
Pertunjukkan Dagelan Calung (Daglung), lakon “Dadhung Kepuntir”, ditampilan Sanggar Seni Samudra di Sport Center Desa Tipar Kidul (3/10), menghadirkan cerminan krisis sosial masyarakat modern hari ini yang dibalut dalam seni tradisional Banyumasan
Daglung: Dagelan, Calung, hingga kolaborasi kesenian lokal adalah sebuah medium ekspresi yang dalam penafsirannya berakar dari denyut kehidupan rakyat dari masa lalu ke masa kini. Kesenian Daglung ini menjadi panggung terbuka tempat masyarakat dan juga seniman bisa saling berbagi cerita dan juga melebur tanpa adanya jarak yang berarti. Lebih dari itu, seni tradisional Daglung menjadi wahana refleksi kritis terhadap berbagai isu dan persoalan yang bergejolak di tengah masyarakat.
Lalu, apa yang menjadi daya pikat dari pementasan ini di tengah masyarakat pedesaan? Dagelan Calung (Daglung) merupakan sebuah seni tradisional kerakyatan yang lahir dari seni dan tradisi masyarakat Banyumas. Melalui lakon “Dadhung Kepuntir” yang dipentaskan, sutradara dan para pemain semua berseru bahwa keterpurukkan akibat judi online tidak hanya sekedar nasib, melainkan hasil dari sistem kebijakan negara yang rapuh, godaan jalan pintas untuk kaya instan, serta minimnya ruang literasi yang terjadi di tingkat akar rumput masyarakat pedesaan.
Selama kurang lebih tiga jam pementasan berlangsung, persoalan inilah yang disajikan secara apik Sangar Seni Samudra di panggung terbuka Sport Center Desa Tipar Kidul, Kecamatan Ajibarang (3/10), dengan memadukan dinamika musik calung yang rancak, humor satir khas masyarakat Banyumasan yang cablaka, serta kritik sosial yang menohok hingga ke akar masyarakat dan negara.
Pementasan ini merupakan hasil program kolaboratif antara KAWANTRA The Collective Aura dan Sanggar Seni Samudra, bersinergi dengan Karang Taruna dan juga GP Ansor Desa Tipar Kidul sebagai upaya untuk menghidupkan dan merawat kembali kesenian tradisional kerakyatan Banyumas. Kegiatan ini juga mendapat dukungan penuh dari pemerintah Desa Tipar Kidul serta Dewan Kesenian Kabupaten Banyumas (DKKB).
Pementasan lakon “Dadhung Kepuntir” terbilang sangat pas dengan momentum pemberdayaan di masyarakat desa dan generasi muda untuk mewakili realitas sosial yang banyak terjadi di tengah-tengah mereka sekaligus untuk mengenalkan kembali musik calung dan seni tradisional yang telah lama sepi minat untuk ditonton.
Lakon ini mengangkat realitas sosial yang amat dekat dan marak terjadi di tengah masyarakat baik desa maupun modern hari ini: bahaya laten judi online (judol). Cerita berpusat pada dinamika kehidupan seorang warga desa yang mendadak bergelimang harta setelah memenangkan judi online. Kemewahan sesaat itu dengan cepat mengubah perilaku, gaya hidup, dan juga cara pandang tokoh utama terhadap lingkungan sekitarnya. Karakter yang tadinya bersahaja dan ramah mendadak menjadi pongah, konsumtif, dan abai terhadap norma-norma kebersamaan warga.
Namun, sebagaimana sifatnya yang semu, kebahagiaan perjudian dan kejayaan instan tersebut tidak bisa bertahan lama, dalam rentetan adegan berikutnya, alur cerita berbalik secara drastis. Tokoh utama mengalami kekalahan yang beruntun, yang menguras seluruh harta bendanya. Tak hanya berhenti di situ, demi menutup kekalahan beruntunnya dan menjaga gengsi sosialnya di masyarakat, ia terperosok lebih dalam ke dalam jerat utang piutang, baik melalui pinjaman online maupun rentenir. Kehidupan tokoh utama hancur berantakan. Ia tidak hanya kehilangan aset fisik, tetapi juga kehilangan martabat, ketenangan jiwa, serta kepercayaan dari keluarga dan tetangganya. Posisinya benar tepat seperti dadhung kepuntir yang secara etimologis dan kontekstual yang berarti jerat tali yang makin dipilin makin mengikat kencang, metafora yang tepat untuk melukiskan, semakin ia berusaha membebaskan diri dengan cara instan yang salah, semakin erat pula tali utang dan penderitaan melilit lehernya.
Melalui gaya estetika cablaka khas masyarakat Banyumasan, dialog humor yang dilemparkan oleh para pemain berhasil memancing gelak tawa penonton tanpa menghilangkan ketajaman pesan moralnya. Guyonan satir, celotehan jenaka, dan olah gerak yang kocak dijadikan sebagai sarana kritik sosial terhadap fenomena judi online dan pinjaman yang semakin merusak tatanan ekonomi keluarga dan mentalitas masyarakat pedesaan.
