Dari Draf ke Buku: Perjalanan GUIWU Menerima Ahmad Tohari Awards 2025 di BIL Fest

Aku masih ingat betul malam itu, selepas nenek mempersiapkan bahan masakan untuk perayaan Cheng Beng 2006, aku kembali ke kamar dengan sebotol air mineral dingin. Aku sedikit terdiam menatap layar komputer Pentium 2 yang nyaris membuat mataku pedih, dan satu kalimat yang terus berputar di kepala:

“Kalau masa lalu bisa berbicara, apa yang akan ia katakan padamu?”

Kalimat itu kemudian menjadi benih yang tumbuh menjadi GUIWU, sebuah novel yang lahir bukan dari rencana besar, melainkan dari kegelisahan kecil yang tidak pernah mau pergi, bahkan setelah 18 tahun berlalu.

Awalnya, aku hanya ingin menulis cerita pendek tentang seorang gadis yang mengalami pengalaman aneh di rumah leluhur. Tapi setiap kali aku menulis, karakter “Rhea” tumbuh dengan sendirinya. Ia seolah mulai berbicara dalam kepalaku, menuntut ruang lebih besar, meminta aku untuk menuliskan kisahnya dengan jujur. Dari satu halaman menjadi dua, lalu sepuluh, hingga tanpa kusadari aku sudah menulis ratusan halaman yang terjalin antara misteri, rasa takut, dan warisan yang tidak terlihat.

Dari Catatan Berantakan ke Dunia yang Hidup

Proses penulisan GUIWU bukan hal yang mudah. Kadang aku menulis sambil menahan napas, karena atmosfer ceritanya sendiri sering membuatku merinding. Ada kalanya aku harus berhenti menulis karena merasa “diamati”, entah oleh imajinasi sendiri atau sesuatu yang lebih dalam dari itu.

Riset pun menjadi bagian yang tak terpisahkan. Aku banyak membaca tentang kepercayaan masyarakat Tionghoa-Peranakan, terutama tradisi di Banyumas dan kehidupan di sekitar kelenteng tua. Aku juga mengunjungi beberapa tempat, termasuk klenteng dan bong yang menjadi inspirasi lokasi utama dalam novel. Aroma dupa, suara lonceng, cahaya lilin, dan bangunan-bangunan makam yang benar-benar membentuk atmosfer yang kemudian hadir di setiap bab GUIWU.

Namun di balik itu semua, aku belajar bahwa menulis cerita misteri bukan hanya tentang menakut-nakuti pembaca. GUIWU adalah tentang manusia, tentang rasa bersalah, tentang keluarga, dan tentang masa lalu yang tak pernah benar-benar mati.

Dari Draf ke Naskah Siap Terbit

Begitu draf pertama selesai, aku pikir tugas beratku sudah berakhir. Ternyata tidak. Justru di situlah perjuangan sebenarnya dimulai. Aku menulis ulang beberapa bab, memangkas adegan yang terasa berlebihan, dan memperdalam beberapa karakter yang tadinya hanya sekadar pelengkap.

Proses penyuntingan GUIWU bisa dibilang panjang, mulai dari masuk kuliah S1, bekerja, sempat terlupakan, kuliah S2, sempat terlupakan lagi, menikah, memiliki anak, dan akhirnya kembali menyunting GUIWU. Semua itu terlewat dalam waktu 19 tahun, melelahkan, tapi juga menjadi bagian paling berharga. Aku belajar melihat karyaku bukan hanya dari kacamata penulis, tapi juga pembaca. Ada beberapa bagian yang harus “dikorbankan” demi keutuhan cerita, dan di situ aku belajar untuk tidak terlalu mencintai kata-kataku sendiri.

Setelah mengalami penolakan penerbit major berkali-kali, akhirnya aku menemukan momen Banyumas International Literacy Festival. Saat aku melihat kembali naskahku rampung dan cukup matang, aku memberanikan diri mengirimkannya untuk seleksi Ahmad Tohari Awards 2025 yang diadakan oleh BIL Fest. Saat itu aku tidak terlalu berharap banyak, bahkan aku mengirim 2 naskah, satu naskah baru dan satunya adalah GUIWU. 

Ternyata dalam hati kecilku aku masih percaya dan berharap GUIWU bisadibaca oleh lebih banyak orang. Dan siapa sangka, beberapa bulan kemudian sebuah email datang, membawa kabar yang membuatku terdiam cukup lama:

“Selamat, novel GUIWU terpilih sebagai salah satu penerima penghargaan Ahmad Tohari Awards 2025.”

Antara Syukur dan Tak Percaya

Ada rasa haru yang sulit dijelaskan. Bukan hanya karena penghargaan itu sendiri, tapi karena perjalanan panjang yang akhirnya menemukan maknanya. Aku teringat malam-malam di mana aku nyaris menyerah, ketika setiap kata terasa berat, ketika aku ragu apakah kisah ini layak dibaca.

Menerima penghargaan itu di bawah nama Ahmad Tohari, seorang sastrawan besar yang karya-karyanya begitu membumi, tentu saja membuatku merasa kecil sekaligus berterima kasih. GUIWU mungkin bukan kisah epik yang besar, tapi di dalamnya ada jujur yang sederhana, keinginan untuk bercerita tentang luka dan warisan dalam keluarga, dalam bentuk yang tidak biasa.

Setelah GUIWU

Kini, ketika buku ini sudah berada di tangan pembaca, aku sering merenung. Apakah pembaca akan melihat GUIWU sebagai kisah horor, misteri, atau justru kisah tentang cinta dan kehilangan? Mungkin semuanya benar. Karena setiap orang akan menemukan “arwahnya” sendiri di dalam cerita ini.

Aku juga mulai menyadari bahwa GUIWU tidak berhenti di sini. Masih ada banyak rahasia yang belum terungkap, terutama tentang masa lalu Rhea dan rumah yang menunggunya di Red Rose. Dan entah bagaimana, aku tahu kisah itu belum selesai.

Penghargaan ini bukan akhir dari perjalanan, melainkan titik balik. Sebuah pengingat bahwa setiap cerita, sekecil apa pun, punya kesempatan untuk didengar jika kita berani menulisnya dengan jujur.

Jadi, kepada siapa pun yang sedang berjuang dengan naskahnya sendiri, aku hanya ingin mengatakan satu hal: “Tulis terus, bahkan saat kau takut. Karena terkadang, ketakutanlah yang membawa kita menemukan kebenaran.”

GUIWU — peraih Ahmad Tohari Awards 2025, diterbitkan oleh Omera Pustaka. Sebuah kisah tentang rumah tua, rahasia masa lalu, dan keberanian seorang gadis untuk membuka pintu yang seharusnya tetap tertutup.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top