
Potret Kecil Keluarga Kami
pada mulanya aku tak tahu,
apa penyebab nganga luka di dada bapak
dan untuk apa tangis yang digemakan kakak
di tempat tidurnya
malam seperti halnya ladang ranjau di dapur,
piring-piring pecah, sendok yang bengkok
semacam menyampaikan bahasa lain
dari retaknya perasaan
aku mulai menerka-nerka
dari bahan apakah kesedihan diciptakan
tapi aku tak menemukan apa-apa
selain bekas merah di leher ibu
sepulang kerja dan sejumlah tas yang selalu baru dipakainya.
Larasati, 2026
***
Masa Lalu Bapak
bagi bapak, kesetiaan itu harga mati
yang tak bisa diganggu gugat lagi
tapi ia masih gamang di hadapan kenyataan
sangat sulit membedakan,
mana yang lebih menawan antara senyum ibu
dan sekuntum mawar di taman
perjumpaan yang berulang di peron stasiun
membuat bapak merasa menjadi lelaki paling beruntung
setali kembang selalu dipersembahkannya untuk ibu
ketika rel bergetar dan ibu turun dari kereta
seperti putri mahkota berjalan di atas karpet merah
dengan ranum pipi senja
namun, sebagaimana takdir bekerja
kesedihan yang maha melalap habis rumah kita
kata bapak, ibu pergi ke arah yang berkabut
:mungkin ibumu mendapatkan kebahagiaan
walaupun dalam bentuk kekejaman
kemudian setiap pagi melepas dinginnya cuaca
bapak telaten menyiram tanaman peninggalan ibu
dengan air matanya.
Larasati, 2026
***
Menceritakan Nenek
ibu bilang, nenek meninggalkan bermacam persoalan
catatan cinta masa muda-barangkali juga bisa disebut puisi,
dan sejumlah kecemasan dalam bentuk air mata
nenek adalah perempuan tercantik versi ibu
yang mampu membuat kakek meleyot di serambi surau dulu
namun nenek pulang lebih awal ke hadapanNya
jauh sebelum sajak ini dituliskan, bahkan sebelum aku dilahirkan
hanya di samping pusaranya kualunkan semacam doa
agar senyum manis nenek tetap terjaga
tiba-tiba keheningan menghentak dada.
hujan membasahi kertas yang sedang kubaca.
Larasati, 2026
***
Kapitalisasi Kesedihan
135 hari setelah kepergian ibu
bapak punya kebiasaan baru.
yaitu, saban sore berkunjung ke stasiun tugu
aku tak tahu, ini terbilang perayaan kehilangan
atau bahkan semacam kapitalisasi kesedihan
sebab, kulihat bapak sebagai penyair
sudah lama tak menulis puisi
barangkali, kursi tunggu stasiun berbaik hati
meminjamkan rasa sakitnya
kata kakak, hujan sudah mencintai bapak
dan kemarau sepenuhnya dimiliki hati ibu
selebihnya, hening.
Larasati, 2026
***

Khalil Satta Èlman, lahir di Sumenep, Madura, 7 Mei 2003. Mahasiswa Filsafat di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Menulis puisi dan prosa di pelbagai media cetak dan daring juga antologi bersama. Sekarang sedang merampungkan buku puisi keduanya sambil memangku Lembaga Kajian Kutub Yogyakarta (LKKY). Bisa disapa di akun ig: @kapalangan_




