Kehendak Kebangsaan Kita

Apabila menelaah proses dan keputusan MK, sebagai pembaca keputusan itu, dapat dipahami sebagai satu bentuk ketidakpercayaan dari MK terhadap DPR yang akan membuat keputusan terbaik terkait pemilu.

Read More »

(Hantu) Sapardi, Fiksi, Coffee at Home

Catatan ini adalah catatan bagi agenda “Prapen at Home: Prapen Puisi #3”,[1] yang dihelat oleh Coffee at Home, salah satu kafe literasi yang berbasis di Pabuwaran, Purwokerto Utara. “Prapen Puisi #3” berlangsung beberapa waktu lalu, di penghujung Juni, pada tanggal 30, pada Senin sore yang bernuansa kejingga-kejinggaan. Coffee at Home dihidupi oleh berbagai elemen pengunjung, tanpa ada pembedaan kelas, semua berhak masuk dan bergelayut dengan buku-buku di dalam sana. Di balik Coffee at Home ada Iik Hikmandari, sosok sahabat, yang juga kami anggap sebagai ibu yang setia mengemongi kami, membersamai

Read More »

Antasena, Ksatria Pemberani Tanpa Basa-Basi

Cerita Wayang Purwa Dunia Wayang Jawa Kuno (Wayang Purwa) yang beberapa tahun ini mulai muncul kembali setelah banyak kelompok usia muda mulai menggemari wayang kulit. Terutama yang bercorak zaman Wayang Purwa. Wayang Purwa diakhiri dengan kisah Baratayudha atau dalam dunia Wayang Jawa masuk dalam babak Rubuhan Duryudono. Cerita wayang kulit memang menarik. Dasar cerita yang menjadi acuan adalah kitab Mahabarata –Kitab sastra klasik dari India. Tokoh utama dalam naskah tersebut menceritakan “Trah Kuru” yang menguasi wilayah Astina (Hastinapura), yang melahirkan turunan dari pihak Destarastra yang disebut Kurawa (berisi 100 kerabat

Read More »

Paradoks Pembangunan Berkelanjutan

Kita sering disuguhi istilah “pembangunan berkelanjutan” di podium-podium megah, dalam dokumen kebijakan, bahkan dalam doa-doa para pemimpin negeri. Tapi benarkah arah pembangunan kita selama ini sungguh-sungguh berkelanjutan? Atau jangan-jangan, istilah itu hanya menjadi selimut harum untuk menutupi luka menganga akibat kerakusan sistem? Di balik jargon yang mulia, terdapat tangan-tangan kotor kapitalisme yang tak henti mencabik bumi. Mereka bicara soal “keberlanjutan”, tapi yang tumbuh subur justru proyek-proyek yang melanggengkan ketimpangan dan memperparah kerusakan lingkungan. Kapitalisme, dengan wataknya yang haus pertumbuhan, kerap tampil sebagai penumpang gelap dalam proyek pembangunan berkelanjutan. Mereka membangun

Read More »

Menggali Lubang Sendiri

Kerusakan yang kita saksikan hari ini bukan muncul dari ruang hampa. Ia hasil dari tumpukan keputusan politik dan ekonomi yang rakus.

Read More »

Lagu Pop Jawa Membawa Budaya Adiluhung ke Atas Panggung

Denny Caknan, Guyon Waton, Ndarboy Genk, NDX Aka, Happy Asmara, Afthersine, Ngatmobilung, Pendhoza dan masih banyak lagi. Itu adalah deretan nama-nama penyanyi solo dan groub musik Pop Jawa, yang bisa disebut bersinar di era pasca Didi Kempot. Mereka adalah musisi-musisi yang menembus batas-batas genre lagu. Sehingga gamelan bisa sepanggung dengan saksofon, ketipung bisa seirama dengan biola, dan aku hanya bisa melihatnya bahagia di sana, hallah. . . Sejak tahun 2019 lirik-lirik lagu Pop Jawa semakin adiluhung, tidak hanya berisikan kata-kata yang biasa terdengar. Tetap membawa kesusastraan Jawa yang penuh dengan

Read More »
Scroll to Top