
Melihat masyarakat Kabupaten Pati yang sampai menghimpun kekuatan masa tidak bisa kita menganggap remeh. Aksi massa masyarakat Pati bersifat sporadis. Meskipun akhirnya ada yang mengorganisir dan menyusun tuntutan secara rapi dan tidak bisa disebut sporadis. Akhirnya aksi masyarakat Pati menjadi aksi yang terorganisir -mungkin sampai ada anggapan ini ditumpangi. Tapi embrio dari gerakan aksi massa di Indonesia, memang berasal dari letupan-letupan kecil dari individu. Kemudian berhimpun karena memiliki kesamaan.
Aksi massa adalah sejarah perjalanan demokrasi sebuah bangsa. Ketika ada tindakan anarkis atau keos saat aksi massa yang terjadi itu hal yang tidak bisa terhindarkan. Ada banyak aksi massa dalam sejarah perjalanan bangsa kita ini. Setidaknya ada 3 aksi massa di Indonesia yang memiliki model yang sama. Sehingga kita bisa melihatnya menjadi sebuah pendewasaan sebagai sebuah bangsa yang besar.
Pertama, aksi massa tahun 1998. Titik sasar mereka adalah presiden pada waktu itu Soeharto. Tuntutan mereka adalah supaya Soeharto mundur dari kursi presiden atau dilengserkan. Aksi massa dari berbagai elemen ini akhirnya bisa mencapai titik balik ketika Soeharto menggundurkan diri sebagai presiden. Tujuan aksi massa tercapai.
Kedua, aksi massa 212. Titik sasar mereka adalah Gubernur DKI Jakarta saat itu, Basuki Tjahaya Purnama (Ahok). Aksi ini digelar sesuai dengan namanya 2 Desember pada tahun 2016. Gelombang massa tidak hanya dari Jakarta. Meskipun yang disasar adalah Gubernur DKI Jakarta pada waktu itu. Elemen umat Islam dari berbagai latar belakang organisasi dan daerah berkumpul di Jakarta. Dukungan logistik juga datang dari berbagai macam pihak. Hingga titik baliknya adalah vonis bersalah dan penjara dari pengadilan kepada Basuki Tjahaya Purnama karena kasus penistaan agama. Sekali lagi, tujuan aksi massa tercapai.
Ketiga, Aksi massa Pati, titik sasar mereka adalah Bupati Pati, Sudewo. Kebijakan kenaikan PBB (pajak bumi dan bangunan) sebanyak 250% menjadi titik ledak masyarakat Pati menghimpun diri. Meskipun Sudewo selaku bupati sudah melakukan pertimbangan dan kajian sebelum kebijakan itu diputuskan. Dan tujuannya untuk pembangunan Kabupaten Pati. Namun kebijakan itu ternyata menuai protes dari masyarakat Pati.
Ternyata, pembatalan kenaikan PBB tidak bisa menjadi titik balik. Gelombang massa dan dukungan semakin besar. Dukungan logistik datang dari berbagai macam pihak. Aksi massa yang sporadis seperti ini lebih sulit dikendalikan. Mengingat tidak ada tokoh nasional yang muncul sebagai bagian dari massa. Beda halnya dengan aksi massa 98 atau 212. Ada tokoh central atau kolektif central tingkat nasional -bila kita tidak mau menyebutnya aktor intelektual.
Mungkin saja masyarakat Pati belajar dari 2 sejarah peristiwa aksi massa sebelumnya. Meskipun mereka di daerah, dan dua aksi massa sebelumnya berpusat di ibu kota. Tapi peran media baik lokal dan nasional yang menyorotnya tak bisa dipungkiri. Sorot media menjadikan aksi massa ini menjadi besar dan patut dicatat dalam sejarah perjalanan demokrasi bangsa kita.
Kesamaan dari 3 aksi massa itu ada pada pola dan 1 titik sasar yang sama dari sudut pandang peserta aksi massa yang terjadi. Titik sasar yang dimaksud adalah tokoh atau orang. Sehingga peserta aksi massa lebih mudah mendefinisikan siapa sasaran mereka. Massa mudah mengindentifikasi siapa yang mereka tuntut, mengapa mereka melakukan itu, dan apa tuntutan yang disampaikan. Hingga nanti ada titik balik yang didapatkan.
Melihat sejarahnya, aksi massa yang punya 1 titik sasar belum pernah gagal. Namun dalam sejarah demokrasi bangsa Indonesia, belum pernah ada kepala daerah yang dimakzulkan atau menggundurkan diri atas dasar ketidakpuasan masyarakat. Sejarah mencatat, yang ada adalah kepada daerah dimakzulkan karena terkait korupsi. Itupun melalui mekanisme yang diatur dalam Undang-undang Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah dan disetujui melalui sidang paripurna DPRD. Mari kita lihat dan belajar, aksi masyarakat Pati 13 Agustus 2025, akan mencatatkan diri sebagai sejarah aksi massa yang seperti apa? A Luta Continua.
Hasan Ghozali, orang biasa yang membaca dan menulis.




