Mencatat May Day 2026 di Monas

Okelah, himbauan-himbauan untuk May Day yang tidak anarki digemakan. Namun, apakah aksi May Day dari depan DPR RI pindah ke Monas hanya soal pindah tempat? Lalu, Presiden Prabowo akan hadir. Dan akan merayakan May Day bersama para buruh, lalu aspirasi dinyatakan berhasil?

Read More »

Tabiat Asbun

Seorang pejabat yang profesional  yang benar-benar menyadari bahwa jabatannya adalah mandat dari rakyat akan merespons kritik masyarakat dengan penuh tanggung jawab, bukan arogansi atau ASBUN. Ia akan sadar bahwa setiap pernyataannya di ruang publik adalah pertanggungjawaban kepada pemberi mandatnya yaitu masyarakat.

Read More »

Menagih Keamanan di Balik Riuhnya Perayaan

R.A. Kartini, Dewi Sartika, hingga Butet Manurung, memperjuangkan bagaimana kaum marginal, perempuan, hingga masyarakat adat untuk mengenyam pendidikan. Pendidikan dianggap penting untuk keluar dari keterbelakangan. Saat ini, kita bersyukur karena perjuangan mereka memberikan manfaat yaitu mudahnya akses pendidikan. Pertanyaannya, apakah itu cukup?

Read More »

Fenomena Seni Sebagai Gaya Hidup Baru di Kalangan Generasi Z

Belakangan ini, saya cukup sering hadir dalam berbagai pameran karya seni – bukan di galeri ataupun di museum. Pameran seni dalam ruangan art space dan juga dalam ruang kafe yang jadi terasa lebih dekat dengan denyut kehidupan masyarakat sekaligus terasa menyatu dengan aroma kopi di dalamnya. Pergeseran ekosistem seni yang terjadi belakangan ini menandakan sebuah transformasi ontologis dalam dunia seni. Ekosistem seni menjadi lebih cair dengan tidak lagi hanya berorientasi pada pasar eksklusif para kolektor kelas atas, tetapi juga bergeser menjadi ruang apresiasi bagi penikmat seni secara umum.

Read More »

Perjuangan Gen Z Menghadapi Quarter-Life Crisis di Tengah Tekanan Sosial dan Ketidakpastian Masa Depan

ayangkan berada di usia 20-an, ketika orang lain tampak sudah melangkah jauh—memiliki karier, pencapaian, bahkan arah hidup yang jelas—sementara diri sendiri masih dipenuhi tanda tanya. Perasaan tertinggal, cemas, dan tidak cukup baik menjadi pengalaman yang diam-diam dirasakan oleh banyak Generasi Z. Fase ini dikenal sebagai quarter-life crisis, sebuah periode krisis yang muncul di tengah tekanan sosial dan ketidakpastian masa depan.

Read More »

Di mana Kartini Ketika Hari Perayaannya?

Selayaknya orang berulang tahun, perayaan akan lebih semarak jika kita turut mempersembahkan bingkisan. Lantas, hadiah seperti apa yang dinanti oleh Kartini? Apakah pesta yang sering kita gelar itu menyenangkannya di alam kubur sana? Saya tidak dapat memberikan jawaban yang tepat sebab situasinya sudah begitu gamblang dituliskan pada paragraf pertama tulisan ini.

Read More »

Seperti Utang, Nikmat Harus Dibayar Tuntas

Tak seperti sebuah buku, pelajaran dari Tuhan bisa sekali tanpa sebuah kata pengantar. Langsung dipaparkan isi atau kontennya. Tak serunut segepok buku pelajaran, buku fiksi, maupun buku non-fiksi. Tak menampilkan sekapur sirih, pendahuluan, dan daftar isi, dll. Karena kuasa Tuhan di atas segalanya. Segala hal yang tampak bagi kita, mustahil sekalipun, bagi-Nya tak ada apa-apanya. Semua bisa terjadi dengan hanya Kun Fayakun.

Read More »

Di Luar Pusat: Seni Rupa Banyumas sebagai Praktik Bertahan

Berkarya di Banyumas sering berarti bekerja tanpa banyak sandaran dari ekosistem seni rupa yang mapan. Dalam beberapa diskusi hal seperti ini mungkin disebut sebagai “tantangan”. Tapi dalam praktik sehari-hari, ini lebih terasa seperti kondisi yang berjalan dengan keterbatasanya. Ya… memang begitu adanya.

Read More »

Marwah Seorang Penulis

Sebuah jurnal sastra yang dikelola Dewan Kesenian Jakarta yaitu tengara.id mencantumkan dalam panduan tulisan pada point ketentuan khusus menganjurkan penulis untuk menghindari penggunaan akal imitasi (AI) supaya orisinalitas tulisan terjaga sekaligus terhindar dari klise gaya bahasa dan plagiarism.

Read More »
Scroll to Top