
Akhir pekan lalu, hari Minggu kedua di bulan Oktober, aku memutuskan untuk menghabiskannya bersama teman-teman SMA ibuku. Agendanya adalah haiking (yang mungkin lebih familiar dengan penulisan hiking dalam bahasa Inggris) di wilayah Baturraden. Kata salah satu teman ibu agenda ini cukup sering dilakukan walaupun pesertanya tidak terlalu banyak, yang mau-mau saja. Setidaknya alasan itu juga berlaku untukku yang entah kenapa mengiyakan ajakan untuk ikut kumpul bersama teman-teman ibu: ya, mau, pengin, seru kayaknya.
Ndopok Medangan (Ndomed)
Mungkin aku akan menceritakan tentang teman-teman SMA ibuku yang beberapa bulan terakhir cukup sering berinteraksi denganku. Ibuku alumni SMA Negeri 1 Purwokerto, salah satu SMA yang cukup favorit di Purwokerto. Bertahun-tahun setelah lulus SMA rupanya masih memberikan kesempatan untuk ibuku dan teman-temannya bersilaturahmi. Bukan hanya di momen tahunan atau kurun waktu beberapa tahun sekali mereka bersilaturahmi, namun hampir di setiap bulannya selalu ada agenda untuk bertemu, sampai mengizinkan keluarga mereka untuk ikut datang di pertemuan mereka, salah satunya adalah aku. Aku, anak ibu yang sering ikut setiap ibu bertemu teman-teman SMA-nya jika dibandingkan adik-adikku.
Kehadiranku yang cukup sering ini membuatku paham tentang ibu dan teman-temannya, mereka menamai perkumpulan atau circle (walaupun ini terlalu besar untuk istilah circle di generasiku yang biasanya beranggotakan orang-orang sejumlah geng kecil, atau teman sepermainan) mereka dengan sebutan “Ndopok Medangan” yang kemudian disingkat “Ndomed”. Dari penamaannya saja sudah menunjukkan perbedaan generasi antara aku dengan mereka, karena aku berasumsi nama tersebut sangat kecil kemungkinannya ditemukan di circle orang-orang seumuranku. Tapi aku sangat menikmati keberadaanku ketika berada di tengah mereka walaupun rasa sungkan pasti ada di awal. Salah satu contohnya adalah kenyataan bahwa kepala sekolah SMA tempatku sekolah dulu adalah anggota dari circle ini.
Sudut Pandangku Terhadap Circle Ibuku
Aku bukan hanya menyimpan orang di dalam lagu, namun lebih sering menyimpan momen di dalam lagu, dan untuk Ndomed ini aku menyimpan lagu yang dipopulerkan oleh Tulus berjudul “Tujuh Belas” kepada mereka. Buatku mereka membuktikan setiap liriknya hingga berusia kepala lima dan kembali sering berkumpul dengan segala ceritanya.
Aku pernah bertanya soal kisah asmara yang ramai di masa mereka SMA dulu sampai hal sereceh bahan bercanda yang pernah ada. Aku tanyakan siapa primadona sekolah? Siapa anak paling rajin di kelas? Momen konyol apa yang pernah terjadi sewaktu jam pelajaran atau ujian? Siapa yang catatannya sering dipinjam? Siapa yang menjadi pasangan sejoli paling terkenal? Berbagai pertanyaanku itu dijawab bersahutan oleh teman-teman ibuku di suatu agenda makan malam. Cerita mereka memantikku membuat film di imajinasiku tentang mereka semasa SMA dulu dengan iringan lirik lagu Tujuh Belas di kepalaku.
Masihkah kau mengingat di saat kita masih tujuh belas?
Waktu di mana tanggal-tanggal merah terasa sungguh meriah
Masihkah kau ingat cobaan terberat kita matematika?
Masihkah engkau ingat lagu di radio yang merdu mengudara?
