah merasa puas sehingga terus-menerus mengambil (mengeksploitasi) alam. Peserta kirab tersebut menaiki gethek yang terbuat dari bambu wulung dan diikat tali serat ijuk, bahan-bahan alami yang tidak mencemari sungai, yang ketika sudah menjadi gethek dibiarkan mengikuti arus dan justru menjadi irama saat menari di atasnya. Penari dan pengiringnya menari sambil mendengarkan bisikan dari Sungai Serayu yang dipercaya memiliki memori dan kesadaran gaib. Pengayuh gethek bukan untuk melawan arus, namun melambangkan bentuk ikhtiar untuk hidup di tengah ketidakpastian.

Kalau aku simpulkan, poin penting dari prosesi ini ada dua: sebagai pengingat bagi manusia untuk menjaga alam, dan pentingnya rasa syukur serta cukup dalam hidup.

Aku setuju dengan filosofi tersebut meskipun caraku berdoa sepanjang prosesi tersebut sesuai kepercayaanku. Rasanya bukan menjadi masalah soal ini, toh setiap kepercayaan mengajarkan kebaikan.

Berbekal pengalaman tahun lalu, aku sudah bersiap untuk mengikuti jalannya prosesi ini sampai ke pipir. Rok yang biasa aku kenakan aku ganti dengan celana lebar bermotif batik berwarna jingga, aku kenakan dan kerudung warna kuning dan bertopi senada dengan warna celana, sengaja aku kenakan warna cerah agar menghindari pakaian yang justru menyerap panas matahari. Tidak mendapatkan tempat strategis untuk melihat prosesi di panggung utama membuatku segera berjalan menuju pipir sungai sehingga ketika kirab sudah menuju gethek aku bisa berjongkok di samping bawah dermaga bambu. Aku saksikan tiga gethek yang satu per satu mengapung di bawa arus sungai membawa rombongan kirab dan melarungkan sesaji. Lalu para penari dengan khusyuk menari di atas gethek.

Sesekali aku merekam prosesi tersebut dengan ponselku walaupun sebenarnya aku banyak diam memperhatikan prosesi yang sedang berlangsung. Suara-suara orang di sekitarku yang menonton sambil berkomentar cenderung tak aku hiraukan, justru kehadiran beberapa lelaki dewasa dan anak kecil yang masuk kolong dermaga dan muncul di hadapanku yang aku hiraukan, kaget dan melongo.

Bendera merah putih yang ada di ujung depan gethek pengantin sempat aku foto. Tapi kemudian aku merenung lagi: tahun ini, di bulan kemerdekaan ini, rasanya aku belum merayakan kemerdekaan tersebut. Bukan aku tidak bersyukur, bukan aku tidak menghargai jasa pendahulu, bukan aku tidak cinta tanah air, tetapi segala masalah yang belakangan terjadi membuatku memikirkan ulang definisi kemerdekaan. Aku jadi berpikir rumus 5W + 1H dalam kehidupan negeri ini, padahal rumus tersebut adalah pegangan jurnalis dalam liputan. Mungkin kemerdekaan itu aku rasakan saat prosesi Manten Gethek berlangsung, ketika para penari dan seniman yang ada di atas gethek membebaskan orang-orang yang menonton untuk memiliki interpretasinya masing-masing: bisa menjadikan prosesi tersebut suatu pertunjukan, bisa menilainya sebagai sebuah ritual, bisa memaknainya sebagai suatu bahan penelitian. Kalau memang begitu, berarti lewat Bisik Serayu Festival, tahun ini aku juga merayakan kemerdekaan dengan cara yang merdeka.

Sebetulnya buatku sendiri prosesi ini bermakna cukup sentimentil. Desember lalu sewaktu banjir besar melanda tiga provinsi di Sumatera, aku cukup sedih karena banyak teman dan keluargaku yang tinggal di Sumatera sana. Aku percaya ketika guru ngaji dan guruku di sekolah menyampaikan bahwa manusia adalah khalifah di bumi dan seharusnya menjaga lingkungan, jika manusia merusak maka lingkungan atau alam akan marah sehingga terjadi bencana alam. Materi belajar yang aku dapat saat kanak-kanak itu sepertinya semakin masuk akal jika melihat sederet bencana alam yang terjadi di berbagai wilayah di Indonesia. Bukan aku sedang menyalahkan apa atau siapa yang menjadi penyebabnya, namun aku memikirkan peran manusia yang seharusnya menjaga keseimbangan kehidupan bumi. Ya, Bisik Serayu Festival lewat Manten Gethek-nya berusaha mengingatkan pentingnya keseimbangan tersebut.

