
Sudah sejauh mana mimpimu dituntun oleh langkah yang tak selalu yakin? Sesering apa kamu menyeka keringat dan air mata yang bercucuran di pipi dan dagumu? Banyak dari kita rela beranjak jauh dari rumah untuk mengejar mimpi yang selalu kita puja-puja. Kadang tujuanya ialah ibu kota yang diriwayatkan memiliki banyak pekerjaan. Tak sedikit juga yang keluar negeri untuk menjemput rizki yang lebih baik.
Bukanlah hal yang mudah dalam mengejar mimpi-mimpi kita. Sebab pada hakikatnya mimpi adalah sebuah proses panjang yang hanya bisa dilihat dan dirasakan oleh diri kita sendiri. Perjalanan tersebut kadang terhalang oleh ruang lingkup yang kurang mewadahi, keterbatasan akses untuk berdinamika, dan tentunya ekonomi yang tak seberapa.
Hal-hal tersebut benar-benar menguji keteguhan hati dan keyakinan melangkah. Namun, jika diambil hikmahnya perantauan mampu menjadi ladang pembentukan diri, perawatan harapan, dan doa yang mengendap tentang mimpi indahnya masa depan. Band bernama Perunggu dengan sukses membawakan tema ini. Grup musik yang dikenal dengan julukan “Pulang kantor” ini mampu memberikan pendekatan lebih sensual dan senasib pada para pendengarnya. Alasannya sangat sederhana, mereka mendefinisikan musik sebagai hobi-dijalani setelah lelahnya bekerja seharian. Sebelumnya mereka hanya menerima jadwal manggung di akhir pekan. Dari kegigihan itu, mereka mendapatkan titik balik lewat album Memorandum (2022), dan sekarang mereka telah resmiresign dari pekerjaan mereka sebelumnya. Salah satu lagu yang paling diminati adalah “Ini Abadi”, sebuah lagu yang menceritakan terkait beratnya tanggungan masa depan.
Musikalitas Ringan, Berat dalam Rindu
Lagu ini memiliki durasi 3.52 menit. Balutan musik yang sederhana mampu menghadirkan nuansa sepinya sebuah kamar kost setelah pulang kerja seharian. Denting piano yang begitu halus mampu membawa kita merasakan setiap inci kasih sayang orang-orang rumah. Hal yang menarik pada lagu ini ialah liriknya. Lirik yang terdengar bijak dan sopan, mampu membubuhkan semangat meskipun dengan vokal yang agak sendu. Vokal Maul Ibrahim terasa hangat dan jujur dari awal hingga akhir lagu, Karena ia mampu mengkonsistensi vokalnya dan nada dari tuts piano Adam Adenan.
Gema Janji, Lidah yang Kelu, dan Jaket itu
Lirik dari lagu ini adalah sebuah cerita dan derita yang dialami oleh para personel Perunggu. Mereka menyajikan betapa beratnya meninggalkan rumah dan peluk hangat seorang ibu, pada bait pertamanya. Percakapan terakhir yang biasanya berisi tentang janji kepulangan pada tanggal tertentu, menjadi sebuah kata “iya” yang kelu tuk diucapkan menjadi pembuka pada lagu ini.
Dihentak sunyi geram gusarmu
Mulai gerayangi kupingku
Dibungkam lagi
Janji yang sumbang itu
Tak semenarik dulu
Sejuk wangimu
Tersisa di sela-sela baju hangatku
Saya juga kerap merasakan sakit, pada saat mengingat janji kepada ibu untuk menjalani kuliah dengan sungguh-sungguh. Janji tersebut menjadi seruan dihati yang entah bisa saya tunaikan atau tidak, karena pada dasarnya saya tak yakin dengan proses yang sedang saya jalani.
Bahkan pada beberapa waktu, saya kerap tak tertarik dengan cita-cita dan mimpi saya. Dari hal tersebut menjadikan saya berdoa dengan cara yang sederhana “Ya Allah jadi apa aja deh, yang penting halal.” Tak lagi memikirkan angan dan harapan ketika masih di taman kanak-kanak.
Namun, saya bisa mengantisipasi dengan kembali memegang jaket atau outer yang berisi dekapan hangat ibu saya. Pada bagian bahu kanan, saya masih ingat tentang perintah ibu agar menjadi orang hebat kelak. Di sebelah kiri berisi kalimat agar senantiasa menghubungi beliau,ketika senggang.
