Yogya, Purwokerto, Literasi di “Buku Harian” Struktural (II)

Saya ingat, saya mulai merasa menikmati hari-hari selepas tahun pertama di Purwokerto, layaknya hari-hari lepas tahun pertama pula di Yogyakarta. Dari Praya, ke Yogyakarta, angin dan kereta rupanya makin menggiring saya ke arah barat. Orang menyebut tempat ini sebagai “Kota Satria”. Alasan pekerjaan, dan alasan rumah tangga, barangkali bakal menahan saya di tempat ini hingga hayat tamat—dan kalau-kalau diizinkan oleh Tuhan, kami akan berketurunan. Apakah saya sedang bertaruh? Entahlah. Bisa iya, bisa tidak. Atau mungkin seperti kata “Bung Kecil”, Sutan Sjahrir, bahwa hidup yang tidak dipertaruhkan, tidak akan pernah dimenangkan—meskipun

Read More »

Mengapa Slow Journalism Menjadi Senjata Alternatif Melawan Disinformasi?

Di era informasi yang bergerak begitu cepat, kita dibanjiri oleh berita tanpa henti. Kadang informasi datang bahkan sebelum kita sempat berpikir jernih. Sementara itu, disinformasi menyebar bukan karena ia benar, tetapi karena ia cepat, emosional, dan mudah dibagikan. Dalam kondisi seperti ini, jurnalisme yang bertanggung jawab seolah tertinggal. Namun di tengah kegaduhan itulah “slow journalism” justru menemukan momentumnya. Bukan jurnalisme yang lamban, tetapi yang telaten, mendalam, dan penuh kesadaran. “Slow journalism” dalam Bahasa Indonesia dikenal juga sebagai “jurnalisme telaten”. Istilah ini merujuk pada pendekatan jurnalisme yang menekankan pada penelitian mendalam,

Read More »

Purwokerto Katanya Kota Healing, Tapi Wisatawan Turun di Stasiun Langsung Bingung?

Pernahkah kamu merasakan jadi tamu di Purwokerto? Bayangkan, kamu turun dari kereta di Stasiun Purwokerto dengan tas ransel di punggung, penuh semangat untuk liburan dan menjelajahi kota yang konon disebut sebagai kota healing. Tapi begitu melewati gerbang stasiun, langkahmu langsung terhenti. Pertanyaan pertama yang muncul di kepala, ini harus naik apa? Ojek? Angkot? Bus kota? Semuanya tidak jelas. Tidak ada papan petunjuk yang membantu, tidak ada petugas yang menyambut, dan tidak ada informasi transportasi yang mudah diakses. Masalah makin terasa kalau kamu ingin naik ojek online atau taksi online. Banyak

Read More »

Poster Nobar Timnas Out Of Touch

Sebuah postingan nonton bareng (nobar) pertandingan Indonesia vs Filipina pada 18 Juli 2025 di Alun-Alun Purwokerto tidak sengaja terlihat di Instagram. Postingan tersebut menampilkan para pemain timnas, informasi acara, serta sosok Bupati Banyumas, Drs. H. Sadewo Tri Lastiono, MM, lengkap dengan gaya khas mengajak semangat nasionalisme. Namun, tak berselang lama saat gulir kebawah, akun Instagram @pwt.undercover mengunggah postingan yang mengkritisi desain poster pak Sadewo sepertinya (ini hanya perkiraan saya ya). Begini isinya “Masa poster nobar timnas di tahun 2025 masih aja yang dihiasi foto para pejabat daerah. Inget, ini tahun

Read More »

Siapa yang Diuntungkan dari Transisi Energi?

Transisi energi kian mengemuka sebagai tema besar abad ini. Dibicarakan di forum-forum global dan lokal sebagai jawaban atas krisis iklim serta kelangkaan energi fosil. Di atas kertas, ia tampak menjanjikan: energi bersih, langit lebih biru, dan peluang ekonomi baru. Namun, di balik gemerlap potensi tersebut, bersembunyi problem yang tak kalah kompleks—soal siapa yang akan mendapatkan manfaat dan siapa yang akan kembali ditinggalkan. Ketika energi beralih dari batu bara ke matahari, dari minyak bumi ke angin, satu pertanyaan mendasar mencuat: adilkah semua ini? Transisi energi tidak sekadar soal inovasi teknologi atau

Read More »
Scroll to Top