
Sekitar pukul 05.30 pagi, saat saya hendak mengambil bekal makanan yang biasanya disisipkan istri saya ke dalam tas ransel, saya menemukan buku Ikrom Rifa’i di situ. Saya tidak melihat bagaimana ia masuk ke dalam tas saya. Walaupun Allah seharusnya tahu minggu ini saya harus ke dunia yang lain dan membereskan sisa pekerjaan minggu lalu, sepertinya Allah juga yang memberi izin bagi buku tersebut untuk mengikuti saya ke Jakarta dan menghantui saya dengan kekelaman kontennya.
Mengingat buku tersebut baru saja dirilis pada akhir September bulan lalu, bukan tindakan yang elok dan terpuji apabila saya menjabarkan isi buku tersebut semendetail mungkin seperti yang saya ingin lakukan. Itu akan merusak kesenangan penulisnya dan kesenangan para pembacanya.
Dalam cerita pendek Telunjuk dan Pelatuk, satu dari beberapa hal yang sangat kental adalah representasi perbedaan kelas sosial yang tidak dapat betul-betul membaur. Di cerita ini, penulis bahkan mengangkat perbedaan tersebut sebagai sebuah keniscayaan. Mungkin inilah yang disebut-sebut para kritikus dan filsuf sebagai determinisme. Bahwa pilihan-pilihan maupun tindakan yang akan dipilih oleh manusia ditentukan oleh penyebab atau kondisi di luar kehendak bebasnya. Perbedaan kelas sosial menjadi penyebabnya. Peralihan kekuasaan yang terjadi secara makro adalah kondisi di luar free will karakter-karakter utamanya. Dan dua karakter utama dalam cerita pendek tersebut adalah kerikil yang bergulir dari ketinggian yang berbeda dan terlontar-lontar dari satu gerigi kondisi ke gerigi kondisi lainnya.
Perbedaan kelas sosial tersebut juga terlihat dari penggunaan saya dan aku yang bertukar-tukar, yang merupakan salah satu sarana penulis dalam mengeksekusi teknik alternating narration dalam cerita pendek tersebut. Teknik yang berani dan dieksekusi dengan puitis. Saya yakin pembaca tidak akan kesulitan membedakan mana karakter utama yang sedang bermonolog. Kekontrasan tersebut bermukim pada pilihan diksi dan artikulasi keduanya. Rasanya perjalanan hidup Ikrom Rifa’i yang bersinggungan dengan seni teater turut membekas dalam gaya bercerita yang kontras antara dua karakter utama di sini. Apabila Anda seorang penulis, Anda musti mencoba teknik ini minimal sekali dalam hidup Anda yang pendek itu. Saya pun ingin sekali mencobanya, ya entah kapan.
Cerita pendek ini dimulai dengan segera. In medias res. Tanpa basa-basi penulis langsung melemparkan pembaca ke tengah sebuah situasi yang intim, muram, serta menimbulkan sensasi yang tidak nyaman—setidaknya bagi pembaca fiksi hiburan seperti saya. Penulis memaksa pembaca fokus pada bagian tubuh lawan monolog si aku pencerita yang disebutkan pada kalimat kedua paragraf pembuka, yang juga dijelaskan dengan singkat dan mencekam pada akhir kalimat sebelumnya. Bagaimana mungkin pembaca dapat berhenti membaca cerita pendek ini setelah tertusuk hook semacam itu?
Masih pada paragraf pembuka, lima kata setelah tanda pisah, atau lima kata terakhir pada paragraf pembuka, bagi saya, adalah salah satu sarana penulis untuk menipu pembaca—kembali lagi, setidaknya bagi pembaca yang gampang ditipu seperti saya. Saya mengira itu adalah perjumpaan mereka pertama kalinya setelah mereka terpisah setelah waktu yang lama. Itu memang betul, tetapi kenyataannya tidak begitu setelah saya melanjutkan pembacaan saya. Waktu yang lama tersebut sungguh tidak tunggal.
Dan ya, bagian tubuh lawan monolog si aku pencerita yang disebutkan pada kalimat kedua paragraf pembuka tadi itu, tidak salah lagi. Itu adalah Chekov’s gun. Ini adalah bukti lain kepiawaian penulis. Terlebih lagi, nanti penulis menunda letusannya. Kemudian, di akhir kisah, letusan itu datang juga, tetapi tidak secara fisik. Ah, saya berharap tidak merusak kesenangan pembaca soal ini. Saya berharap saya cukup shady saat menceritakannya. Sulit memang meredam keantusiasan yang saya rasakan.
Elemen klenik yang disampaikan pada bagian pertama paragraf ketiga juga rupanya ditautkan dengan momen pertemuan terakhir kedua karakter saat masih bekerja bagi pihak yang sama. Pada momen tersebut, klenik tersebut ternyata dapat dibuktikan—walaupun saat itu si aku pencerita tetap tidak mempercayainya. Tanpa disadarinya, bisa jadi si aku pencerita telah mempercayainya juga. Kalau tidak percaya, mengapa hal tersebut selalu diingatnya? Ingatan tersebut sendiri turut membangun situasi mencekam di akhir cerita pendek tersebut.
