Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 12)

Supaya lebih utuh seluruh, bacalah terlebih dulu:
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 1)
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 2)
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 3)
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 4)
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 5)
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 6)
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 7)
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 8)
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 9)
Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 10)

Segelas Teh Tanpa Gula (Bagian 11)

Kita Pernah Saling Diam, Tapi Penuh

Ada malam
ketika kata-kata menjadi beban
dan kita saling menjauh
ke dalam dada masing-masing.

Namun di antara kita
masih ada meja,
masih ada lampu kecil
yang menyala tanpa suara
seperti cinta yang terlalu mengerti
untuk memaksa hadir dalam kalimat.

Kau menyapu lantai
dengan gerak yang nyaris seperti ibadah,
dan aku menatap punggungmu
seperti membaca surah
yang tak ingin kuselesaikan.

Diam kita
bukan jurang,
melainkan jembatan
yang dibuat dari embun
dan luka yang sudah reda.

Dalam sunyi itu,
kau meletakkan segelas air
di samping tempat tidurku
tanpa menatap,
dan aku tahu:
itulah maaf,
itulah rindu,
itulah janji
yang tak perlu tanda tangan.

Kita pernah saling diam,
tapi penuh,
seperti langit
yang tak menjelaskan matahari,
namun tetap membiarkannya terbit
setiap pagi.

2025

***

Menyebutmu di Setiap Rindu

Namamu,
adalah musim hujan yang kusebut
di tengah tubuh yang retak,
di ujung waktu yang menuntun aku pulang
ke tempat yang tak tampak.

Aku menyebutmu
seperti ciuman yang tidak pernah kau beri,
tapi meresap ke dalam darah,
menghangatkan malam yang tak pernah tidur.

Setiap kali kau menyebut namaku,
tanpa suara, tanpa gerak,
seperti angin yang menyentuh kulitmu,
sudah cukup untuk mengguncang dunia yang
sepi ini.

Aku menyimpanmu
di tiap pori-pori rindu yang tidak pernah kututup,
seperti parfum yang kau semprotkan di leherku,
mengendap dan melayang sepanjang nafas yang
gemetar.

Kau adalah surat
yang belum terkirim,
tapi setiap kata-katamu
terbaca di malam-malam yang kosong,
ketika tubuhku gentar oleh bayangan kesendirian.

Namamu,
mengalir perlahan di nadiku,
memeluk luka yang tak bisa kusembunyikan,
dari mata Tuhan,
dan dari matamu.

Dan aku,
di setiap sujud,
hanya menyebut satu hal:
biarkan rindu ini mengalir,
selama kau tetap menjadi jantungnya.

2025

***

Jika Suatu Hari Kau Membaca ini

Jika suatu hari
kau membaca ini,
biarkanlah angin yang membawa kata-kata ini
menyentuhmu
seperti tangan yang membuka tirai
di pagi yang sunyi.

Aku telah menulismu
dalam setiap hembusan nafas yang terlewat,
dalam setiap rindu yang tak pernah terucapkan,
dalam setiap doa yang
hanya mengenal namamu tanpa suara.

Bukan dengan tinta aku menulismu,
tapi dengan denyut nadi
yang terjaga sepanjang malam,
ketika tidur tak datang
dan hanya kenanganmu yang terulang
dalam diam.

Jika kau membaca ini,
biarkanlah itu menjadi bayangan
seperti jejak kaki yang menghilang
di pasir waktu.

Meskipun jarak memisahkan kita,
aku tetap menulis untukmu,
seperti rindu yang tak tahu kapan akan pulang.

Jika suatu hari kau membaca ini,
kau akan menemukan aku
dalam kata-kata yang mencintaimu
tanpa syarat,
hanya karena kau pernah ada di sini.

2025

***

Yang Setia di Samping Sunyiku

Kau, yang setia di samping sunyiku,
seperti senja yang tak pernah habis
di ujung langit yang menanti hilang.
Kau hadir, diam,
lebih nyata daripada kata yang pernah kutulis.

Tanpa suara,
kau sentuh aku,
seperti angin yang mengusap wajah
di malam yang tak mengenal waktu.
Kau ada dalam setiap helaan nafas,
di antara ruang kosong yang tak pernah terisi
oleh apapun selain namamu.

Dalam sunyi,
aku mendengarmu,
di balik detik yang melarut,
di ujung setiap lirih yang hilang
sebelum terucap.

Tak ada kata yang cukup
untuk menggambarkanmu,
karena kau tak perlu diucap
untuk ada.
Kau adalah nafas yang aku hembuskan
tanpa sadar,
setia di samping setiap rindu
yang tak pernah aku tutup.

Kau adalah ruang yang kosong,
tapi tak pernah sepi,
menunggu,
di samping sunyiku,
seperti senja yang setia
menunggu malam
di ujung cakrawala.

2025

***

Sajak yang Kutulis di Lenganmu

Aku menulis di lenganmu,
bukan dengan tinta,
tapi dengan darah yang
mengalir dari luka yang lama
dan kata-kata yang terpendam dalam bisu.
Lenganmu adalah lahan tandus,
tempat aku menanam makna
yang hanya bisa tumbuh dalam diam.

Setiap goresan adalah serpihan sunyi,
seperti batu yang tersusun di gurun
di bawah langit yang tak tahu arti hujan.
Lenganmu menjadi peringatan,
seperti reruntuhan yang bisu,
menunggu hujan yang tak datang.

Di setiap lekuk kulitmu,
aku menulis puisi yang tak pernah selesai,
tentang waktu yang terjaga
di antara garis-garis tangan kita,
tentang rasa yang hilang di antara nafas
yang terlalu lama terdiam.

Tidak ada harapan dalam tulisan ini,
hanya jejak yang tak bisa dihapuskan,
seperti gunung yang berdiri diam
menantang angin,
seperti lenganmu
yang membawa tulisan ini
ke dalam keheningan yang abadi.

Aku menulis di lenganmu,
seperti yang dilakukan oleh petani
pada tanah yang telah lama mengering,
dengan harapan yang
tak lagi mengharapkan sesuatu.
Namun tetap, tulisan ini adalah caraku
untuk mengenangmu,
di atas tubuh yang tak bisa dituliskan
dengan apapun selain kesunyian.

2025

***

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top