Cerita soal kehidupan setelah masa SMA mereka pun aku dengarkan. Aku jadi tahu teman-teman ibuku yang kemudian kuliah di jurusan yang bermacam-macam di berbagai universitas. Latar belakang pendidikan mereka yang beragam menambah keseruanku mendengarkan cerita kuliah mereka meskipun tidak sebanyak saat menceritakan masa SMA. Setidaknya cerita mereka menjadi bayanganku tentang kehidupan perkuliahan teman-temanku yang berbeda jurusan denganku, juga caraku menilai mereka sebagai orang-orang terdidik yang berkuliah, karena banyak hal yang aku pelajari dari mereka.
Kebijaksanaan Menciptakan Konsep Reuni
Aku sering menemukan dan mendengar cerita orang-orang yang menjadikan reuni sebagai ajang pamer atau adu gengsi. Pandangan mengenai reuni itu juga yang menjadikan banyak orang merasa enggan untuk datang karena minder tidak merasa memiliki pencapaian yang cukup dibandingkan teman-teman lainnya. Namun, sejauh ini aku tidak menemukan itu pada teman-teman SMA ibuku.
“Ndopok” yang berarti mengobrol dan “Medangan (Medang karo Mangan)” yang berarti makan dan minum sepertinya adalah bentuk kebijaksanaan circle ini menciptakan konsep reuni. Kurang lebih sepemahamanku selama hadir di tengah mereka, nama ini dipilih untuk mendefinisikan mereka yang saat ini lebih ingin merawat kebersamaan mereka yang salah satunya lewat obrolan dengan makanan dan minuman sebagai pelengkap.
Lebih jauh dari sekadar penamaan, aku menyadari di circle ini tidak ada obrolan bernada pamer pencapaian atau kehidupan mereka saat ini, apalagi sampai pada ajang memamerkan jabatan. Mereka mungkin membagikan pengalaman, namun hanya sebatas berbagi cerita kepada teman lama, bahkan bukan jarang terjadi membagikan pengetahuan satu sama lain. Maka aku menyebut mereka cukup bijaksana memaknai reuni karena melihat ketulusan mereka yang ingin berkumpul hanya karena alasan ingin berkumpul saja. Kalau ada circle yang ingin merangkul satu sama lain, bagiku circle ini salah satunya. Kalau ada circle yang menganggap perkumpulannya sebagai keluarga, bagiku circle ini salah satunya.
Putaran bumi dan waktu yang terus berjalan menempa kita
Walau kini kita terpisah namun jiwaku tetap di sana
Lirik itu sepertinya menggambar momen teman-teman ibuku yang saling bertukar cerita sampai akhirnya bersama-sama datang ke almamater mereka dulu. Bukan hanya untuk napak tilas saja, tapi turut menyapa adik-adik almamater generasi yang saat ini berstatus siswa. Pernah di suatu agenda reuni beberapa bulan lalu mereka mengundang juga guru-guru SMA-nya hingga merencanakan kontribusi yang bisa mereka berikan kepada almamaternya.
Mengagumi Teman-teman Ibu
Mengenal teman-teman ibu dan berbagai ceritanya (di masa lalu dan sekarangnya) jelas selalu meninggalkan kesan setiap selesai suatu pertemuan. Khusus bagiku, cerita mereka lebih seperti nasihat dan pelajaran hidup yang perlu aku refleksikan di usia 20-an ini. Pengalamanku yang masih sedikit dan sering dihadapkan dengan kebingungan sepertinya perlu memaknai pengalaman teman-teman ibu sebaik mungkin.
Sederas apa pun arus di hidupmu
Genggam terus kenangan tentang kita
Seberapa pun dewasa mengujimu
Takkan lebih dari yang engkau bisa
Dan kisah kita abadi untuk s’lama-lamanya
Setiap dengar lirik di atas rasanya seperti disokong oleh teman lama atau orang yang lebih tua. Teman lama menyampaikan lirik itu sebagai doa dan penyemangat untuk meniti kehidupan yang semakin dewasa semakin dihadapkan pada kebingungan. Orang yang lebih tua menyampaikan lirik itu sebagai nasihat dan dukungan untuk lebih sabar menghadapi proses pendewasaan yang masih panjang. Namun yang membedakan dalam hal ini orang tua seperti membuktikan bahwa pada akhirnya segala ujian dalam hidup akan berlalu juga. Segala takut, galau, khawatir, cemas, resah, pasti akan ada akhirnya.
