Risalah Sepulang Juguran Syafaat ke 155

Sebenarnya tidak ada rencana mau pergi malam-malam. Tapi karena Mas Neo Amroni bilang kalau di Juguran Syafaat ada Pak Toto Rahardjo, saya langsung berubah pikiran. “Gasss. . .” Kapan lagi bisa langsung bertemu dengan penulis yang bukunya sejak tahun 2012 saya tenteng ke mana-mana. Buku “Pendidikan Popular”. Beberapa tahun silam ya sudah ketemu sih, di SALAM Nitiprayan. Tapi ini beda. Saya merasa harus turut menyambut kedatangan tamu Piyayi Yogya ini, apalagi beliau rawuh bersama Bu Wahya, istrinya. Pasangan aktivis seumur hidup, yang bisa kita jadikan referensi dan tauladan dalam gerakannya. Terutama jika kita ingin memaknai pendidikan. Mari kita belajar dari mereka, dari SALAM (Sanggar Anak Alam).

***

Kita awali dari informasi umum, acara apa yang kami datangi. Acara itu adalah Juguran Syafaat ke 155 di Hetero Space Purwokerto. Saya tidak tega kalau mau bilang ini “Maiyah Versi Lite”. Tapi ya intinya seperti Maiyah itulah acaranya.

Malam itu, Jumat 13 Februari 2026, Juguran Syafaat dipandu oleh Mas Kusworo. Sebagai opener adalah Mas Kukuh. Bintang tamunya adalah Pak Toto Rahardjo, dengan didampingi oleh Abah Titut Edi Purwanto, Pak Agus Sukoco dan Gus Ulul Aedi. Serta dijeda dengan petikan gitar Kanaya. Kita semua duduk lesehan di teras Hetero Space, sambil ngopi, berdampingan dengan tenda-tenda yang lagi dipersiapkan untuk sebuah acara esok pagi.

***

Kami datang saat opener, Mas Kukuh hampir selesai menyampaikan pantikannya. Jadi kami tidak tahu awalannya membahas apa. Kami duduk saat pembahasannya tentang MBG. Jadi kami hanya menyimak saja.

Selanjutnya Mas Kusworo mempersilakan jama’ah untuk memberikan tanggapan atau pertanyaan. Dan yang menyambut adalah seorang guru muda. Ia memperkenalkan diri sebagai seorang guru di salah satu sekolah di Banyumas. Namanya Huda. Selanjutnya saya sebut Pak Huda. Saya tidak begitu paham wajahnya karena duduk di belakangnya. Tapi dari kacamata yang a pakai, nampak kalau beliau ini guru muda yang cerdas nan kritis. Hanya saja negara belum menemukan beliau saja, sehingga belum bisa jadi ASN.

Menurut Pak Huda, karena sekolahnya belum mendapat MBG, jadi ia menanggapi hal lain. Ia menyoroti tentang karyawan SPPG yang lebih diprioritaskan oleh negara daripada guru honorer. Prioritas ini dalam bentuk pengakuan atau pengangkatan sebagai ASN PPPK.

Pak Huda juga menyoroti isu tersebut yang malah menjadikan guru honorer vs pegawai SPPG. Padahal mereka bukanlah penentu kebijakan. Mereka sama-sama di bawah. Pertanyaannya, yang memang juga ada dalam benak masyarakat luas, mengapa lembaga yang masih baru, namun sangat diistimewakan dan diprioritaskan.

Dalam tulisan ini, saya tidak mau membahas MBG terlalu panjang. Kita lihat saja dampaknya 5 tahun kedepan, sambil berprasangka baik dan terus melanjutkan hidup sebagai WNI.

***

Saat duduk saya mulai resah dan plingsatan karena harus lesehan, tibalah Mas Kusworo mempersilakan Pak Toto Rahardjo dan yang lain untuk maju. Akhirnya saya bisa mendengar lagi buah pikiran dari seorang yang memiliki pandangan lain tentang pendidikan, sekaligus pandangan tersebut beliau wujudkan. Jadi beliau adalah orang teori dan praktik yang berjalan sekaligus.

