
Meminjam judul buku Selvi Agnesia, “Berkesenian di Tengah Segala Cuaca”, mungkin itu penggambaran yang tepat untuk melihat bagaimana seniman di Banyumas bertahan beberapa tahun belakangan ini. Pasalnya, di tengah cuaca -dalam arti iklim alam- yang sedang terik-teriknya, mereka tetap mempersiapkan sebuah festival budaya. Belum lagi situasi “cuaca anggaran” berupa kebijakan dukungan kegiatan kebudayaan yang mengalami pengetatan ikat pinggang, meskipun kita tahu dukungan dari pusat melalui Kementerian Kebudayaan untuk Kabupaten Banyumas cukup banyak -baik yang terdeteksi oleh Dinporabudpar Kabupaten Banyumas maupun yang tidak masuk dalam radar dinas tersebut.
Namun, ini adalah catatan pembacaan saya, seorang yang bukan seniman, melainkan hanya penikmat dan pencatat di pinggir panggung yang duduk dan menikmati acara bersama para penonton. Catatan ini juga merangkum dua tahun ke belakang, mengingat baru pada awal tahun 2025 saya kembali ke tanah kelahiran.
Cuaca apa saja yang dihadapi para seniman di Banyumas -mungkin juga kabupaten di sekitarnya?
Pertama adalah cuaca atau iklim dengan makna yang sebenarnya: musim hujan dan musim kemarau. Para seniman tidak gentar dan terus mengatur strategi agar tetap berkesenian meskipun hujan turun dengan lebat, yang otomatis membuat jumlah pengunjung jauh dari harapan. Sebaliknya, pada musim kemarau -yang panas hingga akhir tahun 2026 ini- kegiatan kebudayaan mengambil kesempatan secara maksimal karena faktor cuaca basah tidak perlu masuk dalam mitigasi tim produksi.
Saat musim kemarau, lapangan terbuka memang sangat panas, namun secara teknis masih bisa disiasati. Pementasan dapat bergeser ke sore atau malam hari, atau mencari bantuan untuk menyewa tenda. Cara itu sangat umum dilakukan, mengingat konon Banyumas adalah kabupaten seni pertunjukan. Hal tersebut tentu berbeda jika acara berlangsung saat musim hujan. Siasat seperti apa pun akan membuat penonton berpikir dua kali untuk berangkat menerobos hujan demi menikmati pertunjukan, mendatangi pameran, atau mengikuti diskusi.
Cuaca atau iklim kedua yang dihadapi para seniman adalah “kemarau anggaran”. Memang, dukungan tidak hanya datang dari pemerintah pusat dan daerah, tetapi juga bisa dari pihak swasta atau pengusaha. Kendati demikian, biaya produksi, tim di balik layar, dan rangkaian proses panjang di bawah panggung tak khayal tetap membutuhkan biaya besar. Seniman sendiri belum tentu bisa menyiasatinya. Dengan adanya tim produksi -baik yang berbentuk event organizer maupun agensi- seniman sebenarnya bisa lebih fokus pada karya. Manajemen pertunjukan, pameran, ataupun aktivasi lainnya sangat penting, bukan hanya untuk menunjang keberhasilan acara, melainkan juga demi upaya keberlanjutan (sustainability), terlebih jika acara tersebut merupakan penerjemahan dari nilai-nilai dan pitutur untuk generasi selanjutnya.
Cuaca yang ketiga adalah kejenuhan penonton dan pergeseran minat. Seniman dan tim produksi harus bisa mengikuti zaman. Dominasi penonton yang keluar rumah saat ini adalah Gen Z dan milenial yang memiliki dunianya masing-masing. Tim produksi harus pandai membaca situasi penonton, lalu mewujudkan hasil pembacaan itu ke dalam bentuk desain promosi, artistik, hingga kemasan acara. Begitu pula dengan para seniman -baik seniman panggung, perupa, penulis, pemusik, dan lain sebagainya. Tidak semua keberhasilan jangkauan promosi yang luas akan serta-merta menghasilkan penonton yang berduyun-duyun datang. Para penonton masa kini punya daya niteni (daya cermat): apakah acara ini layak membuat mereka rela berangkat atau tidak?
Pada akhirnya, mau panas atau hujan; mau sudah atau belum ada anggaran; mau ditonton oleh berapa pun orang; mau disukai banyak orang atau ada yang mengomentari -kegiatan berkesenian harus tetap berjalan. Namun, jika tujuannya adalah meraup jumlah penonton atau pengunjung yang banyak, dinamika cuaca dan iklim penonton harus mampu dibaca dengan jeli. Begitu pula dengan dukungan anggaran: tim dan seniman harus pandai-pandai mencari peluang serta mengelola anggaran secara bijak.
Dengan begitu, seniman tidak hanya menjadi pihak yang tetap berkesenian di segala cuaca, melainkan juga seniman yang mampu membaca segala cuaca.

Editor in Chief bilfest.id | Pekerja Teks Komersial.




