Menembus Keheningan, Penyesalan, dan Seni Memaafkan Diri

Setiap manusia membawa bayang bayang masa lalunya masing masing. Ada kalanya, bayang bayang itu dihiasi oleh kesalahan yang pernah kita perbuat kepada orang lain, atau luka yang diukir oleh tindakan orang lain terhadap kita. Namun, hal yang paling merusak sering kali tidak terjadi antara manusia dengan manusia lainya, melainkan dengan pikiran manusia itu sendiri, pertempuran melawan rasa benci pada diri sendiri (self-hatred) dan penyesalan yang membatu. Ketika seseorang terjebak dalam pusaran ini, dunia luar perlahan kehilangan warnanya, dan tercipta apa yang disebut sebagai a silent voice sebuah kondisi di mana suara hati teredam oleh rasa bersalah, dan keheningan psikologis mulai mengisolasi seseorang dari kehidupan.

Masa lalu sering kali berubah menjadikan kita merasa terkurung secara mental ketika kita menyadari betapa buruknya dampak dari tindakan atau pilihan kita di masa lalu. Kesadaran akan kesalahan yang mungkin dulu dianggap sepele dapat bertransformasi menjadi beban moral yang teramat berat saat beranjak dewasa. Rasa bersalah yang tidak terselesaikan melahirkan perasaan tidak layak, merasa tidak layak untuk bahagia, tidak layak memiliki teman, dan tidak layak diterima oleh lingkungan sosial.

Akibatnya, seseorang mulai menarik diri dari keramaian. Secara bertahap, ia menolak untuk melihat dan didengar oleh dunia. Isolasi ini bukan sekadar fisik, melainkan juga emosional. Seseorang akan mulai menutup mata dari wajah-wajah di sekitar kita, menganggap bahwa setiap orang memandang kita dengan penuh penghakiman. Dalam kondisi ini, suara hati kita yang dipenuhi rasa bersalah mulai menguasai seluruh pikiran kita, membuat keheningan bukan lagi ketenangan, melainkan sebuah ruangan sepi yang dipenuhi rasa malu dan cemas.

Rasa benci pada diri sendiri biasanya muncul dalam dua bentuk luka yang sama-sama menyiksa:

Pertama, Pernah disakiti. Rasa benci ini sering kali membuat seseorang percaya bahwa kehadirannya hanyalah beban bagi orang lain. seseorang akan menyalahkan diri sendiri atas kekurangan yang dimiliki, bahkan sampai berpikir bahwa dunia akan lebih baik tanpa dia.

Kedua, Pernah menyakiti. Rasa benci itu berubah menjadi hukuman seumur hidup. Seseorang akan menganggap diri mereka sudah rusak dan tidak bisa diperbaiki lagi, sehingga sengaja menolak kebahagiaan sebagai bentuk “penebusan dosa” yang keliru.

Pada akhirnya, keduanya terjebak dalam masalah yang sama, sama sama tidak bisa menerima diri sendiri apa adanya. Ketika seseorang sudah terlanjur membenci dirinya sendiri, kebaikan sekecil apa pun dari orang lain akan sangat sulit diterima, karena ia merasa tidak pantas mendapatkannya.

Lalu bagaimana seseorang keluar dari keheningan yang mengisolasi ini? 

Jawabannya yaitu terletak pada keberanian untuk berempati dan melangkah keluar dari diri sendiri. Penebusan rasa bersalah tidak dapat dicapai dengan terus menerus merutuki diri di dalam kamar, melainkan dengan usaha nyata untuk memahami orang lain dan memperbaiki apa yang telah rusak.

Langkah pertama menyembuhkan luka adalah keberanian untuk mendengarkan secara jujur. Namun, langkah yang paling sulit sekaligus paling krusial adalah memaafkan diri sendiri.

Memaafkan diri itu bukan berarti melupakan atau membenarkan kesalahan masa lalu. Tetapi memaafkan diri adalah mengakui bahwa kita pernah melakukan kesalah, dan menerima kenyataan bahwa masa lalu itu tidak bisa diubah. Tanpa pengampunan pada diri sendiri, usaha kita untuk berbuat baik kepada orang lain hanya akan menjadi topeng untuk menutupi rasa cemas yang terpendam.

Kesimpulanya, hidup adalah proses belajar untuk membiarkan a silent voice di dalam diri kita menemukan jalannya kembali ke permukaan. Ketika kita memberanikan diri untuk mengangkat kepala, melihat wajah wajah manusia di sekitar kita tanpa ketakutan, dan berhenti membenci diri sendiri, saat itulah tembok pengasingan runtuh. Keheningan yang dulunya menyiksa perlahan berganti menjadi kedamaian sebuah penerimaan bahwa kita semua adalah manusia yang pernah terluka dan berbuat salah, namun selalu memiliki kesempatan untuk menyembuhkan dan disembuhkan.

***

Saya tertarik menulis ini karena saya melihat mungkin masih ada seseorang yang terjebak di di dalam masa lalunya, bukan hanya sekedar pernah melakukan bully namun suatu hal yang membuat seseorang merasa tertekan oleh emosinya sendiri seperti asmara atau juga suatu hal yang membuat kita trauma entah itu dari diri kita sendiri ataupun dari orang lain.

Apa yang teman-teman baca di atas, itu adalah hasil dari saya menonton anime yang berjudul “A Silent Voice” (Koe no Katachi), yang menceritakan tentang perjalanan penebusan dosa dan kesehatan mental, dari seseorang yang pernah melakukan perundungan (bully). Melalui anime ini saya belajar banyak tentang bagaimana pentingnya bagi kita semua untuk belajar berempati dan berdamai dengan diri sendiri. Semoga bermanfaat dan see you in the next note. 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top