“Tema malam ini adalah Bangsa Meica. Mungkin ini panitia membaca tulisan saya di Caknun.com”, kata beliau membuka obrolan. Apa itu Bangsa Meica yang dimaksud oleh beliau, bisa dibaca di sini.

Malam itu, Pak Toto tidak banyak mengupas tentang Bangsa Meica. Lebih banyak membahas tentang pendidikan. Dan yang memang saya tunggu adalah Pak Toto menyampaikan pandangan dan apa yang telah beliau lakukan di dunia pendidikan. Karena selama ini, jika kita mendengar kata pendidikan, yang terbayang adalah sekolah. Padahal, antara pendidikan dan sekolah, adalah dua hal yang berbeda.  

Pak Toto Rahardjo menyampaikan bawah Indonesia ini terlalu luas. Beliau hanya bisa melakukan “perubahan” sesuai jangkauannya saja. Apa yang di depan mata beliau. Ketika SALAM berdiri, Sanggar ini menerapkan sistem pendidikan yang berbeda pada umumnya sekolahan.

Ketika penerimaan anggota baru -SALAM tidak menyebut siswa baru- yang dites adalah orang tuanya bukan anaknya. “Mengapa memilih SALAM sebagai tempat sekolah?”. SALAM, menurut penyampaian Pak Toto, bukanlah penitipan anak. SALAM adalah sebuah sekolah yang menerapkan Tripusat pendidikan menjadi satu. Orang tua terlibat sejak awal. Ia menyebut bahwa selama ini, sekolah hanya melibatkan orang tua saat rapat komite dan yang berhubungan dengan pembayaran. Di SALAM tidak seperti itu. SALAM tidak melepaskan diri dari peran orang tua (keluarga) sebagai pembentuk watak awal seorang anak.

Model pembelajaran di SALAM juga berbeda. Mereka menitikberatkan kepada riset dan juga belajar melalui apa yang dilakukan sehari-hari. Misalnya ketika belajar menulis dan membaca, anak SALAM sekaligus melakukan. Ketika belajar menulis dan membaca “bayam” misalnya, anak juga belajar menanamnya, menghitung benihnya, tanah, pupuk dan perawatannya.

Model pendidikan SALAM adalah proses belajar menemukan. Sehingga ilmu yang dipelajari memang anak-anak temukan dan mereka yang menentukan akan belajar apa di SALAM.

***

Tidak afdol rasanya kalau tidak ngrasani AI juga. Malam itu juga ada secercah pencerahan. Saat Google menjadi mesin pencari dan AI sebagai mesin penjawab, lalu dimana posisi dan peran guru? Konteks ini adalah konteks pendidikan. Ketika dahulu guru melakukan transfer of knowledge, sedangkan sekarang siswa bisa mencari jawaban melalui AI dan lebih cepat dan lengkap.

Pak Toto menyampaikan bahwa “teknologi semakin maju, namun rasa kemanusiaan semakin hilang”. Manusia semakin tercerabut dari akarnya. Kira-kira seperti itu. Jadi guru bisa mengambil peran supaya siswa tidak kehilangan jiwa dan rasa kemanusiaannya.

Selain itu, Pak Toto juga menyampaikan bahwa “dalam proses melakukan perubahan ke arah yang lebih baik, dimulai dari hal yang kecil. Dimulai mengorganisir komunitas yang kecil. Yang diorganisir adalah cara pandang dan pola pikirnya, bukan mengajak orang sebanyak-banyaknya. Itu bukan mengorganisir kalau sebanyak-banyaknya, itu mobilisasi namanya”. Akan lebih mudah nanti berbicara atau menyampaikan sesuatu kepada yang sudah satu frame.