Kemudian, apakah penulis menggunakan teknik diversi dalam cerita pendek ini? Rentetan peristiwa sejarah yang lebih banyak pembaca dapatkan dari si saya pencerita menurut saya setidaknya punya tiga fungsi. Selain sebagai latar sejarah dan membantu penulis menuliskan plot menuju perjumpaan berikutnya, saya rasa juga berfungsi sebagai pengalihan untuk membuat pembaca lupa pada bagian tubuh tadi. Semuanya dituliskan penulis secara mengalir melalui lompatan- lompatan ingatan. Padahal dari awal hingga akhir sungguh mereka berada dalam satu ruang dan sungguh jarak mereka begitu dekat.
Selain keberanian penulis dalam menggunakan latar peristiwa yang (masih) sensitif untuk dibahas, saya rasa pembaca perlu mengapresiasi keberanian penulis menutup cerita pendeknya hanya dengan satu kata saja. Singkat dan lugas. Tiruan bunyi letusan senjata? Ah tidak. Anda para pembaca jangan sok tahu seperti saya. Yang jelas, kata penutup tersebut menambah berat bobot keistimewaan cerita pendek ini dan seharusnya menghantui para pembacanya.
Dengan tidak menyediakan resolusi yang tegas dan gambaran ingatan-ingatan yang tak lengkap, penulis justru membuka ruang interpretasi yang luas. Apakah penulis ingin menyatakan pesan bahwa kekerasan sangat layak dibalas dengan kekerasan? Apakah penulis tengah menggugat kehidupan yang kerap menjadikan wong cilik sebagai residu dari peralihan kekuasaan? Apakah penulis tengah menggugat Allah yang menutup mata si korban dengan ingatan akan derita yang panjang, sedangkan di waktu yang sama justru mengantar si pelaku ke titik rasa bersalah setelah bertemu korbannya? Atau semua ini adalah perkelahian sudut pandang sekaligus perlombaan pembelaan diri karena kedua karakter utama tersebut tahu mereka sedang diamati dan didengarkan monolognya? Tentu saja, saya yakin semua pertanyaan barusan all hit all miss. Penulis pasti tertawa membaca deretan omong-kosong ini.
Yang jelas, yang saya rasakan adalah rasa pilu yang macet. Yang saya pelajari, ia macet di dalam relung dada saya. Dan yang pasti, melalui cerita pendek tersebut, penulis telah meletakkan fondasi yang kuat bagi pembaca untuk melanjutkan perjalanan membaca ke cerita pendek-cerita pendek berikutnya dalam buku ini. Pembaca layak penasaran, teknik apa lagi yang akan dipamerkan penulis. Pembaca layak bertanya-tanya, apakah cerita pendek yang berikutnya juga mendatangkan kepiluan? Kepiluan yang sama atau berbeda? Benar kepiluan atau justru kekelaman?
Aku bertukar kubu antara mereka sejak terpaksa
Bertukar seragam di medan laga, aku pakai laras mereka
pergi ikut mengunjungi gelanggang angkara:
kenyataan-kenyataan yang bermukim di sana.
(balatentara Nippon kumandangkan propaganda,
serdadu Heiho bersiap angkat senjata)
Kita berpisah seolah tidak ada apa-apa
Sungguh pun ingatan bedil dan klenik susuk terus menganga
Berjumpa di tubir ranjang, kutatap telunjukmu yang meronta
Yang bergerak tanpa henti menolak lupa.
Kau, teman penuh dendam, pernah kuingkari juga
Sandarkan tubuh keriput pada kasur pesakitan saja,
Sedang sejarah enam puluh lima terus berkata.
Waktu menimpa. Kutatap telunjukmu yang meronta.
Ah tubuh mati separuh masih menyimpan senjata
Barangkali sudah suratan Tuan besar atas sana
Semoga segala khianat dan segala nista
(Sedikit lagi bertambah derita entah apa namanya pula)
Ini maaf tak mungkin kau terima
Kuterima takdirku dengan telunjuk yang menyimpan bisa
Kualami kelam ingatan dan tarikan pelatukmu di kepalaku pula.
Apakah gubahan Aku Berkisar Antara Mereka tersebut tepat? Ataukah kepada kesenangan penulis sekaligus para pembacanya ia menjadi bukti khianat?
Setyo W. Nugroho, lahir di Klaten tahun 1991. Pekerjaan sehari-harinya adalah menelaah kebijakan-kebijakan publik terkini dan merekomendasikan penguatan pengawasan yang diperlukan. Dapat disapa melalui Instagram @perahumabuk.




