
Yogya, Purwokerto, Literasi di “Buku Harian” Struktural (II)
Saya ingat, saya mulai merasa menikmati hari-hari selepas tahun pertama di Purwokerto, layaknya hari-hari lepas tahun pertama pula di Yogyakarta. Dari Praya, ke Yogyakarta, angin dan kereta rupanya makin menggiring saya ke arah barat. Orang menyebut tempat ini sebagai “Kota Satria”. Alasan pekerjaan, dan alasan rumah tangga, barangkali bakal menahan saya di tempat ini hingga hayat tamat—dan kalau-kalau diizinkan oleh Tuhan, kami akan berketurunan. Apakah saya sedang bertaruh? Entahlah. Bisa iya, bisa tidak. Atau mungkin seperti kata “Bung Kecil”, Sutan Sjahrir, bahwa hidup yang tidak dipertaruhkan, tidak akan pernah dimenangkan—meskipun









