Menarik Pelatuk Kesadaran Bahwa Sastra Bukan Sekadar ‘Zombi’ Akreditasi

Bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2026, siswa SMK Negeri 3 Purwokerto tidak langsung masuk ke kelasnya setelah upacara. Dua kursi sudah tertata di atas panggung aula SMK Negeri 3 Purwokerto. Ratusan siswa putih abu-abu membubarkan diri dari barisan upacara. Mereka yang terdiri dari kelas 10 dan 11 digiring dari tengah lapangan upacara menuju aula sekolah. Mereka adalah siswa yang terbiasa memecahkan permasalahan dengan cepat serta tepat, dan selalu menampilkan senyum terbaik di bawah tekanan industri jasa.

Festival Bulan Bahasa SMK Negeri 3 Purwokerto dibuka dengan rentetan birokrasi pada umumnya. Namun, dalam sambutan Bapak Kepala SMK Negeri 3 Purwokerto beliau tidak hanya menggugurkan kewajiban seremonial untuk berterima kasih kepada semua pihak. Beliau melempar sebuah kutipan yang menjadi jangkar pemikiran “Ingatlah ilmu dengan menuliskannya. Ketika ilmu hanya diingat dan tidak ditulis, lama kelamaan ia akan memudar.” Pesan sarat makna itu kemudian dikunci dengan satu penegasan dan pengingat di akhir sambutannya, “Bahasa adalah cermin dari pikiran.”

​Kalimat pembuka dari pucuk pimpinan sekolah ini seolah menggelar karpet merah bagi sastra untuk menyusup ke tengah ekosistem vokasi. Di bawah banner bertuliskan “Pengembangan Talenta dan Prestasi”, literasi mencoba mencari ruang napasnya sendiri, di antara deru tugas praktik kejuruan. Ini membuktikan bahwa bakat siswa vokasi tidak hanya berhenti di meja ruang praktik kejuruan. Hari itu, fiksi menolak mati di ruang praktik  Panggung yang biasanya kaku, hari ini diinterupsi oleh kehadiran Biyel selaku moderator dan  Ikrom Rifa’i seorang penulis buku Telunjuk dan Pelatuk yang menjadi bintang utama pada hari ini. Kehadirannya membawa satu misi: memprovokasi isi kepala anak-anak SMK lewat fiksi.

Di atas panggung, Ikrom paham audiens yang dihadapinya. Ikrom tidak sedang menjejalkan teori struktural Bahasa Indonesia yang mungkin telah dikupas tuntas di ruang kelas. Ia justru membongkar “dapur” kreatifnya sendiri lewat pendekatan teknis yang jarang tersentuh kurikulum formal. Di hadapan ratusan siswa yang duduk lesehan, ia membedah anatomi cerpen, dimensi teks, hingga teknik show and tell. Ia bahkan memperkenalkan ‘premis’ sebagai roh landasan cerita, dan bagaimana sebuah karakter bisa dihidupkan. Sastra tak lagi disajikan sebagai hafalan majas, melainkan sebagai sebuah resep yang membutuhkan takaran konflik yang pas agar ceritanya memiliki rasa.

Materi teknis ini nyatanya memantik interaksi dua arah. Saat sesi diskusi dibuka, keberanian dan rasa penasaran siswa pecah. Seorang siswa melempar pertanyaan mendasar tentang kendala nyata apa yang dihadapi dalam proses kreatif penulisan. Menjawab keresahan tersebut, Ikrom tak menampik bahwa hambatan itu selalu membayangi penulis mana pun. “Pasti ada (hambatan), salah satunya writer’s block,” jawabnya. Untuk mengatasi hal itu, Ikrom membekali siswa dengan satu rumus sederhana yang sangat masuk dengan logika anak kejuruan. “Input dari menulis adalah membaca. Dimanapun itu pasti, input itu harus lebih banyak dari output.”

Benar saja, provokasi teknis ini berhasil mengusik rasa penasaran yang selama ini membisu di balik seragam abu-abu mereka. Sastra ternyata bukan hal asing bagi anak-anak vokasi. Arya Mufti, siswa kelas X sekaligus anggota OSIS, adalah salah satu buktinya. Di luar tuntutan tugas sekolahnya yang padat, ia diam-diam gemar menulis sajak, naskah podcast, hingga kutipan penyemangat. Mengamini rumus Ikrom tentang pentingnya sebuah input, Mufti rupanya terbiasa membaca untuk berburu diksi atau kata-kata yang memikat. Baginya, kosakata baru dari bacaan itu adalah “amunisi” untuk memperkaya tulisan-tulisannya. Namun, ketika dihadapkan pada gagasan untuk mempublikasikan karyanya secara serius, talenta itu seketika membentur dinding keraguan.

