
Kecantikan merupakan konsep yang sejak lama melekat dalam kehidupan manusia dan kerap dilekatkan pada perempuan. Namun, kecantikan tidak pernah bersifat statis. Ia terus berubah dan dikonstruksi ulang sesuai dengan perkembangan zaman, budaya, serta struktur sosial yang melingkupinya. Naomi Wolf (1991) menyatakan bahwa kecantikan adalah konstruksi sosial yang senantiasa mengalami perubahan. Dengan demikian, standar kecantikan pada satu periode tertentu tidak dapat dilepaskan dari konteks sejarah dan budaya yang membentuknya.
Perubahan konstruksi kecantikan ini juga terjadi dalam masyarakat Jepang. Jepang memiliki sejarah panjang dalam membentuk dan mereproduksi standar kecantikan perempuan, mulai dari nilai-nilai tradisional hingga pengaruh modernitas Barat. Pada Periode Edo (1603–1868), kecantikan perempuan Jepang ditandai oleh rambut panjang hitam legam, praktik mencukur alis, serta menghitamkan gigi (ohaguro). Seiring waktu, representasi kecantikan tersebut bergeser, sebagaimana tampak dalam lukisan ukiyo-e, yang menonjolkan kulit putih, bibir mungil, serta fujibitai, yakni garis rambut yang menyerupai Gunung Fuji.
Memasuki Periode Meiji (1868–1912), Jepang mulai mengalami modernisasi besar-besaran dan bersentuhan dengan budaya Barat. Pemerintah Meiji mendorong adopsi nilai-nilai Eropa, termasuk dalam hal estetika dan kecantikan. Wajah dengan ciri-ciri Kaukasia mulai dianggap ideal. Okakura Yoshisaburo (dalam Mizuta, 2013) bahkan merumuskan kecantikan perempuan sebagai salah satu fondasi Jepang modern, dengan deskripsi fisik yang menekankan proporsi tubuh, kulit cerah, rambut hitam panjang, mata besar, dan hidung mancung. Konsepsi ini menunjukkan mulai bercampurnya nilai tradisional Jepang dengan estetika Barat.
Pada Periode Taisho (1912–1926), pengaruh westernisasi semakin terasa melalui kemunculan fenomena modan garu atau moga. Perempuan-perempuan urban ini tampil dengan rambut pendek, busana Barat, serta gaya hidup modern, yang secara terbuka menantang norma kecantikan tradisional. Rambut pendek, yang sebelumnya dilarang bagi perempuan hingga tahun 1872 (Sato, 1993), menjadi simbol perlawanan terhadap standar lama sekaligus representasi modernitas. Fenomena ini berlanjut hingga Periode Showa dan pasca-Perang Dunia II, ketika pengaruh Amerika semakin kuat. Mata besar dengan kelopak ganda, hidung ramping, dan gigi putih menjadi standar kecantikan baru. Bahkan pada dekade 1970-an dan 1980-an, kemunculan budaya gyaru dengan kulit kecokelatan menunjukkan bahwa standar kecantikan Jepang semakin beragam dan dinamis.
Perubahan-perubahan tersebut tidak hanya tercermin dalam kehidupan sosial, tetapi juga terekam dalam karya sastra. Angsa Liar karya Mori Ogai dan Rumah Perawan karya Yasunari Kawabata menjadi contoh yang representatif untuk melihat bagaimana standar kecantikan perempuan Jepang dikonstruksikan dalam dua periode yang berbeda, yakni sebelum dan sesudah Perang Dunia II.
Angsa Liar (1910) berlatar Periode Meiji dan menghadirkan tokoh Otama sebagai representasi kecantikan perempuan tradisional Jepang. Otama digambarkan sebagai perempuan yang anggun, sopan, dan memiliki paras elok yang bahkan dianggap memenuhi kriteria untuk menjadi seorang geisha. Kecantikan dalam novel ini tidak ditampilkan secara eksplisit, melainkan melalui narasi yang halus dan penuh kesantunan. Busana tradisional, gaya rambut, serta sikap malu-malu menjadi penanda utama kecantikan. Ketertarikan Okada terhadap Otama pun berkembang secara perlahan, bahkan lebih banyak beroperasi di wilayah imajinasi, sehingga kecantikan tampil sebagai daya tarik yang subtil dan terkendali.
Sebaliknya, Rumah Perawan (1961) memperlihatkan pergeseran drastis dalam penggambaran kecantikan perempuan. Berlatar Jepang pasca-Perang Dunia II, karya ini menampilkan perempuan sebagai objek visual yang hadir semata-mata untuk memenuhi kebutuhan emosional dan hasrat laki-laki lanjut usia. Kecantikan digambarkan melalui detail fisik yang eksplisit—kulit yang licin, pipi yang merona, leher putih, aroma tubuh, serta lekuk-lekuk tubuh lainnya. Bahkan, kimono dalam konteks ini dianggap “terlau kuno”, menandakan pergeseran nilai dan mode berpakaian di Jepang modern. Kecantikan tidak lagi dikaitkan dengan keanggunan atau moralitas, melainkan dengan sensualitas dan konsumsi visual.
