Naik, Tertimpa, Redup

Penyebaran informasi dalam tempo yang serba cepat. Publik setiap hari menerima gelombang informasi yang datang silih berganti mulai dari isu politik, religius, hingga gosip yang menjadi viral namun beberapa hari kemudian redup begitu saja seperti tidak terjadi sesuatu. Fenomena ini sudah seperti pola alamiah yang lazim terjadi dalam struktur penyebaran informasi atau berita. Viralitas menjadi salah satu indikator munculnya berita lalu menyita pandangan publik setelah itu tertimpa berita lain yang bersifat emosional yang menyebabkan belum adanya kajian secara mendalam lalu diambil alih kepada berita terbaru. Siklus tersebut merupakan proses naik dan turunnya suatu berita, informasi atau isu dalam ruang media. 

Viralitas dapat menjadi opini yang kuat melebihi kebenaran yang absolut dan memanfaatkan minimnya filterisasi dalam menerima informasi yang beredar, dalam ruang digital pada saat ini terkadang isu yang sedang naik lebih banyak mendapat perhatian dan mendapat banyak pembicaraan pada khalayak umum pada satu sisi lain validitas data empirik sering tidak terpakai sebagai acuan sebenarnya. Fenomena tersebut melahirkan ekosistem tidak sehat dimana algoritma dan popularitas menjadi patokan. 

Terdapat sebuah fenomena disebut herd behavior (perilaku kawanan) atau dalam konteks tertentu disebut juga collective motion dan social looping effect. Di mana perilaku kolektif yang dikendalikan oleh faktor luar kemudian menjadi otomatis karena dorongan faktor internal atau Respons sosial di mana individu dalam kelompok meniru tindakan kelompok tanpa pemikiran rasional independen. Dalam dunia manusia, ini sering muncul dalam bentuk mass following di media sosial, tren viral, atau opini publik yang seragam. Media dan algoritma menjadi faktor utama dalam menggiring perhatian publik pada satu itu ketika sedang naik, seiring dengan waktu masyarakat tertimpa dengan tempo penyebaran berita atau informasi yang cepat sehingga perhatian sebelumnya teralihkan. Bahkan ketika media sudah berpindah ke topik lain, publik masih terperangkap dalam kebiasaan konsumsi berita cepat. hingga akhirnya energi sosial mereka habis dan isu meredup.

Tempo penyebaran, ruang media, kebiasaan mengonsumsi berita tanpa filter bukan sepenuhnya menjadi indikator fenomena ini terjadi, dalam arus yang berputar tanpa arah itu, selalu ada tangan-tangan yang memahami ritmenya dan menjadikannya alat kekuasaan. Di tengah kebiasaan publik yang mudah tergerak oleh sensasi, muncul para pengelola isu baik individu, institusi, maupun kelompok politik yang lihai membaca momentum untuk mengalihkan perhatian dari satu perkara ke perkara lain.

Siklus berita bukan sekedar proses alami dari kejenuhan publik, melainkan sering kali merupakan hasil rekayasa yang terencana. Ketika satu isu berita tertentu menjadi satu kepentingan individu maupun kolektif muncul isu baru yang biasanya bersifat emosional dengan tempo penyebaran yang cepat dimana hal ini mengalihkan perhatian publik dari isu atau berita sebelumnya. 

Terdapat sebuah konsep yaitu information overload sebuah kondisi individu terlalu banyak menerima informasi dengan cepat, alih-alih menerima kebenaran justru membuat melampaui Batasan kognitif untuk memproses secara kritis. Akibatnya publik tidak bisa menilai relevansi dan kebenaran yang ada hanya berupa reaksi spontan dan konsumsi cepat atas rangsangan emosional yang dibalut dengan visualisasi. Perhatian manusia menjadi alat baru dalam sistem ekonomi digital.

Perusahaan media, platform daring, dan bahkan aktor politik berlomba-lomba untuk merebut detik demi detik fokus pengguna. Dalam logika ini, informasi bukan lagi disebarkan untuk mencerdaskan publik, melainkan untuk mempertahankan keterlibatan (engagement) agar arus data tetap menguntungkan secara algoritmik dan finansial. Maka, masyarakat tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga produk dari sistem tersebut kesadarannya diperdagangkan dalam bentuk klik, tayangan, dan waktu layar.

Informasi tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya yaitu sebagai sarana pencarian kebenaran melainkan rekayasa yang dibuat sedemikian rupa yang dilakukan oleh oknum tertentu yang memiliki kepentingan dan kekuasaan serta dibuat sebagai instrumen pengendalian persepi. Kekuasan dalam konteks modern tidak hanya sebatas sumberdaya tetapi pembelokan perhatian, persepsi dan sudut pandang, mengatur apa yang dianggap penting dan menghilangkan apa yang boleh dilupakan dan yang sengaja diorbitkan agar publik berpindah arah. Seperti kawanan yang terus berputar meski sang gembala telah pergi, publik digital ikut berulang dalam pusaran perhatian meneruskan penyebaran narasi viral yang menguatkan opini sementara substansi kasus perlahan meredup.

Fenomena naik, tertimpa dan redup sebuah isu menjadi ekosistem yang seharusnya tidak ada justru pada masa saat ini sering terjadi fenomena tersebut, penyebaran informasi yang cepat seharusnya tidak menjadi penghambat untuk berinteraksi dan mengkritisi sebuah isu. Ekosistem penyebaran informasi tidak hanya bermasalah pada sisi penyebaran, tetapi pada kapasitas literasi digital publik, solusinya bukan hanya meningkatkan kapasitas literasi semata tetapi daya tahan terhadap isu isu yang tidak seharusnya dikonsumsi dalam menghadapi arus informasi yang cepat.

Selain dari tanggung jawab individu dalam meningkatkan kapasitas literasi, tetapi penyedia informasi harus dibangun secara etis dan bertanggung jawab. Media massa tidak hanya berorientasi pada algoritma semata tetapi berperan sebagaimana mestinya. Regulasi etik perlu ditekankan dan diarahkan untuk mencegah manipulasi atensi publik yang ditutupi oleh informasi yang dibaluri dengan sensasional atau framing yang membingungkan.

Filterisasi terhadap informasi, berita dan isu menjadi penting untuk memilah mana yang benar dan mana yang sebagai pengalihan atensi publik, dengan adanya filterisasi daya tahan terhadap informasi yang bertujuan mengalihkan pandangan publik lebih terminimalisir dan publik dapat mengkritisi lebih mendalam hingga akhirnya timbulnya sebuah solusi atau tindak lanjut dan meminimlaisir reaksi spontan.

Membangun kesadaran kolektif atas pentingnya jeda informasi juga menjadi langkah penting. Publik perlu menyadari bahwa tidak semua hal layak untuk segera ditanggapi, dan tidak setiap isu yang viral pantas untuk diberi ruang besar dalam kesadaran sosial. Dalam ruang digital yang padat, keheningan bisa menjadi bentuk perlawanan baru terhadap manipulasi atensi. Hanya dengan menata ulang cara kita memberi perhatian, publik dapat kembali menjadikan informasi sebagai jalan menuju pengetahuan, bukan sekadar komoditas sensasi.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top