
Mengunjungi Peken Banyumasan: Semacam Bernostalgia ke Masa Kecil
Berlokasi di Kota Lama Banyumas – lebih tepatnya di Taman Sari Kota Lama, Kecamatan Banyumas.

Berlokasi di Kota Lama Banyumas – lebih tepatnya di Taman Sari Kota Lama, Kecamatan Banyumas.

Bukan untuk acara biasa, melainkan untuk pengalaman yang istimewa yaitu acara Human Library di Pekan Literasi Masyarakat Banyumas.

Festival yang mengaktifkan ruang publik adalah menciptakan sebuah pertemuan yang membahagiakan.

Selain membaca, bertanya, diskusi dan ngopi-ngopi, menonton podcast, bagi saya, mengikuti bimtek adalah salah satu upaya upgrade diri -biar kemampuan saya mundak

Human Library ini bukan sekadar forum cerita, tetapi ruang pembelajaran bersama

Bayangkan jika anak-anak hanya tumbuh dengan buku teks. Mereka mungkin pintar berhitung, tetapi belum tentu peka merasakan. Mereka mungkin hafal rumus, tetapi asing dengan empati. Buku nonteks hadir untuk menutup celah itu.

Menanggapi event launching buku novel Guiwu bergenre horor ini. Sekurang-kurangnya saya dapati tiga kata: horor, nasionalis, dan unik. Mungkin ini sekadar pengamatan saya sebagai pengunjung yang duduk di bangku belakang. Pasti akan berbeda dengan mereka yang mungkin duduknya di depan, di tengah, di sisi kanan, di sisi kiri, dan sisi lainnya.

Karena setiap pameran karya seni rupa, memiliki model tersendiri dalam membawa karyanya ke ruang publik. Dan permodelan seperti apapun ruang yang dipilih, bukanlah untuk bahan perdebatan. Karena akan ada perbedaan cara para pegiat seni melakukan aktivasi terhadap karyanya.

Pesan Gus Mus kepada generasi muda: “Anak muda itu berfikir apa saja boleh, asalkan tidak berhenti untuk belajar”. Karena kebodohan akan datang ketika kita berhenti untuk belajar.

Sebagian penulis mungkin ada yang gelisah, resah, dan cemas atau bahkan takut ketika tulisan-tulisannya dibedah secara mendalam dan terperinci melalui teori-teori kepenulisan yang dakik-dakik itu.