Perbedaan penggambaran kecantikan dalam kedua karya tersebut tidak terlepas dari pengaruh westernisasi, perubahan sosial, perkembangan media massa, serta pergeseran nilai dari tradisional menuju modern dan global. Namun, di balik perbedaan tersebut, terdapat kesamaan mendasar: perempuan dalam kedua novel tetap disingkirkan sebagai objek aktif dan meminggirkannya menjadi liyan. Otama, meskipun digambarkan anggun, tetap berada dalam posisi subordinat sebagai gundik. Sementara itu, perempuan-perempuan dalam Rumah Perawan bahkan kehilangan kesadaran dan agensinya sepenuhnya. Narasi-narasi dalam kedua novel (Angsa Liar dan Rumah Perawan) memang memperlihatkan dan menarasikan perempuan secara berbeda berdasarkan standar masing-masing era. Hanya saja, yang patut menjadi catatan ialah perempuan selalu dinarasikan sebagai “objek”, “liyan”, atau yang “pasif” dalam keduanya. Hal ini dapat mengarahkan pembicaraan kepada konteks kebudayaan Jepang yang kerap menempatkan perempuan di posisi termarjinal dalam struktur—bahkan dalam hal mendefinisikan kecantikan, mereka pun harus terdefinisikan oleh struktur Jepang yang mengakomodasi patriarki.
Konstruksi masyarakat itu dikendalikan patriarki, terutama konstruksi masyarakat modern yang memproyeksikan tersingkirnya perempuan sebagai objek aktif, dan meminggirkannya menjadi objek pasif (liyan)—sehingga dalam mendefinisikan (kecantikan) dirinya pun melalui kacamata/perspektif laki-laki (male gaze). Modernitas Jepang dalam berbagai aspek, mulai dari infrastruktur, perkonomian, teknologi, politik, hingga kebudayaan dalam definisi yang luas, sudah tidak dapat disangkal lagi—dan lebih parahnya, modernitas Jepang berjalan beriringan dengan dominasi patriarki di negara tersebut.
Agama dan nasib perempuan dalam kapitalisme modern yang mengepung struktur masyarakat, menjadi ganjil, karena mereka ditempatkan pada margin terluar—karena takdir, nasib perempuan dalam diskursus modernitas tidak mendapatkan tempat, sebab dinilai tidak memiliki kecukupan akal, seperti halnya agama yang hidup berbasis pada ritual-ritual kuno dan suci, yang tidak mendatangkan keuntungan bagi masyarakat modern (Candraningrum dalam Udasmoro, 2020). Apabila dikaitkan dengan konteks pemarginalan perempuan tersebut, maka kecantikan dalam Rumah Perawan telah bergeser ke arah yang lebih ekstrem, yakni sebatas mengakomodasi “pasar yang ramai dikunjungi laki-laki” macam Eguchi—perempuan hanya diakui melalui kecantikan tubuhnya, sensualitasnya, bukan lagi norma-norma tradisional yang menjurus pada keanggunan Otawa sebagaimana diperlihatkan dalam Angsa Liar. Siapakah yang mendefinisikan sekaligus mengarahkan kecantikan tersebut ke arah kapitalisasi ekstrem (pelacuran) sebagaimana diperlihatkan dalam Rumah Perawan? Tentu, tidak lain dan tidak bukan, yang mendefinisikannya adalah struktur yang lebih mengakomodasi kepentingan laki-laki (patriarki).
Mulvey (1989) melihat situasi pendefinisian kecantikan atas perempuan semacam itu sebagai “male gaze”, yang melaluinya citraan perempuan dalam karya sastra dipandang sebagai objek (pasif) yang diproyeksikan oleh laki-laki heteroseksual. Ditegaskan juga, bahwa male gaze dalam karya sastra dibentuk oleh tatanan atau konstruksi sosial masyarakat, tempat sang penulis melahirkan karya mereka. Baik Angsa Liar maupun Rumah Perawan sama-sama dihasilkan oleh penulis laki-laki, yakni Ogai dan Kawabata. Lebih jauhnya lagi: di manakah latar diproduksinya kedua karya terkait? Ialah di Jepang, negara yang saat itu tengah memasuki dan berjalan menuju kematangan modernisasi ala Barat, yang di dalamnya pula kepentingan patriarki amat terakomodasi.
Referensi:
– Wolf, Naomi. 1991. The Beauty Myth; How Images of Beauty Are Used Against Women. New York: William Morrow and Company
– Mizuta, Miya Elise. 2013. “美人 Bijin/Beauty”. Review of Japanese Culture and Society. Vol. 24. Hlm. 43-45. University of Hawaii.
– Sato, Barbara Hamil. 1993. “The Moga Sensation: Perception of Modan Garu In Japanese Intellectual Circle During thee 1920s”. Gender & History. Vol, 5. No. 3. Hlm 363-381.
– Ogai, Mori. 2019. Angsa Liar. Diterjemahkan oleh Ribeka Ota. Yogyakarta: Moooi
– Kawabata, Yasunari. 2016. Rumah Perawan. Diterjemahkan oleh Asrul Sani. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.
– Udasmoro, Wening (Ed.). 2020. Gerak Kuasa. Jakarta: KPG.
– Mulvey, Laura. 1989. Visual and Other Pleasures. Ed. 1. Language, discourse, society. Hampshire: Palgrave Macmillan.
Hatindriya Hangganararas, ibu rumah tangga yang bekerja serabutan. Baru pede meperlihatkan tulisan dari cuap-cuap santainya yang isinya kadang mbuh apa. Bisa silahturahmi dengan mengunjungi akun X @redpetals_.




