
Supaya lebih tandas membacanya, bacalah terlebih dulu:
Rintik Hujan di atas Buku Harian (Bagian 1)
Rintik Hujan di atas Buku Harian (Bagian 2)
Rintik Hujan di atas Buku Harian (Bagian 3)
Balada Penunggu Purnama
Ia tak pernah tahu
mengapa tiap malam ketujuh belas
ia duduk di bawah pohon randu
seperti bayangan tua
yang menari di punggung bulan
yang tak kunjung penuh.
Tangannya menggenggam
selendang tua milik ibunya
aromanya menyimpan
doa-doa yang patah
di depan pintu rumah sakit
di mana nyawa tinggal setipis kabut pagi.
Sejak itu, purnama
adalah janji langit yang tak ditepati,
adalah pintu
yang diketuk angin tapi tak pernah dibuka.
Ia menunggu.
Seperti orang-orang yang percaya
pada bunga yang tumbuh
di tanah berbatu,
pada cinta yang kembali
meski mengenakan wajah orang asing.
Orang-orang kampung menyebutnya gila.
Namun ia tahu:
ia sedang menjaga bara
yang tak boleh padam
meski malam meludah hujan
dan bulan berpaling
tanpa sehelai salam.
Dan pada malam ketujuh puluh
saat pohon randu mulai menggugurkan
daunnya satu per satu
seperti puisi kehilangan kata,
ia bersujud.
Bukan untuk meminta bulan,
melainkan untuk mengembalikan rindu
kepada Tuhan
yang pertama kali menitipkannya
dalam sebait sunyi
yang tak pernah habis disuarakan waktu.
2023, 2025
***
Jendela yang Tak Jadi Dibuka
Pagi datang
dengan bau tanah basah,
suara burung
yang lupa menyebut namamu
di sela-sela embun
yang tak sempat menyapa kaca.
Aku berdiri,
tak beranjak,
di depan jendela
yang tak jadi kubuka.
Bukan, bukan karena angin
terlalu kencang
atau kabut yang menggigilkan bayang
tapi karena ada engkau,
ada engkau
yang masih berdiri
di sisi dalam kaca,
tanpa kata.
Bunga-bunga kecil
tumbuh diam
di luar sana.
Seseorang menyapu halaman
dengan langkah pelan
seolah takut membangunkan
jejakmu
di jalan kenangan.
Aku ingin melambaikan tangan
tapi kepada siapa?
Tak ada siapa-siapa
selain rinduku sendiri
yang menyelinap
ke dalam lipatan tirai.
Jendela ini,
seperti lagu
yang tak selesai kutulis.
Nada-nadanya
jatuh satu-satu
ke dalam gelas kosong
di meja tua.
Maka biarlah tirai
terus bergoyang,
seperti hatiku
yang menyimpan salam
yang tak pernah sampai
pada angin.
2023, 2025
***
Rintik Hujan di atas Buku Harian
Hujan jatuh
pelan
di atas buku harian
seperti suara yang lupa
jalan pulang.
Setiap rintik
menyusup ke sela-sela huruf
membasuh tinta luka
yang sudah lama diam
di antara halaman
yang menguning oleh waktu.
Aku tak tahu
buku ini milikku,
atau milik kenangan
yang tak pernah rampung
menulis nama.
Kata-kata
yang dulu mekar
kini mengatup
menjadi kabut,
dan hujan menari
di atasnya
seperti tangan yang lembut
menghapus airmata.
Aku duduk,
diam
seperti kursi tua
di depan jendela,
mendengar angin
membaca kembali
yang tak sempat kita pahami.
Rintik hujan
adalah pengakuan
tanpa suara.
Ia tak memberi jawab,
hanya isyarat
tentang siapa kita
setelah kehilangan
tak lagi kita tangisi.
Buku harian itu
menutup pelan
seperti hati
yang sudah tahu
bahwa tak semua yang kita tulis
harus tetap tinggal.
Namun hujan,
tetap jatuh,
menyebut namamu
tanpa suara
di luar kaca
yang tak pernah benar-benar
bersih
dari rindu.
2023, 2025
***
Sajak untuk
yang Tak Berani Kembali
Kau berdiri
di simpang sunyi,
tempat angin
tak lagi menyebut namamu.
Langkahmu
menggigil
seperti ragu
yang lupa
cara pulang.
Batu-batu kenangan
menyimpan bekas jejakmu.
Tapi kau biarkan waktu
menumbuhkan lumut
di antara luka
dan harap.
Apakah kau takut
pada pintu
yang kau tutup sendiri,
atau pada suara doa
yang memanggilmu
dari balik tirai
yang tak kau buka?
Kami tak mengunci rumah.
Kami hanya menata harapan
di serambi waktu.
Tapi kau memilih
menjadi asing
di tanah
tempat namamu
pernah tumbuh.
Kini
di sudut doa yang redup
aku menyalakan pelita kecil:
bukan untuk mencari,
tapi agar kau tahu
ada cahaya
yang bersedia menunggumu.
Tanpa syarat.
Tanpa kata.
Tanpa perlu kau jelaskan
apa yang hilang
di jalan pulang.
Dan jika kau kembali
bukan sebagai yang dulu
aku akan menyambutmu
sebagai sajak
yang akhirnya
pulang
ke bait
pertamanya.
2023, 2025
***
Balada Hati yang Memilih Diam
Hati itu
pernah menjadi langit bagi namamu,
sebelum senyap
datang perlahan
menyisir cahaya dari kata-kata
yang pernah dilafalkan.
Kini ia duduk
di dalam dada
seperti musafir
yang lupa arah,
hanya bersandar
pada detak waktu
dan desah doa
yang tak jadi terucap.
Ia memilih diam
bukan karena tak sanggup berkata,
tapi karena kata-kata
telah gugur
seperti dedaunan
yang tak sempat
menuliskan musim
pada tanah
yang kehilangan suburnya.
Bukan karena tak rindu,
rindu telah menjelma embun
di pagi hari
yang tak kau tengok
dari jendela
yang selalu tertutup.
Diam adalah caranya
mengucapkan cinta,
yang tak perlu nama,
tak perlu balasan
hanya gema sunyi
yang berjalan
dalam dada.
Dan bila suatu malam,
kau dengar angin
merintih pelan
di celah-celah mimpi,
itulah hatinya
yang masih berjalan
tanpa suara,
mencarimu.
2023, 2025
***
Abdul Wachid B.S. penyair yang lahir 7 Oktober 1966 di Lamongan Jawa Timur. Ia mendapatkan penghargaan tertinggi Majelis Sastrawan Asia Tenggara (Mastera) pada 7 Oktober 2021 untuk buku esainya, Sastra Pencerahan (Penerbit Basabasi, 2020). Selain sastrawan, ia menjadi Guru Besar Bidang Ilmu Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto.




