
Jatuh dan Cinta
Ah, ternyata benar kata orang
Aku sedang jatuh cinta
Tapi kenapa benar sakit adanya?
Bukan berbunga bunga rasanya
Tapi benar-benar jatuh
Pada rindu yang tak bertuan
Pada harap yang tak berujung
Pada jarak yang kejam
Pada sakit yang berkepanajangan
Adalah jatuh cinta bukan?
Jatuh!
Cinta yang melelahkan.
***
Musim Derita
Berlembar lembar kertas telah terisi
Bertintakan darah rindu dan pilu
Dengan tetesan air mata bercampur lara
jari yang kaku keram tanpa rasa
Sudah berhari hari berminggu minggu
Bahkan berbulan bulan
Duka tak kunjung reda
Luka pun tak pernah kering
Ternyata hujan derita masih menjadi penguasa musim
Katakan kekasih,
Harus bagaimana agar aku tetap bisa hidup?
Jika hadirmu saja terus mengundang awan untuk meneteskan rindu
Jika bayangmu saja terus menjadi gelap gulita hampaku
Jika langkahmu saja menjadi sebab longsornya tanahku,
Bagaimana aku bisa tetap berdiri sedangkan panah lukamu terus menerjam dadaku?
***
Perempuan Malang
Aku lebih suka hening dibanding sedikit saja suara yang beraroma kenangan
Aku lebih suka gelap kelam dibanding terang benerang kenyataan
Apakah aku, memang ditakdirkan menjadi perempuan malang mengasihi kekasihnya sendiri?
Tak ada bela balasan bahkan sapa
Rinduku seperti buih tiri yang tak diinginkan
Rasaku seperti angin ricuh yang tak dihiraukan
Menelusuri kehampaan
membelah kedukaan
yang terbentang di setapak jalan penyesalan
tolong aku, Tuan
selamatkan aku dari tajamnya luka
biarlah mekarku tak sempurna,
asal Kauberi aku kesempatan tetap hidup
biarlah aku jadi kembang layu tanpa rupa,
sampai tangkaiku menjulang tinggi menjadi metamorfosa
***
Makhluk Paling Payah Sejagat Raya
Apakah aku seburuk itu di matamu?
Tak pernah ada kata yang memberikan hati menuju pada lega
Apakah aku seburuk itu di hadapanmu,
mengasihi dengan topeng saling menyerang
Beradu lidah pada sindiran yang terus diutarakan
Sampai hati kita terbentur dengan duri kesakitan
Aku biarkan diriku terjun bebas meraungi segala fakta dan realita
Melumpuhkan kelogikaan pada ujung batas kewajaran
Mengorbankan apapun yang ada di depan mata
Hanya demi menyusul rinduku yang tak pernah disapa
aku biarkan kembali terperosok dalam kelam kedukaan
hanya untuk melihatmu tertawa dan bercerita seperti kemarin kala
aku biarkan telingaku tuli, mendengar sosok wanita yang sedang kau dekati
aku biarkan mataku buta, melihat tubuhmu bersanding dengannya
seberat inikah asa yang harus kutahan?
Mulutku terus berbicara seolah kamu tak berarti apa-apa
Sedangkan hatiku terus tertusuk oleh lidah pedangku sendiri
Otaku tak berhenti menertawakan
Melecehkanku, seakan aku adalah makhluk paling payah sejagat raya
***
Puisi-puisi Manis ini Untukmu
Kamu lihat puisiku? olahan rasa yang manis, sengaja kubuat agar kamu dapat menikmatinya tanpa mengerutkan dahi atau menyakiti lambungmu
Jikalapun kamu membaca sajak yang terasa begitu menyiksa, itu bukanlah tentang dirimu.
Atau kamu mendapati tulisan yang menyedihkan, juga bukanlah untukmu
Sebagaimana kita sudah tak lagi di pekarangan yang sama, badai yang kita lewati juga pasti berbeda
Anggap saja, jiwaku yang tak lagi sama ini, dampak dari pukulan dan ujian yang kuterima
Jadi jangan menerka-nerka tanpa menanyaiku, jangan pula meyakini apapun atas tuilsan yang terasa sarkas
Aku hanya ingin memberitahumu, bahwa puisi-puisi yang banyak rasa ini, adalah wujud dari pembelajaran yang telah kuterima selama kita tak lagi di halaman yang sama
Bahwa dalam puisi-puisi dukaku, ada serpihan penggalan yang kubuat khusus untukmu,
Tanpa kucampurkan dengan kenangan gelap, karena memang sangat khas dan tulus rasanya,
Saat kamu melihat bait-bait yang membuatmu tersenyum, maka kuanggap rindu dan tulusku telah tersampaikan,
Jadi, tersenyumlah
***
Rindu Menginap di Ruang Sebelah
Aku kira hanya sehari saja rindu mampir ke rumah
Sepertinya ia menginap di ruang sebelah
Ia pasti tidak tahu, bahwa setiap pagi ruang itu selalu kubuka meski tak berpenghuni
Pantas saja ia betah, karena sudah kubersihkan rasa sesal dan masa masa yang berserak
Sudah kurapikan dengan baik kenangan yang seharusnya menjadi pelajaran, kupindahkan dengan keberanian untuk berdamai dengan keadaan
Aku juga menambahkan vas bunga dahlia, sebagai dalih agar kudapat mengunjungi ruang sepi itu
Dan lihat, ia semakin mekar saat dikunjungi olehnya
Mustahil sekali jika kupaksa untuk menetap bersama pemiliknya
Pasti ia akan pergi, dan mungkin tak lama lagi.
Kali ini, kuberikan ia minuman berisi puisi yang memabukkan, setidaknya ia tahu bagaimana rasanya melayang dan jatuh bersamaan dengan kehilangan
Saat ia hendak pamit, akan kuberikan bingkisan untuk dibawa pulang.
Semoga, rinduku tak lagi terbuang.
***
Miftahul Khoeriyah adalah seorang pengajar yang berdomisili di Riau dan memiliki minat besar pada proses belajar di berbagai bidang. Ia aktif menulis dan telah mempublikasikan beberapa artikel di Geotimes sebagai bagian dari kontribusinya dalam dunia literasi. Miftahul dapat dihubungi melalui Instagramnya @miftakaha.




