
Kancing Pertama
Ia berdiri di tengah kerumunan
Dengan senyuman yang seolah berkata
“Aku yang terbaik”.
Sombong dan tak ada malu
Pakaiannya pun berkata demikian
Di balik pakaian itu,
Ada noda yang menolak dilenyapkan
Luka yang kian meretak
Dan sesuatu yang makin membusuk
Namun ia tetap tersenyum
Bukan karena ia tak tahu,
Tapi karena dia tahu
orang lebih percaya pada senyuman
Daripada kenyataan
“TAKK”
Kancing pertama terlepas
Menyingkap sedikit noda di pangkal lehernya
Seolah pakaian itu lupa menjaga rahasia
Ketika rumor tentangnya mulai menyebar,
Ia hanya menjawab
“Bukan apa – apa, tidak separah yang dirumorkan”
Seolah kecacatan akan hilang dengan sendirinya
Ketika tidak ada yang membicarakannya
***
Kancing Kedua
Beberapa pasang mata mulai mempertanyakan
Tentu saja ia mendengarnya
Namun ia menunjuk ke arah lain
Menunjuk ke kesalahan lama,
Pada kerusakan yang bukan ulahnya
Pada kekacauan yang ia warisi
“Lihat ke sana” ucapnya
Sebagian pandangan teralihkan
ke arah yang ia tunjuk.
Sebagian laninnya memalingkan wajah,
Mencari – cari, siapa yang dapat disalahkan.
Sementara itu, ia diam berdiri
Lagi lagi menganggap kecacatan sendiri
Akan menghilang
Kalau tidak ada yang mempertanyakan
“TAKK”
Semua mata kembali melihatnya
Kancing ke dua terlepas
Kali ini dia menyalahkan angin.
Seolah cacatnya akan hilang
Ketika angin berlalu
***
Kancing Ketiga
Ia mulai berhenti menyangkal
Ketika semua mata tak henti – hentinya
Memandangnya heran
Mungkin ia mulai sadar
Beberapa cacat tidak cukup disembunyikan
Dengan sebuahh senyuman
Pikirnya,
“Mungkin kata–kata bisa”
Ia kemudian berkata dengan suara lantang
“Noda ini bukan noda,
Tapi hanya bekas perjalanan”
“Retakan ini bukanlah retakan
Melainkan tanda kerja keras”
“Busuk ini bukanlah busuk,
Tapi harga yang harus dibayar”
Suaranya yang lantang dan membara
Terdengar oleh semua orang
“Bukankah semuanya demi kebaikan?”
Tanyanya entah pada siapa
Ia kembali menjauhkan kata – kata
Dari masalah yang enggan disentuh
“Lihatlah gedung merah putih yang saya bangun ini”
“Lihatlah posko-posko warna biru ini”
“Tidakkah ini membawa manfaat”
Tak ada suara
selain kesunyian yang begitu bising
“TAKK”
Kancing ke tiga pun menyusul
mata yang memandangnya, tak lagi heran
seolah sudah tahu apa yang tersembunyi
di balik pakaian itu
***
Kancing Keempat
Tiga kancing telah gugur
Tak ada lagi alasan
Yang mampu menutupi
Cacat di tubuhnya
Ribuan pasang mata melihat ke arahnya
Seakan mempertanyakan kecacatannya.
Menunjuk pada noda,
Menghiung retakan luka,
Dan menyebut satu per satu
Apa yang selama ini ia sebut sebagai
“Harga yang harus dibayar”
Ia mendengar tatapan mata itu
Dan untuk pertama kalinya,
Senyumnya tanpa rasa tenang
Ia tak lagi beralasan
Ia mulai menyuruh tatapan mata itu
Untuk diam, satu per satu dibungkam
Yang bertanya, dianggap mengganggu
Yang mengingatkan, dianggap melawan
Yang menatapnya heran, diminta tutup mata
“TAKK”
Kancing keempatpun tidak lagi mampu
Menahan beban, karena tubuhnya yang gempal
Disusul suara–suara yang telah lama ditahan
Ia mencoba mengambil kancing itu,
Namun tangannya terlalu sibuk
Memegangi bajunya yang kini
Hampir terbuka seluruhnya
Ia kembali berdiri
Masih meminta semua mata berhenti
Untuk menatap ke arahnya
Dengan tatapan heran
Tapi kini ia sadar,
Yang paling sulit dibungkam bukanlah mata mereka
Melainkan kenyataan yang terus menampakkan dirinya
***
Kancing Terakhir
kini hanya tersisa satu kancing
ia menggenggamnya erat–erat
seolah benda sekecil itu masih mampu
menahan beban dari 4 kancing yang sudah lepas
ia menatap kerumunan, satu per satu
mencari ketakutan
yang mungkin masih tersisa
tidak ada
yang ada hanya tatapan heran
perlahan ia lepaskan genggamannya
“TAKK”
Kancing terakhir pun menyusul
Tak ada lagi yang dapat ia katakan
Tentang sesuatu yang harus ditutupi
Namun ia masih berdiri tegak
Membusungkan dada yang penuh retakan
Mengangkat dagu
Di antara noda yang menghitam
Mungkin ia berpikiran
Wibawa tumbuh dari cara berdiri
Mungkin ia mengira
Bahwa selama kepalanya tetap tegak
Tak ada yang berhak menyebutnya runtuh
Bahkan mungkin ia percaya
Yang ia banggakan bukanlah tubuh yang bersih
Tapi kemampuannya untuk tetap merasa bersih
Di hadapan kebusukan sendiri
Sesekali ia coba untuk menutupi tubuhnya
Dengan baju yang ia kenakan
Walaupun sudah tidak berkancing
Atau untuk sekadar merapikannya
Sampai seseorang dari kerumunan
Akhirnya bertanya saking herannya
“Apa yang mau kau tutupi
dengan pakaian transparan itu?”
***
Khanif Nasrulloh Faizi, lahir di Banyumas tahun 2001.Saat ini bekerja di salah satu perusahaan swasta di Tangerang. Di sela kesibukannya, ia mengisi waktu luang dengan mendengarkan lagu dan sesekali menulis. Baginya, menulis menjadi salah satu cara menjaga kewarasan di tengah kondisi yang tidak menentu, dengan menuangkan pikiran, emosi, dan keresahan sehari – hari. Bisa disapa melalui Instagram: @khanif_nf.