Sepanjang prosesi di atas gethek berlangsung, pembawa acara sempat beralih dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia agar audiens dapat memahami makna dari narasi yang ingin disampaikan lewat pelaksanaan prosesi ini. Sayangnya narasi tersebut bagiku cenderung terlalu mendayu-dayu, padahal narasi besar dan filosofis dari Manten Gethek ini sudah cukup bagus dan akan lebih dipahami jika disampaikan dalam penyampaian yang lugas. Jika penyampaian tersebut adalah bagian dari estetika, maka mungkin narasi besar dan filosofis prosesi ini bisa disampaikan secara lugas dalam bahasa Indonesia di awal sebelum prosesi dimulai, supaya elemen prosesi hingga makna filosofis yang dinarasikan dapat dipahami oleh penonton yang merupakan masyarakat heterogen. Aku menikmati festival ini, aku mengapresiasi festival ini, dan aku ingin festival ini lebih baik di tahun-tahun berikutnya. 

Lima Menit Berbincang dengan Ibu Siti Mukaromah

Selesainya prosesi Manten Gethek, aku memiliki waktu lima menit untuk berbincang langsung dengan Ibu Siti Mukaromah. Dari lima menit tersebut, aku menilai sekilas adanya kesamaan latar belakangku dengan beliau, yaitu masyarakat yang tinggal di lingkungan heterogen dan dibekali nilai-nilai pendidikan agama Islam. Ini menjadi spekulasiku ketika beliau menyampaikan bahwa baginya momen Bisik Serayu Festival 2026 adalah pengingat untuk bersyukur selain melestarikan budaya. Menurut beliau, selama bentuk syukurnya tidak diekspresikan dengan cara yang musyrik, maka harus terus didukung dan berjalan.

Pernyataan beliau sering aku dengar dari guru ngaji atau guru agama, tentang prosesi budaya tertentu yang jika tidak bertentangan dengan nilai agama dan tidak menyekutukan Tuhan, maka kegiatan tersebut boleh diikuti. Jika menemukan ritual atau kegiatan yang bertentangan dengan nilai aqidah, maka sikap yang bijak adalah menghormati perbedaan tersebut.

Ibu Siti Mukaromah juga menyampaikan kepadaku soal syukur yang harus selalu dipraktikkan. Beliau menganalogikan dengan seorang hamba yang meminta tanpa bersyukur atas nikmat yang telah diberikan Tuhan, padahal belum tentu permintaan tersebut akan dikabulkan, sehingga hidupnya akan terus merasa kurang. Sedangkan dengan bersyukur, hidup dapat terasa cukup, bahkan Tuhan bisa memberikan nikmat yang lebih dari yang seorang hamba harapkan. Menurut beliau, syukur tidak hanya sebatas lip service saja, namun butuh pengelolaan dan pemeliharaan. Untuk mempertegas bagian ini, beliau sampai menggunakan istilah gaul, yaitu: omdo alias omong doang. Bersyukur jangan sebatas omong doang. 

Sepertinya beliau juga percaya pada kekuatan afirmasi positif. Hal ini aku simpulkan ketika beliau bercerita bahwa dini hari tadi baru sampai Purwokerto dari Jombang, lalu paginya ada agenda di salah satu universitas di Purwokerto, dilanjut ke Bisik Serayu Festival 2026, dan malam harinya harus kembali ke Jombang. “Kalau itu dikeluhkan, maka itu akan menjadi sesuatu yang negatif. Tapi ketika itu menjadi bagian dari syukur, itu akan menjadi kebahagiaan.” Aku rasa aku akan lebih sering mengafirmasi diriku dengan kalimat positif agar segala kegiatan semelelahkan apa pun tidak membuatku berhenti bahagia.

Satu hal lain yang aku apresiasi dari beliau, yaitu kehadirannya membahas Empat Pilar Kebangsaan. Menurutku pribadi, bukan hal mudah untuk menyampaikan materi, idea, atau diskusi apalagi di panggung pentas seni. Psikologis penonton mungkin lebih banyak yang ingin melihat pementasan atau hiburan, bukan datang dengan semangat diskusi atau rasa penasaran akan pengetahuan, dan aku tidak menyalahkan itu sebab mungkin aku termasuk salah satunya.

Obrolan yang berakhir setelah lebih dari lima menit berlangsung tersebut ditutup dengan doa dan pesan beliau untukku serta Mahin (temanku) agar tidak menyia-nyiakan kesempatan dan berkarya. Beliau juga memohon doa kami agar beliau selalu dimampukan untuk menjadi penyambung lidah aspirasi masyarakat, doa tersebut tentu aku aamiin-kan.

Aku harap Empat Pilar Kebangsaan itu tak hanya menjadi teori belaka. Aku berdoa Empat Pilar Kebangsaan tersebut terus ada, berbenah, bertumbuh, dan lebih baik ke depannya. Bisik Serayu Festival 2026 bukan hanya festival kesenian, melainkan juga ruang yang mempertemukan berbagai pihak untuk saling menghargai dan menghormati, selaras dengan filosofi Manten Gethek yang mengingatkan pentingnya hidup dalam keseimbangan antara memberi dan menerima. 

Mengutip dari Ibu Siti Mukaromah, bersyukur bukan hanya soal lip service saja. Doa dan syukurku mungkin masih banyak yang hanya di bibir, tetapi doa dan syukur tersebut membawaku merenung saat di pipir.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top