Pementasan Daglung dalam lakon “Dadhung Kepuntir” membuktikan betapa efektifnya idiom seni tradisional ketika dipakai untuk merespons isu-isu aktual. Kombinasi antara alunan ritmis instrumen calung yang dinamis dengan seni pertunjukkan komedi teatrikal menciptakan pertunjukkan yang cair serta komunikatif. Sutradara dan para pemain membiarkan penonton menyaksikan secara gamblang, bagaimana ilusi kekayaan cepat lewat judi online akan selalu berakhir pada kehancuran ekonomi dan keretakan sosial.
Sebelum pertunjukkan utama Daglung dimulai, panggung terbuka ini juga sebelumnya telah dihangatkan oleh penampilan Wirid Ngaji Kustik, kelompok musik akustik lokal. Penampilan tersebut secara harmonis memadukan antara musik dengan pesan-pesan dakwah yang menyejukkan. Selain itu, panggung ini juga menjadi ruang apresiasi bagi masyarakat generasi muda dengan pembacaan geguritan oleh seorang siswi berprestasi dari Desa Tipar Kidul, Pahel Agista Wijayanto dari SD Negeri Ajibarang Wetan, yang sebelumnya meraih juara 1 lomba membaca geguritan tingkat kabupaten Banyumas. Penampilan ini menjadi bagian dari persiapan dan pemantapan mental sang siswi menjelang kompetisi di tingkat provinsi. Tak ketinggalan rangkaian acara ini juga dimeriahkan oleh penampilan tari lokal dari Karang Taruna RW Mutiara Bakti.

Ketua Karang Taruna Desa Tipar Kidul sekaligus Founder KAWANTRA, Algar Mahesa, menegaskan pentingnya memberikan panggung bagi kelompok pemuda di tingkat RW untuk menumbuhkan keberanian serta mental tampil.
“Kami ingin memberikan ruang kepada anak-anak muda untuk berani tampil dan mengembangkan potensinya,” ujar Algar Mahesa.
Hal senada diungkapkan oleh jajaran kepemudaan desa. Ketua GP Ansor Desa Tipar Kidul, Nizar Nabilla (yang juga Founder KAWANTRA), menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari ikhtiar organisasi kepemudaan untuk memberikan manfaat yang dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat.
“Ini merupakan ikhtiar kami agar keberadaan organisasi kepemudaan tidak hanya ada, tetapi juga hadir dan memberikan kontribusi bagi masyarakat. Salah satunya melalui kegiatan hiburan seperti ini,” ungkapnya.
Ketua Panitia dari Komunitas KAWANTRA, Kukuh, menegaskan bahwa jaringan kerja kebudayaan ini dirancang agar tidak berhenti pada satu momen pertunjukan semata. Kehadiran Daglung di tengah-tengah masyarakat desa diharapkan menjadi pemicu kesadaran kolektif untuk menjaga kelestarian instrumen calung bambu serta stilistika humor khas Banyumasan agar tidak tergerus oleh laju modernisasi media digital. Dukungan serupa disampaikan oleh perwakilan Dewan Kesenian Kabupaten Banyumas (DKKB), Jarot Setyoko, yang hadir langsung menyaksikan jalannya pementasan dari awal hingga akhir. Beliau mengapresiasi keberanian para pemuda desa dan seniman lokal dalam merajut kemitraan strategis ini.
“Harapannya tahun depan kegiatan semacam ini dapat kembali digelar dengan persiapan yang semakin matang, tata kelola panggung yang makin solid, dan jangkauan penonton yang lebih luas,” ungkap Jarot.
Pementasan Daglung dengan lakon “Dadhung Kepuntir” di Sport Center Desa Tipar Kidul ini memberikan bukti empiris bahwa kesenian tradisional Banyumas tidaklah mati atau ditinggalkan. Calung dan seni dagelan memiliki daya hidup yang luar biasa fleksibel selama diberi ruang untuk tumbuh, berinteraksi dengan wacana zaman, dan melibatkan lintas generasi. Keberhasilan acara ini menandai pentingnya sinergi antara komunitas independen (KAWANTRA), lembaga seni profesional (Sanggar Seni Samudra), organisasi kepemudaan (Karang Taruna dan GP Ansor), serta dukungan otoritas lokal (Pemerintah Desa Tipar Kidul dan DKKB). Ketika ekosistem kebudayaan di tingkat desa telah bergerak secara harmonis, seni tradisional mampu sebagai tontonan yang menghibur sekaligus tuntunan sosial yang mencerahkan.
Refandhy Tri Wijaksono merupakan putra bungsu kesayangan ibu dari Desa Gentawangi, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas. Bisa disapa melalui Instagram @refandhytw_.




