Pendidikan yang Pelan: Menemukan Kembali Makna Belajar di Era Serba Cepat

Istilah “pelan” sering disalahpahami sebagai lamban atau tertinggal. Padahal dalam konteks pendidikan, pelan berarti selaras dengan tahap perkembangan. Pada fase usia dini hingga taman kanak-kanak, belajar bukanlah proses mengejar capaian akademik, melainkan pengalaman membangun rasa aman, rasa ingin tahu, dan kegembiraan menjelajah.

Read More »

Zakat: Membersihkan Diri Melalui Refleksi Sosial

Di hamparan semesta yang kian bising oleh deru ambisi, manusia seringkali terjebak dalam labirin kepemilikan yang semu. Kita berlomba menimbun materi, memagari diri dengan angka-angka di atas kertas, seolah kemapanan adalah benteng kokoh yang takkan pernah runtuh oleh waktu. Namun, di balik kemilau harta yang kita genggam erat, ada sebuah getaran halus yang kerap terabaikan—sebuah kerinduan jiwa akan makna yang lebih dalam dari sekadar konsumsi.

Read More »

Menjadi Minoritas di Tengah Tuli

Tulisan ini menjadi bagian apresiasi sekaligus perayaan atas rilisnya “Catatan Belle: Dunia Tuli dan Aku” karya Aulia Nabila Fal, teman Tuli pertamaku, yang lebih akrab aku sebut Mba Bel.

Read More »

Pemerintah Harus Sedikit Lebih Punk

Birokrasi modern di dalamnya terdapat kekuasaan yang dirasa sering kehilangan bentuk manusianya. Di atas kertas, pemerintahan dirancang untuk rasional, efisien, dan adil. Namun dalam praktiknya, rasionalitas itu kerap berubah menjadi kekakuan administratif, efisiensi menjadi perlambatan moral, dan keadilan menjadi prosedur yang tak bernyawa.

Read More »

Ganja Medis Bukan Hanya Soal Obat Melainkan Kebebasan dari Penderitaan yang Kita Abaikan

Ganja adalah salah satu tanaman tertua yang dikenal manusia. Jauh sebelum dunia modern mengenalnya sebagai simbol pemberontakan atau narkotika terlarang, ganja sudah digunakan selama ribuan tahun sebagai tanaman obat, bahan industri, dan bahkan bagian dari ritual keagamaan. Catatan sejarah menunjukkan bahwa ganja sudah digunakan di Tiongkok sejak 2.700 SM, di mana Kaisar Shen Nung menyebutnya sebagai tanaman obat yang mampu meredakan nyeri, peradangan, dan gangguan tidur.

Read More »

Ramadan Sebagai Katalisator dan Penggeser Paradigma

Ramadan sering kali hadir dalam kesadaran kolektif sebagai bulan “perlombaan”. Kita terbiasa terjebak dalam statistik: berapa kali khatam Al-Qur’an, berapa rakaat tarawih yang mampu diringkas dalam waktu singkat, hingga berapa banyak agenda sosial yang terpenuhi. Fenomena ini tanpa sadar menggeser esensi ramadan dari sebuah madrasah spiritual menjadi sekadar target kuantitatif.

Read More »

Siapa yang Menentukan Nilai Sebuah Karya?

Di banyak komunitas seniman (perupa) lokal, obrolan sehari-hari sering bermuara pada teknik membuat karya, pemilihan warna, komposisi, serta strategi agar karya bisa terjual dengan harga spektakuler. Mereka berbicara tentang nilai rupiah dengan intensitas yang sama seperti mereka membicarakan sapuan kuas atau konsep visual.

Read More »

Kematian dan Absennya Kekuasaan

Kematian dan kemiskinan dua hal yang mungkin mudah ditelusuri dan tersaji dalam angka. Menjadi biasa karena hal ini menjadi fenomena sosial dan diterima dengan tenang. Di Negara modern hari ini, data dan angka menjelaskan prevalensi kematian warganya. Ditampilkan dalam grafik dan angka. 

Read More »
Scroll to Top