Perasaan tersebut mungkin tak hanya dirasakan oleh saya; bisa saja teman-teman lebih berat daripada saya. Entah kapan kita bisa menunaikan janji itu, tapi yakinlah proses akan selalu berbuah hasil.
Pelukan Kota Kelahiran
Pada bagian pre chorus Perunggu membuka dengan imajinasi yang jarang dipakai pada lagu lain. Bagian ini adalah tentang bagaimana sebuah kota kelahiran kita akan selalu menjadi rumah dan ruang untuk pulang. Kehangatan keluarga yang kadang dirindukan hadir dengan tegas ketika lirik awal diserukan. Saya bukanlah perantau yang jauh karena sebenarnya jarak rumah ke kampus tak lebih dari 30 kilometer.
Lihatlah semua sudut itu
Bandung kan selalu memelukmu
Dinginnya hangatkanmu selalu
Dilengkapi lapisan selimut
Jarak yang dekat itulah yang terkadang menjadi kegelisahan saya setiap hari. Pada jarak sedekat ini saya bertanya-tanya mengapa saya tak bisa merasakan masakan ibu setiap hari. Namun begitu, rindu tersebut saya tepis dengan pulang setiap akhir pekan, cara sederhana untuk kembali utuh.
Namun, pada malam yang dingin dan penuh kehampaan. Saya hanya mampu menutupi kerinduan dan kesepian saya dengan selimut bergambar Mickey Mouse yang selalu menemani saya. Di sela-sela kehangatan selimut, saya masih menggenggam mimpi saya untuk hidup lebih baik dari sekarang.
Endapan Doa dan Harapan
Tergambar dengan jelas juga kenapa lagu ini menjadi rapalan doa dan harapan oleh para perantau. Sebab pada bagian chorus-nya membawakan semua ungkapan tentang harapan seorang anak yang rela jauh dengan orang tuannya. Banyak dari mereka meneguk mimpi yang menjadi bahan bakar semangat mereka.
Bermuarakan kabar baru
Tentang mimpi berkecukupan
Tanpa harus lembur lagi
Kegambir lagi
Setiap kali saya mendengar kata lembur, saya merasakan ada dua hal yang berbeda. Pertama, lembur bisa dikatakan sebagai rezeki, karena terkadang ada saja bonus setelahnya. Tapi, pada arti lainnya lembur bisa menjadi waktu kerja tambahan diluar jam kerja. Waktu tambahan tersebut terkadang selesai hingga larut malam. Ketika kita sudah sampai di rumah, kita tidak tertarik berkegiatan selain istirahat.
Lelah inilah yang menjadi alasan utama untuk menolak interaksi dengan ibu, ayah, ataupun pasangan. Bahkan ketika rasa tersebut sudah meluap, kita lebih rentan untuk marah dan mengumpat sejadi-jadinya. Setelah mengumpat kita kembali terpikir bahwa itu salah, dan kita pun berharap tak merasa lelah lagi karena lembur pada malam hari. Tentunya ditambah harapan bisa mendapatkan bonus tanpa harus lembur lagi.
Nampaknya, kita tak pernah tahu kapan doa dan harapan kita terwujud. Saya rasa masih memerlukan beribu kali cobaan, ujian, dan tantangan untuk mencapainya. Jatuh bangun yang sekarang kita rasakan mungkin baru kalimat salam dari proses yang panjang.
Percayalah itu semua akan terus berputar di kehidupan kita. Saat berada diatas nikmatilah tanpa harus menginjak yang dibawah. Ketika sedang di bawah janganlah menghilangkan marwah dalam dirimu. Pegang apa yang membawa kita hingga titik ini, dan berterima kasihlah kepada mereka yang selalu di samping kita.
Jika pada akhirnya bukan hidup berkecukupan yang saya raih. Setidaknya saya masih bisa menikmati ilmu dari setiap proses dan pelajaran yang saya jalani. Satu hal yang akan saya genggam ialah kemampuan bermimpi, karena mimpi tak akan pernah mati. Sebab semua mimpi ini akan abadi.
Akhmad Mufti Azkiya berasal dari Purbalingga. Ia menempuh pendidikan di SMA N 1 Bobotsari (2022–2025) dan kini melanjutkan studinya di UIN Prof. K. H. Saifuddin Zuhri Purwokerto pada program Tadris Bahasa Inggris. Ia pernah merai Juara 1 Duta Genre Putra Purbalingga 2024 dan Genzu Terbaik 2025 serta Generasi Tarbiyah Terbaik PBAK FTIK 2025.




