
Palestine: The Twin Crimes of Genocide and Ecocide
Three words, when interwoven, become a haunting reflection of civilization’s wounds: Palestine, genocide, and ecocide.

Three words, when interwoven, become a haunting reflection of civilization’s wounds: Palestine, genocide, and ecocide.

When President Prabowo Subianto delivered his speech at the United Nations General Assembly, his words sought to rekindle hope. He spoke of justice for Palestine and, echoing decades of diplomatic ritual, mentioned the Two-State Solution.

Ada tiga kata yang jika dirangkai menjadi cermin luka peradaban: Palestina, genosida, dan ekosida. Ketiganya bukan sekadar istilah akademik atau jargon politik, melainkan realitas pahit yang hidup dan menjerit di hadapan kita hari ini. Palestina adalah tanah yang dihuni sejarah panjang, disinari wahyu, dan dipenuhi doa umat beriman. Namun, ia juga menjadi panggung penderitaan yang tak kunjung usai. Di sanalah genosida menemukan wajah telanjangnya, dan ekosida mengiringinya sebagai pembunuhan senyap terhadap bumi dan segala yang hidup di dalamnya. Simbol Perlawanan dan Luka Kolonialisme Sejak awal abad ke-20, Palestina bukan hanya

Di antara jutaan spesies, lebah menonjol bukan hanya karena peran biologisnya, tetapi karena ia menjadi perumpamaan sempurna dari sebuah refleksi ekologi hewani yang mencerminkan prinsip-prinsip dasar l kosmik (keteraturan).

Ketika alam dirusak, kerusakan bukan hanya soal pemandangan atau habitat; ia memutus mata pencaharian, ritual, kesehatan, dan bahkan tatanan kultural.

Islam sejak awal hadir bukan sekadar sebagai agama, melainkan sebagai pandangan-alam. Sebuah visi menyeluruh tentang realitas—yang tampak maupun yang tak kasat mata, yang fana maupun abadi.

At a time when forests are relentlessly cleared for palm oil plantations, Indigenous peoples’ lands are seized for mining, and rivers are poisoned by toxic waste, advocacy becomes the voice that keeps our living spaces alive. The question, then, is this: if not us, who will save our living space?

Alam semesta, sejak awal peradaban manusia, senantiasa dipandang bukan sekadar ruang kosong yang dipenuhi benda-benda mati. Dalam bahasa Yunani ia disebut kosmos, yang berarti harmoni dan keteraturan; sementara dalam bahasa Arab disebut ‘alam, satu akar dengan kata ‘ilm (pengetahuan) dan ‘alāmah (tanda). Dari sini kita segera melihat, betapa jagat raya bukanlah kebetulan, melainkan tanda-tanda yang menunjuk pada keberadaan Sang Pencipta.

Dalam perspektif akhlak, menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab moral manusia sebagai makhluk ciptaan Allah. Oleh karena itu, membicarakan perlindungan dan pengelolaan lingkungan berarti juga membicarakan tanggung jawab etis manusia dalam mengelola anugerah Tuhan yang amat besar. Dari sinilah muncul sejumlah asas akhlak lingkungan yang menjadi panduan praktis sekaligus moral dalam menjaga keseimbangan kehidupan di bumi.

Delapan puluh tahun Indonesia merdeka bukanlah angka yang kecil. Ia adalah tonggak perjalanan panjang bangsa yang ditempa sejarah, dibentuk oleh dinamika peradaban, dan diuji oleh berbagai tantangan yang multidimensi. Seiring bertambahnya usia, Indonesia dihadapkan pada pertanyaan besar: ke mana arah bangsa ini akan bergerak?