***

Abah Titut juga menyampaikan hal tentang bagaimana proses pendidikan itu mulai diajarkan. Pendidikan harus dimulai dari keluarga. Bahkan leluhur kita sudah mengajari akan hal itu. Abah Titut mencontohkan tentang bagaimana kita memuliakan tamu. Ketika tamu berpamitan, usahakan kita mengantarnya, dan kita jangan beranjak sebelum tamu tersebut hilang dari pandangan kita. Jangan malah tamu baru melangkah, kita sudah tutup pintu. Hal itu menyakitkan hati tamu. Dan kita juga turut membangun rasa tanggung jawab atas keamanan kepada tamu yang datang kepada kita. Jangan-jangan nanti tamu yang sudah pamitan, ternyata ada kendala di perjalanan, padahal baru beberapa meter dari rumah kita.

Leluhur kita sudah banyak mengajari rasa kemanusiaan seperti itu. Itu adalah sebuah pranata bagaimana kita menjalani kehidupan sebagai manusia.

Gus Ulul yang juga seorang dosen, mengajak mahasiswanya untuk tidak hanya belajar di dalam kelas. Ia mengajak mahasiswanya untuk menangkap ilmu-ilmu lain di luar kelas. Yang bisa jadi lebih bermanfaat. Dan meyakinkan kembali kepada kita bahwa Allah Swt akan memberikan derajat yang baik bagi orang yang mau menuntut ilmu.

***

Terakhir, saya tutup tulisan ini dengan meminjam closing statement dari Pak Agus Sukoco. Beliau mengingatkan kembali kepada kita semua tentang panggilan Allah di dalam Al-Qur’an. Konteks ini adalah konteks kita yang akan memasuki bulan Ramadhan. Tentang bagaimana orang yang berpuasa dan tidak menjalankan puasa.

Dalam Al-Qur’an, Allah memanggil kita dengan Yā ayyuhan-nās (Wahai manusia) dan Yā ayyuhal-ladzīna āmanū (Wahai orang-orang yang beriman). Panggilan Yā ayyuhan-nās adalah untuk semua orang. “Yā ayyuhal-ladzīna āmanū, hanya untuk yang terpilih saja.

Beliau menganalogikan seperti ini tentang bulan Ramadhan. Jika ada sebuah rekrutmen, Yā ayyuhan-nās adalah pengumumannya terbuka untuk semua orang. Namun setelah mendaftar, hanya orang-orang tertentu saja yang akan dipanggil. Mereka dipanggil dengan undangan khusus, yaitu Yā ayyuhal-ladzīna āmanū. Jadi orang yang tidak menjalankan puasa itu, yang memang tidak “dipanggil” oleh Allah. Jadi antara yang sudah “dipanggil” atau yang belum, jangan saling menyalahkan. Karena panggilan itu hak pereogratifnya Allah. Namun, Allah sebagai subjek utama perubahan, harus terus kita upayakan supaya kita bisa mendapatkan undangan khusus itu, sebagai bagian dari Yā ayyuhal-ladzīna āmanū.

Padahal yang lolos rekrutmen itu akan mengikuti proses yang berat, diplonco. Tentu kita mengharap lolos dalam sebuah rekrutmen yang kita ikuti. Meski kita tahu akan lebih berat menjalaninya. Namun ketika nanti lulus dan proses itu, akan mendapatkan gelar yang membahagiakan. Sebagaimana dalam Al-Baqarah ayat 183, orang yang berpuasa, akan mendapatkan gelar dari Allah, menjadi bagian dari orang-orang yang beruntung.

***

Sepulang dari acara, saya bertanya kepada Mas Neo Amroni, “juguran itu apa mas?”. Ya juguran itu bahasa ngapak, artinya duduk bersama atau berkumpul. Saya sering bertanya dalam banyak hal kepada Mas Neo, ketika AI tidak bisa menjawabnya. Seperti kata Pak Toto, jika kamu tanya ke Google atau AI, ngga bisa jawab apa itu Meica. Karena Meica adalah imajinasi saya dalam melihat kehidupan ini. Dan terus merumuskan pertanyaan, lalu menemukan sesuatu, bagi saya itu adalah proses menjadi manusia yang tumbuh sebagai manusia. Mekaten.

1 komentar untuk “Risalah Sepulang Juguran Syafaat ke 155”

  1. Pingback: Adab, Ma'dubah dan Al- Qur’an - Temenan BIL Fest

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top