Bincang Buku Telunjuk dan Pelatuk: Narasi Sejarah Kelam dalam Wujud Sastra

Pada hari Rabu (30/09/2026) Banyumas International Literacy Festival (BIL Fest) bersama Laboratorium Sastra dan Budaya Universitas Jenderal Soedirman (Labasdaya Unsoed) sukses menggelar peluncuran dan bincang buku kumpulan cerpen berjudul “Telunjuk dan Pelatuk” karya Ikrom Rifa’i. Naskah ini merupakan salah satu karya terbaik yang meraih penghargaan BIL Awards 2026 dari proses Inkubasi Penulis Banyumas.

Sebelum memasuki sesi bincang buku, acara dibuka dengan penampilan musikalisasi puisi yang apik oleh Majelis Dialek – yang beranggotakan Mahin Al Hasan, Aryunda Sitta Nuril Aulia, dan gitarisnya – dengan membawakan puisi Kepada Partai karya S.W. Kuntjahjo dan puisi Potret Seorang Komunis karya S. Antaguna. Selain itu, sebuah penampilan monolog yang tidak terduga masuk di tengah-tengah acara bincang buku. Monolog ini bertajuk “Wasiat Puisi Kamarawi” yang menceritakan keresahan tokoh pada masa 1965.

Selama puluhan tahun, sejarah dikemas ke dalam buku-buku sejarah oleh pemerintah. Salah satunya, yaitu ingatan publik mengenai peristiwa 1965 yang didominasi oleh sejarah versi negara berupa kronologi kaku dari kacamata pemenang. Agung Benta Febria Nuryanto atau biasa disapa Pak Abe, selaku pengulas buku berkomentar bahwa sejarah yang biasa dipelajari hanya berupa dokumen-dokumen atau arsip-arsip yang menunjukkan data kronologis saja, sementara sejarah dalam sastra bisa lebih dari sekadar itu.

“Ketika kita membaca fiksi seperti ini … yang kita tangkap adalah bukan hanya statistik, bukan hanya kapan, di mana, bukan hanya siapa, melainkan kita menangkap bagaimana orang yang hidup di dalamnya merasakan peristiwa itu terjadi.” jelas Pak Abe.

Setuju dengan hal tersebut, Ikrom Rifa’i, selaku penulis buku “Telunjuk dan Pelatuk” menambahkan bahwa dalam fiksi sejarah, sejarah tidak disampaikan melalui teks, tetapi lewat emosi.

“Pertaruhan di fiksi sejarah itu gimana (cara) meleburkan data-data itu supaya fiksi sejarah itu enggak sekadar saling tempel dan dari data itu tercipta sebuah emosi.” kata Ikrom dalam bincang bukunya.

Bercerita tentang buku kumpulan cerpen “Telunjuk dan Pelatuk”, buku ini memberikan sudut pandang yang tidak biasanya diambil dalam buku-buku lainnya, salah satunya seorang tukang loper koran yang notabenenya sebagai orang dengan kedudukan paling rendah di dunia keredaksian. Selain itu, Ikrom juga dengan apik mengemas tokoh-tokoh dalam cerpen sebagai karakter yang tidak sesederhana hitam dan putih saja. Hal ini mendapat sorotan khusus dari Pak Abe setelah membaca semua isi bukunya.

“Tokoh-tokoh di dalam buku ini jarang ada yang ‘lurus’. Karakter seperti Mbah Waktu, misalnya, sekilas mengingatkan kita pada sosok Anwar Congo dalam film ‘The Act of Killing (Jagal)’. Di satu sisi ia dianggap pahlawan oleh kelompoknya karena memberantas lawan-lawan politiknya. Namun, di satu sisi dia adalah orang yang melakukan kekerasan terhadap lawan politiknya.” komentar Pak Abe membandingkan kedua tokoh tersebut.

Keberanian Ikrom memotret sudut pandang sejarah yang sensitif mengundang rasa penasaran dari Bayu Rizqi Sutanto, seorang mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Unsoed. Dirinya melempar pertanyaan mengenai risiko dan batasan menulis karya yang sensitif. Menjawab hal tersebut, Pak Abe menjelaskan bahwa fiksi itu tidak memiliki batasan karena keberanian itu berawal dari rasa takut dan orang yang berani itu bukan orang yang tidak takut, tetapi orang yang berani melawan rasa takutnya.

Ikrom juga memberikan gambaran kondisi sejarah yang berbeda antara zaman Orde Baru dan sekarang. “Kalau saya hidup di Orde Baru … saya mungkin akan berpikir dua kali. Cuma karena (pada) akhirnya kita bukan hidup di zaman itu, ya saya punya keberanian.” jawab Ikrom.

Beranjak dari Bincang Buku “Telunjuk dan Pelatuk”, Bayu juga menceritakan bahwa ia terkesan dengan jawaban dari penulis dan pengulas Buku.

“Ternyata benar juga, ya. Kalau kita takut-takut dalam menulis … kayaknya niat untuk menjadi sastrawan tuh enggak sebesar itu. (Ketika) kita mau mengeksplorasi tulisan, ide, itu harus benar-benar berani.” ungkap Bayu terkesan. Setuju dengan eksistensi fiksi sejarah, Bayu berpendapat bahwa fiksi sejarah dapat membangkitkan sisi emosional yang bisa dirasakan pembaca tanpa adanya jarak.

Pada akhirnya, karya-karya fiksi sejarah seperti “Telunjuk dan Pelatuk” hadir bukan untuk menuding siapa yang paling bersalah dalam panggung sejarah. Baik melalui pementasan seni, diskusi terbuka, maupun lembaran fiksi membuktikan bahwa sastra memiliki caranya sendiri untuk merawat ingatan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top