
Menulis: Diriku dan Perihal Hasrat yang Datang Terlambat
Pertemuan pertamaku dengan dunia penulisan bermula ketika aku bertemu dengan seorang teman yang aktif sebagai pegiat literasi di Purwokerto.

Pertemuan pertamaku dengan dunia penulisan bermula ketika aku bertemu dengan seorang teman yang aktif sebagai pegiat literasi di Purwokerto.

Salah satu kesenian yang menjadi ciri khas warga Banyumas adalah Ebeg.

Ketika logat Banyumas muncul di platform digital tanpa rasa inferior

Wong Banyumas itu terbuka, egaliter, dan jujur. Tapi belakangan, ada satu fenomena yang bikin banyak orang mendadak ragu buat ngomong jujur yaitu soal LGBT yang katanya makin marak di Banyumas.

Salah satu warisan budaya yang sangat penting dari Daerah Banyumas, Jawa Tengah adalah tembang Gudril Banyumasan.

Ini adalah penghinaan atas penderitaan Marsinah. Khususnya karena tidak ada orang yang bertanggungjawab atas kematiannya.

Saya mungkin sedikit memahami, bagaimana Ahmad Junaidi, Ph.D. (@junaydfloyd) atau yang karib kami panggil Om Junet, memiliki komitmen sedemikian besar dan tulus pada dunia pendidikan. Sekian kali saya berbincang dengannya, selama itu pula saya selalu terkesima dengan pandangan-pandangan dan rancangannya untuk mendukung tumbuh kembang dan minat anak-anak pada pendidikan—spesifiknya belajar bahasa Inggris. Suara teriakan kegirangan anak-anak mengikuti metode belajarnya, pada Sabtu sore di halaman Madrasah Ibtidaiyah Al-Ma’arif Miftahul Qulub Desa Ungga—sekolah yang dipimpin Bapak saya—menandai berlangsungnya salah satu aktivitas rutinan Jage Kestare Foundation (JKF). Lembaga itu adalah dirian Om Junet,

Hasrat pada dasarnya adalah hasrat akan pengakuan dari Liyan, bukan keinginan akan objek material itu sendiri, sehingga secara bawaan, ia ditakdirkan untuk tidak pernah terpenuhi.

Di sudut-sudut kota Purwokerto, terutama di kawasan Pasar Wage, Jalan HR. Bunyamin, hingga area GOR Satria, pemandangan kios pakaian bekas kini bukan hal yang asing.

Mendoan bukan sekadar gorengan renyah yang menemani secangkir kopi sore di warung Banyumas. Ia adalah teks budaya yang menggambarkan relasi mendalam antara manusia, alam, dan bahasa.