
“Saya jadi merinding nih kalau nyeritain beliaunya,” ujar Kang Lawe.
Sehari sebelum Bisik Serayu Festival ke tiga, saya sempat berbincang dengan Kang Lawe Samagraha. Ia seniman musik tradisional dari Banten. Sore itu, di Pendopo Gayatri, Rianto Dance Studio (RDS) kami berbincang. Seperti tahun lalu, ia yang menggawangi set artistiknya. Beberapa helai bambu di depannya dipersiapkan untuk membuat replika besar bunga Wijayakusuma. Di belakang kami, ada lukisan Lengger. Lukisan itu dibuat oleh Alm. Nasirun saat live painting di Bisik Serayu Festival 2025. Di bawahnya, ada sepincuk mendoan yang sudah dingin.
“Sebenarnya yang Umbul Donga besok malam itu ada Kang Tejo (Sujiwo Tedjo) juga. Tapi beliau berhalangan hadir,” ucapnya saat saya menanyakan teater musikal tribute to Alm. Nasirun.
Kami saling menceritakan Kang Nasirun bukan hanya sebagai seniman dengan nama besar. Bukan pula seniman yang telah banyak mempengaruhi dunia seni rupa. Kami banyak bercerita tentang Kang Nasirun yang suka membantu teman. “Pintu rumahnya tidak pernah “dikunci” untuk siapapun yang datang,” kenang Kang Lawe. Ia sudah puluhan tahun kenal dengan Kang Nasirun. Hingga butuh waktu untuk percaya bahwa sahabatnya itu telah berpulang. Pendopo di pipir Sungai Serayu itu menjadi saksi percakapan kami. Dua sahabat dari beda generasi.
***
“ha. . . ha. . . ha. . .”
Di tengah gelapnya panggung Bisik Serayu Festival malam itu, ada suara tertawa yang tiba-tiba terdengar. Tawanya khas dengan sesengukan yang menjedanya. Bagi sebagian orang, tawa itu langsung membangkitkan memori. Umbul Donga malam itu diawali dengan sebuah tawa yang kini hanya bisa kita dengar melalui rekaman atau video. Tawa yang selalu menjadi awalan, tengah hinggar akhir setiap ucapannya. Tentu kita juga akan rindu dengan tawa seseorang sembari mengelus-elus jenggotnya yang dikepang. Tawa khas dengan sesengukan itu dari Kang Nasirun.
Umbol Donga tribute to Alm. Kang Nasirun, malam itu dalam bentuk Teater Musikal. Bibi Retno berjalan menuju panggung Manggala RDS bersama Agus dan Sentut Bimo Nugroho. Gerakan tubuh yang eksploratif mereka tampilkan dalam tetaer musikal malam itu. Kemudian Bibi Retno duduk melingkar sambil khusu’ memanjatkan do’a.
Berbalut pakain serba putih. Dari arah belakang panggung Bu Eli bersama Anter, Sudi dan Agung Gunawan yang juga berpakaian serba putih, menari ekspresionis. Daun pisang muda dan tua yang dibawa menjadi penanda malam itu. Bahwa kematian raga tidak memutus kebaikan semasa hidup seorang manusia. Lukisan lengger menjadi latarnya. Asap dupa mengepul tiada habisnya. Seolah do’a-do’a yang terpanjat ke atas tiada putus.

Di bawah lampu biru dan suasana yang khidmat, sorot mata Bu Eli menatap ke arah atas. Sorot mata yang menandakan keikhlasan atas berpulangnya Alm. Nasirun. Sorot mata yang menengadah ke atas, memanjatkan do’a kepada Sang Pencipta. “Sumonggo . . . Gusti. . .”
Di bawah lampu biru dan suasanya yang khidmat, Kang Lawe dengan suling dan karindingnya memainkan “Kidung Bowo Eling-eling” bersama Helsa Nur Fadilah sebagai sindenaya. Mereka duduk melingkar di atas panggung dengan alunan calung oleh Satria Luthfi Chanan, Arfen Nurdiansyah, Rivo Putra Subekti, Bimbim Wahyu Perdana, Meifilda Dania Maranatha.
Setelah semuanya semakin sunyi, dan suara calung semakin melemah, semua mata melihat siluet lengger di atas panggung. Ia adalah Rianto. Lalu terdengar suara darinya.
“Aku tidak bisa memberimu uang. Aku hanya bisa memberimu bismillahirrohmanirrohim. . . tanpa putus dari nafasku”.
Rianto malam itu mengulangi nasehat seorang ibu kepada anaknya. Nasehat kepada seorang anak dari pesisir Cilacap yang akan merantau ke Yogya, puluhan tahun silam, untuk menuntun ilmu. Sang ibu tidak bisa memberi uang kepada anaknya. Namun sang ibu membekalinya dengan do’a yang tidak terputus. Hingga anak itu berhasil. Dan anak itu adalah Nasirun.
***
Tulisan ini adalah catatan pementasan Tetaer Musikal Tribute to Alm Nasirun di Bisik Serayu Festival 29 Agustus 2026. Sekaligus penanda 40 hari kepulangannya.

Editor in Chief bilfest.id | Pekerja Teks Komersial.