Hal itu yang aku dapatkan dari teman-teman ibu. Mereka kembali berkumpul sebagai orang yang sama namun dalam versi terbaik sebagai orang dewasa.
Haiking Bersama Teman-teman Ibu: Menemukan Pelajaran Baru Soal Pertemanan
Haiking kemarin mempertemukan aku dengan beberapa pelajaran. Pertama, perbedaan konsep reuni. Aku merenungi ini setelah menyadari kalau reuniku dengan teman-teman SMA-ku beberapa bulan lalu terjadi di momen sukacita: pernikahan 2 teman kelasku di satu bulan yang sama. Aku bersyukur di momen reuni kemarin teman-temanku juga memiliki kebijaksanaan seperti teman-teman ibuku, yaitu tidak ada ajang pamer pencapaian, atau pertanyaan-pertanyaan yang berpotensi menimbulkan kerenggangan. Namun aku disadarkan bahwa momen reuni ibuku dengan teman-teman SMA-nya yang terjadi di momen dukacita: meninggalnya orang tua mereka.
Kenyataan ini membawaku ke suatu refleksi tentang hidup yang akan selalu berubah. Perubahan itu akan tetap ada. Tetapi aku juga belajar bahwa di momen sukacita maupun dukacita kita tetap membutuhkan teman.
Selama haiking kemarin juga aku mendapat pelajaran berharga saat menuruni suatu tangga sambil bertanya ke salah dua teman ibuku. “Gimana perasaan Om dan Tante bisa lihat dan kumpul lagi setelah puluhan tahun lulus SMA? Ketemu orang yang sama tapi di usia dan keadaan yang nggak lagi sama.” Pertanyaan itu dijawab Tante Wulan dan Om Bamkis yang berjalan di belakangku. “Pada dasarnya, percaya atau tidak, banyak dari kami yang waktu SMA tidak akrab. Ada yang dulu cuma sebatas paham nama. Ada yang dulu ya cuma kenal saja. Jadi, ada yang baru kenal atau akrab baru-baru ini.”
Jawaban dua teman ibuku itu sepertinya membawa renungan baru tentang pertemanan. Memang benar kata orang, semakin dewasa akan semakin sedikit teman, namun kedewasaan juga yang akan mempertemukan kita dengan orang-orang dewasa yang terbuka untuk menjalin pertemanan. Setidaknya aku merasakannya juga di kehidupan pasca kampus, di waktu teman-temanku pulang ke kampung halamannya dan menyisakan aku yang merupakan warga lokal kota tempat kampusku berdiri, aku tidak kesepian karena menemukan lingkungan pertemanan baru dengan berbagai perbedaan latar belakangnya. Mungkin salah satunya adalah teman-teman SMA ibuku ini, yang aku hormati kebaikannya sehingga aku nyaman ikut haiking bersama mereka kemarin tanpa ikutnya ibuku, yang membuatku ketika sampai rumah menceritakan segala pengalaman tersebut tanpa melupakan rasa heran dan kagumku atas kemampuan Om Ruby dan Om Sapar yang lebih mirip perpustakaan berjalan.
Nur Fadhilah Rizqi, warga Purwokerto Utara yang lebih sering disapa Kiki. Hobi ke Rajawali Cinema dan senang-sedang-selalu mencari kesempatan belajar karena banyak nggak tahunya. Selain warung seblak, kedai es krim, warmindo, atau coffee shop, Kiki bisa diajak ngobrol lewat akun instagram pribadinya @rzqrrr.




