Sang Sitija Bomanarakasura

“Kebaikan dan ketulusan yang tidak berjalan lurus dengan harapan, lilo legowo.”

Pelajaran dalam alur cerita wayang memang sangat banyak yang bisa menjadi pelajaran dalam hidup kita. Dari cerita keperwiraan, pengabdian, dan sebuah pengkhianatan. Dalam cerita wayang terutama cerita wayang purwa, tokoh yang banyak dibedah dan dijadikan bahan cerita adalah kelompok Pandawa dan Kurawa, ditambah kelompok Dwarawati (Kresna). Namun tokoh lain di luar tiga lingkaran tersebut jarang sekali dibahas. Satu nama yang cukup fenomenal dalam dunia wayang purwa adalah Sitija Bomanarakasura (Sutidjo).

Garis keturunan Sitija adalah turunan Betara Wisnu dari Kahyangan Untarasegara dengan Betari Pertiwi dari Kahyangan Saptapertala anak dari Sang Hyang Nagaraja. Pertemuan Sitija dengan Kresna adalah ketika Wisnu menitis kepada Ratu Dwarawati Sri Batara Kresna, Sitija meminta restu kepada sang ibu untuk mencari ayahnya, dan oleh sang ibu, ia diberi petunjuk untuk bisa menemui Kresna (titisan Wisnu) sebagai raja di Dwarawati dengan diberi tanda pusaka Bunga Cangkok Wijayamulya untuk ditunjukkan kepada Kresna.

Sesampainya di Dwarawati dan bertemu Kresna, sebagai tanda bukti kalau Sitija adalah turunnya dan ingin diakui sebagai anak, Kresna meminta Sitija untuk membantu meredam gejolak kerusuhan antara Dwarawati dengan Trajutresna yang digawangi Raja Bomantara. Dalam pertempuran Sitija berhasil mengalahkan Raja Bomantara dan oleh Kresna didaulat menjadi raja di Trajutresna dengan gelar Sitija Bomanarakasura.

Persaingan dan perjalanan hidup

Ada beberapa cerita besar ketika Sitija menjadi Raja Trajutrisna adalah memperebutkan pangkat Senopati, di mana merebutkan daulat kedudukan berupa kuasa untuk menjadi Senopati negara Amarta. Sitija berminat dan berkeinginan untuk menjadi bagian punggawa negara Amarta, namun dukungan yang didapatkan tidak maksimal dan tidak lolos menjadi bagian dari punggawa Amarta, karena kalah dengan Gatotkaca. Kisah kedua memperebutkan wilayah konflik Tunggorono antara Pringgondani yang dipimpin Gatotkaca dengan Trajutresna (kikis Tunggorono) yang akhirnya Sitija juga kalah telak dalam klaim politik yang sudah direbutkan. Bahkan Sang Kresna sendiri tidak mendukung Sitija dalam mengupayakan untuk menguasai Tunggarana menjadi bagian negara Trajutresna.

Untuk kisah besar ketiga dan yang menjadi lantaran kematian Sang Sitija adalah ketika istrinya Dewi Agnyonowati direbut secara diam-diam oleh Samba adiknya sendiri. Dia mulanya tidak marah meskipun sebagai seorang lelaki dia dilecehkan martabatnya oleh saudaranya sendiri, bahkan dia merelakan dan memfasilitasi untuk akad antara istrinya (Agnyonowati) dengan Samba. Setelah selesai mengijabkan, dia malah ditantang perang tanding oleh Si Samba. Awalnya dia tidak meresponnya, namun Samba malah semakin menjadi-jadi dalam menghina Sitija, dan akhirnya murkalah Sitija, sehingga membunuh Samba dengan dipotong-potong (kisah lakon Samba Juwing dan atau Gojali Suto), dan setelah kejadian tersebut, dia menghadap kepada Kresna, namun sebelum berjumpa dia dibunuh oleh Kresna dengan senjata cakra, dan tamatlah kisah hidup Sitija ditangan ayahnya sendiri.

Petikan sebuah kisah

Dari cerita Sitija yang kompleks kita menggali bagaimana ketabahan dan keikhlasan seorang yang mempunyai sebuah cita-cita, sebuah harapan bahkan sebuah ambisi namun banyak yang gagal. Gagal karena digagalkan. Kalah manuver dengan orang terdekat, entah ada faktor apa namun dengan keikhlasan dan rendah hatinya Sang Sitija harus merelakan berbagai momen penting dalam hidup sampai di akhir hayatnya dia diambil patinya oleh sang ayah.

Seberat apapun situasi yang dihadapai, jangan sampai kemurkaan yang menguasi diri. Pelajaran tentang keikhlasan dan nerimo dalam menjalani kehidupan menjadi bagian yang penting agar kehidupan bisa dikendalikan. Kepala dingin walaupun hati sedang panas adalah kunci dalam menjalani hidup.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top