
Sulitnya Tantangan Bukan Berarti Tidak Bisa Ditaklukkan
Di tengah kebisingan yang meramaikan suasana sunyi dari tempat yang biasanya diselimuti ketenangan dan kesunyian, aku mendapat ilmu baru yang sangat bermanfaat tentang kepenulisan.

Di tengah kebisingan yang meramaikan suasana sunyi dari tempat yang biasanya diselimuti ketenangan dan kesunyian, aku mendapat ilmu baru yang sangat bermanfaat tentang kepenulisan.

Sabtu, 25 Oktober 2025. Udara di kampus UIN SAIZU Purwokerto terasa berbeda, seperti ada aroma semangat yang sedang menebal.

Kamis 23 Oktober 2025, saya dianugerahi kesempatan untuk mengikuti sebuah event peluncuran buku yang berjudul “Hidup Sebagai Orang-orang Biasa” yang digelar di gedung DPRD Banyumas.

Berlokasi di Kota Lama Banyumas – lebih tepatnya di Taman Sari Kota Lama, Kecamatan Banyumas.

Bukan untuk acara biasa, melainkan untuk pengalaman yang istimewa yaitu acara Human Library di Pekan Literasi Masyarakat Banyumas.

Festival yang mengaktifkan ruang publik adalah menciptakan sebuah pertemuan yang membahagiakan.

Selain membaca, bertanya, diskusi dan ngopi-ngopi, menonton podcast, bagi saya, mengikuti bimtek adalah salah satu upaya upgrade diri -biar kemampuan saya mundak

Human Library ini bukan sekadar forum cerita, tetapi ruang pembelajaran bersama

Bayangkan jika anak-anak hanya tumbuh dengan buku teks. Mereka mungkin pintar berhitung, tetapi belum tentu peka merasakan. Mereka mungkin hafal rumus, tetapi asing dengan empati. Buku nonteks hadir untuk menutup celah itu.

Menanggapi event launching buku novel Guiwu bergenre horor ini. Sekurang-kurangnya saya dapati tiga kata: horor, nasionalis, dan unik. Mungkin ini sekadar pengamatan saya sebagai pengunjung yang duduk di bangku belakang. Pasti akan berbeda dengan mereka yang mungkin duduknya di depan, di tengah, di sisi kanan, di sisi kiri, dan sisi lainnya.