“Aku masih skill issue, Kak,” akunya jujur.

Sindrom krisis kepercayaan diri inilah yang kerap membuat bakat layu sebelum berkembang. Saat ditantang membuat sebuah karya utuh, Mufti menolak meromantisasi tema cinta remaja picisan yang serba klise. Ia justru ingin merangkai cerita untuk teman-teman sebayanya yang sedang “kehilangan rumah” dan tak punya tempat bersandar saat diimpit masalah. Pilihan tema yang terasa sangat menohok. Di sekolah kejuruan, siswa dituntut untuk cepat dewasa dan siap dilempar ke industri yang keras. Mereka diajarkan untuk bekerja tanpa cela, namun seringkali lupa bagaimana menata emosi mereka sendiri. Bagi siswa sepertinya, ruang literasi dan fiksi bukanlah sekadar ajang unjuk gigi, melainkan katup kewarasan dan healing dari rutinitas tugas.

Realita ini menjadi pekerjaan rumah terbesar dalam ekosistem pendidikan vokasi: bagaimana meyakinkan mereka bahwa sastra bukan eksklusif milik anak bahasa, dan mengubah rasa skill issue itu menjadi sebuah prestasi yang diakui.

Sindrom ‘skill issue’ yang merantai Arya rupanya turut dijawab oleh Ikrom Rifa’i. Bagi Ikrom, alih-alih meragukan kemampuan diri, tantangan terbesar yang justru harus diwaspadai siswa dalam menembus batas prestasi adalah rasa cepat puas. “Penulis harus punya kredo bahwa karya yang bagus itu karya yang belum ditulis,” tuturnya.

Ikrom Rifa’i juga melempar peringatan kritis mengenai fungsi ekosistem literasi ini. Sebagai praktisi yang lekat dengan dunia pendidikan, Ikrom menggugat tradisi sekolah yang kerap hanya menghidupkan kegiatan sastra sebagai ‘zombi’ musiman menjelang perlombaan semata. “Anak-anak yang potensial itu ibaratnya hanya menjadi ‘sapi perah’ sekolah untuk mendulang indeks akreditasi. Ketika sudah selesai lomba, tidak ada tindak lanjut,” kritik Ikrom dengan lugas. Ia mendorong sekolah untuk menciptakan ekosistem berkelanjutan seperti kegiatan ekstrakurikuler menulis, bukan sekadar perayaan seremonial.

Bagi Ikrom, sastra merupakan pembentuk karakter (soft skill) dan ini yang paling dibutuhkan oleh calon pekerja industri. “Dalam dunia kerja, kita perlu memahami rekan kerja, memahami emosi lawan bicara. Kepekaan terhadap suasana kerja itu sesuatu yang bisa dibangun dari belajar fiksi,” jelasnya, menepis anggapan bahwa anak vokasi hanya butuh modul untuk keterampilan fisik.

Keresahan akan minimnya ruang ekspresi menemukan validasinya dari kacamata birokrasi. Fauzi Satria Perdana, S.Pd., Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMK Negeri 3 Purwokerto, secara terbuka mengakui bahwa sekolah kejuruan ini memang belum memiliki wadah atau komunitas khusus bagi siswa yang gemar sastra. Selama ini, satu-satunya ruang bagi fiksi untuk unjuk gigi hanyalah majalah dinding (mading) yang dikelola oleh ekstrakurikuler jurnalistik.

Menyadari ruang kosong tersebut, perayaan Bulan Bahasa tahun ini tidak didesain sekadar sebagai rutinitas kalender akademik. Fauzi memaparkan bahwa mendatangkan penulis lokal adalah strategi gerilya untuk membenahi fondasi talenta. “Pengembangan talenta itu harus bermula dari mereka bisa membaca dulu, berliterasi dulu,” tegasnya.

SMK Negeri 3 Purwokerto perlahan mulai berbenah. Tidak hanya berambisi meningkatkan minat literasi dasar, pihak kesiswaan kini tengah menggodok rencana lahirnya komunitas baca yang akan berkolaborasi dengan perpustakaan.

Kehadiran Ikrom hari ini bak pelatuk yang ditarik tepat sasaran membidik kesadaran. Hari itu di SMK N 3 Purwokerto, fiksi membuktikan bahwa ia bagian dari pengembangan keterampilan jurusan. Jika laboratorium kejuruan melatih presisi serta keterampilan tangan anak-anak vokasi, maka sastra bertugas merawat empati mereka. Agar kelak saat terjun ke industri dan penyedia jasa yang penuh tekanan, mereka tidak sekadar bekerja seperti robot bernyawa yang hanya melempar senyum palsu, melainkan manusia utuh yang tak pernah kehilangan hati nuraninya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top