
Sebuah jurnal sastra yang dikelola Dewan Kesenian Jakarta yaitu tengara.id mencantumkan dalam panduan tulisan pada point ketentuan khusus menganjurkan penulis untuk menghindari penggunaan akal imitasi (AI) supaya orisinalitas tulisan terjaga sekaligus terhindar dari klise gaya bahasa dan plagiarism. Ini sebuah hal menarik di tengah masifnya penggunaan akal imitasi untuk penggunaan berbasis teks, Dewan Kesenian Jakarta memilih untuk selektif pada perkembangan jaman.
Bahkan di belahan dunia yang lain amsterdamnews.com akan menolak dan memblock bagi penulis yang mengirimkan tulisan hasil generate AI kepada mereka, entah apa maksudnya tapi mari kita bicarakan pelan-pelan karena setiap media seperti tengara.id maupun amsterdamnews.com bebas menentukan kebijakan internal.
Namun, saya hanya ingin menyampaikan keberatan bila seorang yang mengaku sebagai penulis menghasilkan tulisan dari generate AI, lebih cocok bila anda disebut sebagai tukang prompt AI. Bahkan di masa sebelum AI, ada lelucon bagi penulis yang menerbitkan tulisannya secara mandiri, apakah mereka itu disebut penulis atau klien penerbit buku.
Seberapa anda menghargai sebutan penulis? Setiap kata yang diperas untuk membuat kalimat menemukan alurnya hingga menjadi susunan paragraf yang nyaman dibaca sekaligus menyampaikan maksud. Jika anda merasa sulit dengan itu dan melemparkannya ke AI, maka selayaknya anda jangan menyebut diri anda sebagai penulis.
Jika anda dulunya seorang penulis yang benar-benar hasil olah akal dan olah kata anda sendiri sebelum maraknya AI, dan sekarang memilih menggunakan AI untuk efektifitas dan produktifitas. Sudahkah merasa dihantam kebodohan dan kemalasan?.
Dalam konteks “penulis” saya rasa harus ketat menjaga marwah ini, karena yang lebih dulu dihajar dengan teknologi AI adalah penulis, maka akan menjadi sebuah teladan untuk illustrator ataupun musisi yang mulai digantikan oleh AI untuk benar-benar mempertahankan marwahnya.Anda boleh berdebat dengan mengutip kata-kata mas wapres Indonesia jika AI adalah alat pendukung, bukan ancaman, dan manusia yang menguasai AI akan mengungguli yang tidak. Terasa benar kata-kata ini, namun kebenaran dan fakta adalah dua hal yang benar-benar berbeda.
Penulis dan penggerak literasi dari Banyumas. Ia aktif menginisiasi forum baca dan diskusi sastra. Karya-karyanya mencerminkan kepedulian sosial dan lingkungan. Melalui puisi dan esai, ia menjadikan literasi sebagai ruang perjumpaan, pembebasan, dan pemberdayaan masyarakat secara inklusif.




