
Paradoks Kemerdekaan & Kompas Moral Kebangsaan
Delapan puluh tahun kemerdekaan harus dimaknai bukan hanya sebagai momentum perayaan, melainkan kesempatan untuk bertanya ulang

Delapan puluh tahun kemerdekaan harus dimaknai bukan hanya sebagai momentum perayaan, melainkan kesempatan untuk bertanya ulang

Jauh sebelum peradaban mengenal istilah “ekologi” atau “sustainability”, khazanah fikih islam telah memuat prinsip-prinsip yang selaras dengan nilai konservasi, baik untuk tanah, air, maupun seluruh makhluk hidup.

sekolah kita tidak hanya akan mengajar ilmu, tetapi juga mencontohkan akhlak — menjadi rumah pendidikan yang benar-benar ramah dan santun.

Dalam konteks ini, merusak lingkungan bukan hanya tindakan ceroboh, tapi juga bentuk perusakan terhadap wahyu tak tertulis yang ditaburkan Allah di seantero jagat.

Dalam pandangan Islam, bumi bukan sekadar ruang hidup, melainkan amanah yang mesti dijaga dengan kesadaran sebagai khalifah Allah di muka bumi. Alam semesta adalah ayat-ayat kauniyah yang tak henti mengingatkan manusia akan kebesaran Sang Pencipta. Maka, menjaga lingkungan hidup sejatinya bukan hanya kerja teknis, tetapi bagian dari ibadah dan wujud konkret dari ketaatan. Islam mengajarkan bahwa alam diciptakan bukan semata untuk dieksploitasi, melainkan sebagai ladang amal dan ruang refleksi keimanan. Alam adalah panggung tempat manusia mengabdi, mengelola, dan memakmurkan bumi dengan tanggung jawab yang besar. Allah mengingatkan bahwa alam bukan

Ketika cerita hidayah jadi bahan mencari rupiah

Makanan yang Allah ciptakan adalah amanah, bukan hanya anugerah.

Transisi energi kian mengemuka sebagai tema besar abad ini. Dibicarakan di forum-forum global dan lokal sebagai jawaban atas krisis iklim serta kelangkaan energi fosil. Di atas kertas, ia tampak menjanjikan: energi bersih, langit lebih biru, dan peluang ekonomi baru. Namun, di balik gemerlap potensi tersebut, bersembunyi problem yang tak kalah kompleks—soal siapa yang akan mendapatkan manfaat dan siapa yang akan kembali ditinggalkan. Ketika energi beralih dari batu bara ke matahari, dari minyak bumi ke angin, satu pertanyaan mendasar mencuat: adilkah semua ini? Transisi energi tidak sekadar soal inovasi teknologi atau

mengendapkan ulang gagasan yang sering kali kita terima secara taken for granted: “bahwa manusia itu pusat dari segalanya (antroposentrisme), dan lingkungan adalah pelengkap pasif semata” yang berimplikasi pada nafsu mengeksploitasi alam berujung mewariskan kerusakan alam.

ihsan adalah cara kita mengetuk pintu langit agar bumi tetap rela menampung jejak kaki kita